My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
43. Refresing Dinas Luar



Deon mengangkat teleponnya yang berdering. Foto di layar handphone membuat Deon sedikit terkejut. 


"Hallo, Assalamualaikum!" sapa Deon.


"Waalaikumsalam, dengan Deon?" tanya orang di seberang sana.


"Iya, benar, saya sendiri!" jawab Deon.


"Saya, Kinanti, langsung saja ya, saya cuma mau bilang, jaga jarak dengan ibu saya, buk Beby!" kata anak buk Beby itu.


"Kenapa?" tanya Deon, walaupun dia sudah tahu kemana arah perkataan Kinanti itu.


"Apa rumah tangga kamu harus hancur dulu, baru kamu tahu jawabannya!" kata Kinanti.


"Ow, terimakasih. Sampai hari ini saya hanya menganggap buk Beby hanya atasan saya, insyaallah saya masih jaga diri!" kata Deon.


"Oke, saya pegang kata-kata kamu, Deon!" kata Kinanti. Lalu menutup teleponnya.


Deon tak menyangka akan ditelepon oleh anak atasannya itu.


"Siapa tadi sayang yang menelepon?" tanya Resa ke suaminya itu.


"Hem, anaknya buk Beby!" jawab Deon.


"Wah, suamiku hebat ya, dideketin ibu sama anaknya sekaligus!" Resa meledek Deon.


Deon tersenyum. "Kamu cemburu?" tanya Deon pada istrinya.


"Selagi boleh cemburu, ya istrimu ini cemburu, kalau gak boleh cemburu ya, gakkan cemburu!" kata Resa.


Deon tertawa geli mendengar perkataan Resa.


"Jadi, gak ini ke tokonya?" kata Deon.


"Jadi dong, nih semua amunisi sudah dibawa!" kata Resa, perlengkapan yang dibawa tak ubahnya seperti hendak piknik saja.


Ya, Deon akan menemani Resa di toko jika hari libur. 


***


Sesampainya di toko, pegawai sudah mulai aktif melayani pelanggan. Dari hari libur seperti ini memang tokonya akan selalu ramai.


Resa membantu pegawainya. Sementara Deon sibuk dengan laptopnya di lantai dua. Deon masih memiliki pekerjaan untuk yang akan dibawanya Senin besok ke Bandung. 


Iseng-iseng Deon menelepon supir kantor.


"Assalamualaikum, pak Deon!" sapa penerima telepon di ujung sana.


"Maaf, pak, bapak ada kegiatan apa hari Senin besok pak?" tanya Deon.


"Wah, saya gak kemana-mana, pak, palingan di kantor, soalnya kata buk Beby, Senin beliau akan ke Bandung dengan Bapak!" kata pak Yono.


"Kalau saya minta tolong dengan bapak boleh, pokoknya adalah tips buat bapak, tapi jangan bilang-bilang dengan buk Beby?"


"Minta tolong apa itu, pak?" tanya Pak Yono.


Deon menjelaskan perintahnya.


"Baik, pak!" jawab pak Yono, membuat lega hati Deon. 


Di toko ini sudah di set oleh Resa ruang yang nyaman untuk beristirahat jika mereka datang ke ruko. Jadi memang sangat terkesan nyaman. Malah Resa sudah melengkapinya dengan AC. Terkadang Resa tak jarang tidur di ruangan itu, ditambah lagi kondisi kehamilannya yang masih muda membuat dirinya sedikit lebih cepat merasa letih.


“Sudah, selesai, Sa?” tanya suaminya itu.


“Sudah sayang, ayuk kita pulang lagi!” kata Resa sambil membawa berkas yang diperlukannya untuk disimpan.


“Jangan lupa, ya kita siap-siap pergi ke Bandung, nanti malam!” kata Deon.


“Ashiap, kekasih halal!” Deon tersenyum dan mengelus-elus kepala Resa, mendengar kata-kata istrinya itu.


Deon tak menyangka, wanita yang dulu dikenalnya sangat tegas dan mandiri, bisa menjadi paling manja di hadapannya. Namun, Deon sangat suka itu. Ia berasa rumah tangganya makin hidup, dengan kelakuan lelucuan yang mereka buat.


***


Resa mempersiapkan pakaiannya dan pakaian Deon.  Mereka merasa akan ada gangguan pada rumah tangganya, dengan gelagat dan gosip aneh yang beredar dikantor Jecko. Rekam jejak atasannya itu dalam hal perselingkuhannya pun tak dapat dianggap angin lalu. Menurut mereka, lebih cepat, lebih baik, sebelum fitnah yang sesungguhnya datang dari arah yang disangka-sangka, yang nantinya justru lebih sulit untuk dikalahkan, mengingat banyak orang yang berkuasa mampu menghalalkan segala cara untuk dapat apa yang inginkan.


“Ama dan Reni, sudah siap sayang?” tanya Deon.


“Sudah, tuh mereka sudah gaya!” kata Resa.


Mereka berangkat setelah solat magrib. Di jalanan kendaraan masih sibuk mengantarkan sang pengemudi pulang ke rumahnya untuk mengantarkan penatnya. Sepertinya kota ini tidak ada hari liburnya. Di mobil ini, Deon menyetir sendiri. Berhubung semua berkas yang dia akan sampaikan di presentasi besok pagi sudah ia pelajari, dan sudah ia duplikasikan dengan ibuk Beby, jadi Deon bisa mengemudi dengan santai. Sesekali mereka berhenti di rest Area.


“Deon, kok kamu ngajak kami jalan, ketika hari efektif kerja?” tanya Ama.


“Hem, Deon ingin mengajak saja, Ama, soalnya sayang kalau Resa ditinggal-tinggal terus, ini juga bisa sekalian jalan-jalan. Nanti kalau agak senggang waktunya, Deon pasti ikut.!” Kata Deon menenangkan.


“Ow, berati siangnya kami kemana-mana naik taksi online saja, ya Deon?”tanya Ama lagi.


“Iya, Ama, bisa juga!” kata Deon.


“Deon ada rapat terbatas, Ama, diskusinya sampai tiga hari, di hotel yang sama dengan yang kita pesan tadi. Ama, yang sabar ya, beginilah pekerjaan menantu, Ama!” kata Deon lagi.


“Iya, tidak apa-apa yang penting kamu tanggung jawab dengan istri dan anakmu!” kata Ama menasehati.


Akhirnya mereka sampai ke hotel yang di maksud. Mereka memesan dua kamar. Untuk Resa dan Deon serta untuk Ama dan Reni. Reni sendiri sudah minta izin ke Pandu, bahwa iia akan liburan di Bandung. Namun, berhubung kerjaan Pandu lagi banyak, jadi Pandu tidak bisa menemani mereka.


Kamar yang dipesan Deon bersebelahan dengan kamar Ama dan Reni. Sesampainya di kamar, Deon dan Resa membersihkan dulu badan mereka. Setelah itu, tidak beberapa lama, minuman hangat yang di pesan Deon untuk dua kamar, kamarnya dan kamar Ama.


Udara kota Bandung malam itu, sama seperti malam-malam biasanya, lebih dingin dari udara di Jakarta. Deon mengajak Resa menikmati kerlap-kerlipnya kota Bandung dari ketinggian daerah Bandung Utara. Hotel ini sangat memanjakan pengunjungnya. Dengan hanya berdiri di balkon kamar, kota Bandung sudah terlihat.


Sedang asyik-asyiknya mereka bermesraan di balkon kamarnya itu, ada panggilan masuk di telepon ke handphone Deon.


“Nyah Kunti, nelepon, Sa, diem ya!” kata Deon ketika akan mengangkat telepon dari buk Beby Atasannya itu. Resa yang mendengar panggilan horor dari Deon untuk atasannya itu, hampir keceplosan tertawa.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, ada apa buk telepon malam-malam begini?” kata Deon.


“Enggak, Deon, bisa tidak ya, kamu datang ke rumah, kita bahas persiapan presentasi untuk besok, kamu nginap saja di rumah ibu, jadi kita berangkat langsung dari sini, jadi tak perlu lagi memanggil pak Yono!” kata buk Beby.


“Ya, ampun, ibuk, kenapa tidak bilang dari kemarin, sekarang saya justru sudah di Bandung, saya takut kesiangan, makanya saya datang duluan!’ kata Deon berkilah. “Ih, kok ada ya atasan ngajak bawahan prianya nginap di rumahnya, hello buk Kunti, apa gunanya VC atau aplikasi video konferensi diciptakan?” kata Deon dalam hati geli.


“Apa, kamu sudah di Bandung?” tanya buk Beby tak percaya.


“Iya, ibu, besok pagi, ibuk diantar saja dengan pak Yono, buk!” kata Deon.


“Oh, ya sudah, di sana kita nginap tiga hari, bukan?” kata buk Beby.


“Iya, buk, tiga hari!” kata Deon ,meyakinkan buk Beby.


“Oke, tunggu saya di sana!” buk Beby lalu mematikan ponselnya itu.


Deon dan Resa pun tertawa geli mendengar gelagat buk Beby.