My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
32. Kami Menang Pak



Pagi yang cerah, Resa sudah mempersiapkan sarapan pagi buat suaminya itu. Pagi ini Deon harus kerja kembali. Setelah kemarin izin satu harian. Resa dan Deon seolah masih tak percaya bahwa mereka sudah menikah.


“Tadi subuh, ada paket buat kamu, sepertinya baju dinas kamu hari ini.!” Kata Resa.


“Iya, tadi minta bik Sulas buat ngirim pakai ojek!” Jawab Deon.


“Em, bisa panggil suamimu ini mas, gak? Atau perlu diingatkan lagi kalau kamu sudah jadi istri!” sambung Deon.


“Iya sayang, aku akan panggil dengan sebutan Mas Deon!” kata Resa.


Sarapan pagi ini nasi goreng spesial. Ama dan Reni juga turut membantu. 


“Oh, ya, bisa enggak, kalau hari ini kalian tidak ke pasar dulu, cari anggota lah lagi, tapi jangan si kunyuk itu ya!” kata Deon


“Ye, udah nikah masih juga cemburu!” kata Resa.


“Kamu mau, aku eh mas, jadi lelaki dayus?” tanya Deon balik.


“O, ya sudah, nanti aku cari saja penggantinya, lagian Chandra juga main-main ke pasar, gak serius!” kata Resa.


“Iya, nih Uni, rasanya hari kemarin penuh dengan petualangan, tapi selalu ada hikmah di balik cobaan!”


“Kamu sudah cerita belum dengan Pandu, kejadian kemarin?” tanya Resa.


“Sudah Uni, dan dia sudah bisa bertugas di sini, minggu depan, jadi dia datang sore nanti, oh senangnya hatiku, turun panas demamku!” kata Reni diakhiri dengan bernyanyi.


Semua tertawa melihat ulah Reni.


*** 


“Kamu yang sabar ya, sayang, nanti sehabis resepsi kita akan bulan madu!’ ajak Deon.


“Iya, rencana bulan madu kemana nih?” tanya Resa.


“Rahasia, dong! Yang terpenting sekarang kita tunggu surat nikah selesai, buat kartu keluarga. Di sana ada nama kamu dan Mas, tanda kita sudah berumah tangga, aku kepala keluarga, kamu ibu rumah tangganya!” jelas Deon.


“Jadi, aku tidak boleh kerja?” tanya Resa sambil merapikan seragam kerja Deon.


“Boleh, tapi untuk sementara rehat saja dulu, memangnya istriku ini mau kerja apaan sih?” tanya Deon balik.


“Kalau bisa sih ngajar!” kata Resa.


“Udah, ngajar di saung saja, sama di yotu*e, saja. Nanti mas beli perlengkapan yang lebih keren, mau?” tawar Deon lagi.


Resa yang mendengarnya senyum-senyum karena Deon mulai membiasakan diri dengan kata Mas. Resa jadi teringat masa-masa dulu ketika ia mengajar Deon dengan segala kenakalannya. Sungguh ia tak pernah menyangka bahwa Deon adalah jodohnya kini.


“Kenapa senyum-senyum, mas makin gagah kan?” 


“Iya, makin gagah, makin aku cinta!” 


Mereka berpelukan seakan selalu ingin bersama.


“Kalau begini terus, mas kayaknya enggak jadi berangkat kerja nih!”


“Oh, ya Monggo toh, silakan!”


Resa mengantar Deon ke depan pintu. Deon menyodorkan tangannya. Resa tersenyum kembali. Iya mengambil uluran tangan Deon untuk dicium takzim.  Deon mencium kening dan pipinya Resa.


“Wah, Romantis sekali Deon itu, Uni!” kata Reni.


“Iya, Uni juga gak nyangka, dulu dia awut-awutan banget!” kata Resa diakhiri dengan tawanya.


***


Deon melangkahkan kakinya ke kantor. Beberapa mata tertuju padanya. Berita masuk rumah sakitnya Sesil menjadi perbincangan hangat di kantor ini. 


“Pak Deon, dipanggil pak Wahono ke ruangannya!” kata asisten pak Wahono.


Deon pun melangkahkan kaki ke ruangan pak Wahono. Ia berharap masalah ini segera selesai. Sebelum masuk Deon tak lupa mengetuk pintu. Setelah ada perintah masuk, baru Deon akan masuk.


“Assalamualaikum, pak, bapak memanggil saya?” tanya Deon tanpa gugup.


“Waalaikumsalam, ya, saya memanggil kamu!” 


“Kalian menang Deon, kami sudah kalah, nyawa Sesil hampir melayang karena keegoisan kami. Dan kamu, saya dengar sudah menikah, selamat Deon, segera urus keabsahannya, masukkan ke administrasi kantor!”


“Terimakasih, pak, percayalah, di dunia ini setiap kesalahan tidak ada yang luput dari balasan Allah, semoga kita masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya!” kata Deon.


Ada raut kesedihan di mata pak Wahono. Seolah Allah menegurnya dengan cara yang tak ia sangka-sangka. Putri kecilnya tidak lagi bisa diajak kompromi. Ia lupa bahwa anak itu hanya titipan, bukan miliknya seutuhnya. Ia berhak menentukan kehidupannya dengan segala konsekuensi yang harus ditanggungnya.


“Oh, boleh, tapi atas nama pribadi ya, sekalian bawa istrimu!”


“Siap, Pak!” kata Deon lalu meninggalkan ruangan itu.


Hari ini Deon bekerja dengan lancar. Ia sudah tak sabar melihat kekasih halalnya itu. Sebelum pulang kantor, ia tak lupa mengingatkan Resa untuk bersiap-siap ingin mengunjungi Sesil.


*** 


Sesampainya di rumah, Deon mandi. Lalu mengajak Resa pergi ke rumah sakit.


“Kita ke rumah sakit dulu ya, nanti pulang itu kita makan malam!” kata Deon.


“Makannya di hotel lagi?” tanya Resa.


“Memangnya mau, kalau mau ayo, besok liburkan, biar mas yang pamit sama Ama!” kata Deon.


“Iya, terserah mas saja, asal jangan boros saja, gaji pegawai negeri tak sebesar gaji CEO!” 


“Kalau untuk itu, masih cukup lah, gini-gini mas juga punya sampingan kok!”


“Ah apa iya, kok aku gak tau ya?” tanya Resa.


“Nanti saja habis bulan madu, kita ke sana, yuk kita berangkat lagi!”


“Ama, kami berangkat lagi ya, Deon ngajak Resa nginap di Hotel boleh Ama?” tanya Deon.


“Boleh, mana kalian suka saja, yang penting kalian bahagia!” kata Ama.


“Duh, yang pacaran nya makin bar-bar!” ledek Reni.


“Apaan sih kamu, ntar kamu juga ngerasain!” jawab Resa sambil menyentil hidung Reni.


*** 


Deon menjalankan mobilnya ke rumah sakit tempat Sesil dirawat. Lalu ia menanyakan ruang perawatan Sesil pada petugas rumah sakit. Deon melihat satrio sudah ada di sana.


“Assalamualaikum!” Deon izin masuk ke ruangan.


Di dalam ruangan VIP itu sudah ada Satrio. Deon menyapa mereka.


“Hai, bro, apa kabar, kapan sampai?” tanya Deon.


“Kabar baik, tak lama sebelum lu tiba bro!” jawab Satrio.


“Eh, mana nih keluarga Sesil!” tanya Deon.


“Keluarga Sesil sudah pulang. Mereka meminta gue untuk jagain Sesil sampai besok pagi mereka datang kembali, ya, biasalah, mungkin mereka lelah!” jawab Satrio.


“Eh, Deon, apa kabar lu, trus itu siapa?” tanya Sesil.


“Oh, ya, kenalin ini, Resa, istri gue!” kata Deon bangga.


Resa lalu bersalaman dengan Sesil, namun menangkupkan tangannya ke arah Satrio.


“Pantesan lu enggak mau sama gue, Deon, cantik begini!” kata Sesil.


“Emangnya kalau Deon mau lu mau nikah gitu sama Dia?”


“Ya, enggak gitu juga kali, kan gue sayangnya cuma ke lu, jangan marah gitu dong sayang, cup-cup-cup!” kata Sesil manja.


Mereka yang diruang itu pun tertawa.


“Eh, elu ya, nekat banget pakai acara mo bunuh diri segala, tobat lo, minta ampun sama Allah, masa’ masalah kayak gini aja mau mati segala!” kata Deon agak marah.


“Habisnya sih lo, enggak ada pergerakan, ya terpaksa kayak gini gue. Ini aja  gue minta bokap untuk bolehin Satrio kesini sekalian minta bokap merestui hubungan kami!” jelas Sesil.


“Trus direstui?” tanya Deon


“Ya, iyalah, besok gue nikah cing!” kata Satrio


“Beneran!” tanya Deon memastikan.


“Iya, orang tua gue juga sekarang dalam perjalanan ke Jakarta!”


“Wah, selamat ya, ternyata kita sama-sama nikah!”


Mereka tertawa bersama. Mereka tak habis pikir ternyata kekuasaan bisa kalah hanya dengan pemikiran kekanak-kanakan.