
Sudah lebih tiga tahun Resa menjalani hari-harinya di Pasar Tanah Abang. Di selal-sela berjualan Resa juga akan mengajar anak-anak saung sesekali. Dan untuk mengobati rindunya mengajar, Resa membuat konten pembelajaran di Aplikasi, dan bersyukur Resa sudah mulai mendapat penghasilan dari kontennya tersebut. Omzet penjualannya pun dari hari ke hari semakin baik. Ia tidak berjualan secara offline saja, tetapi juga secara on-line yang dibantu oleh Reni. Jika sedang liburan, Reni pasti akan ke Jakarta. Hubungan Reni dengan dokter Pandu semakin baik. Mereka juga mengatakan ingin menikah, jika Reni sudah selesai kuliah. Rencananya Dokter Pandu akan melanjutkan studi dan bekerja di Jakarta. Resa sangat senang sekali mendengar kebahagiaan adiknya itu.
Siang ini, pembeli lagi sepi. Resa sibuk mengecek barang-barang yang ada di tokonya.
“Assalamualaikum!” sapa seorang yang berusia sekitar 22 tahun. Berperawakan tinggi dan manis.
“Waalaikumsalam, mau cari apa?” jawab Resa.
“Saya mau mencari guru saya!” jawab orang itu.
“hem, kamu siapa ya? Apa kita pernah jumpa?”
“Miss dah lupa sama saya, saya Candra Miss, siswa Miss dari Padang?” tanya pria itu kembali.
Mendengar nama itu Resa langsung bertanya “Mau apa kamu ke sini?” tanya Resa agak kesal. Sementara Resa melayani kedatangan Candra, Ama mengambil alih pekerjaan Resa.
Perawakan kurus dan dekil, kini tak terlihat dari Candra yang masih sekolah. Kini ia terlihat putih, badannya mulai terisi serta tampilannya menjadi intelek dengan kemeja putihnya. Tatanan rambutnya yang berubah membuat dia terlihat dewasa.
“Saya mau minta maaf, Miss, Miss benar saya hanya bulu halus di bawah ketiak papa, bau dan patut dibuang, maafkan saya Miss, saya telah menghina Miss dulu, dan yang terakhir, saya lah yang naik banana boat yang menabrak ibunya miss, saya menyesal Miss!” kata Candra panjang lebar.
“Oo, jadi itu ulah kamu, kurang ajar juga kamu ya, kalau kamu tak suka dengan saya, jangan keluarga saya yang kamu teror, bersyukur ternyata Ama saya tidak apa-apa, trus foto saya dengan pak Riswan itu bisa ada, apa itu ulah kamu juga?” tanya Resa penasaran.
“Bukan Miss, saya tidak tau soal itu!” jawab Candra. “Saya minta maaf, Miss saya benar-benar minta maaf, telah mencoba mencelakai Ibu Miss” kata Candra sambil berlutut, membuat perhatian orang-orang yang lewat maupun para penjual di pasar.
“Ada apa ini, Uni?” tanya Ama melihat Candra berlutut pada Resa.
“Ini Ama, ternyata dialah orang yang menabrak Ama waktu di pantai kemarin, Ama!”
Candra pun bersimpuh pada Ama. “Maafkan saya, Bu, maafkan saya, saya memang salah!”
“Sudah, sudah, Ama maafkan, lain kali jangan dibuat lagi, kamu bisa mengancam keselamatan seseorang!” jawab Ama.
“Kamu dari mana ini?” tanya Ama lagi sambil memberikan kursi dan minuman pada Candra.
“Saya dari kampus Bu, sudah sejak tamat sekolah kemarin saya mencari Miss Re. Cuma baru sekarang saya memberanikan diri memohon maaf pada ibu, saya merasa tersiksa dengan kesalahan saya ini bu, sekali lagi saya minta maaf!”
“Iya, sudah, jangan minta maaf terus, bosan Ama dengarnya, nanti Ama suruh pula kamu jaga lapak Ama ini, sebagai permintaan maaf kamu!”
“Gak, apa-apa Ama, saya malah senang, asal Ama memaafkan saya!” kata Candra sambil memeluk Ama.
Resa yang melihat adegan itu, hanya bisa ketawa dan geleng-geleng kepala.
Melihat beberapa pembeli yang datang, Candra pun turut membantu dengan teriak-teriak memenggil pelanggan.
“Dipilih-dipilih, tinggal pilih, tinggal pilih, habis dipilih, jangan ditinggalin, yang jauh mendekat, yang dekat merapat!” teriak Candra memanggil pelanggan membuat beberapa pelanggan yang lewat tertawa dan ada juga yang singgah.
“Wah, Uni ada anggota baru, eS tiga marketing, kayaknya!” kata penjual yang berada di lapak depan.
“Wah, Uni curang, masa’ bawa kompor boy jualan, nanti punya kami gak laku lagi!” kata yang di depannya lagi.
“Coba dulu ceritakan, bagaimana bisa kamu sampai kesini!” tanya Resa ketika pembeli sepi kembali.
“Selesai kuliah, saya minta sama papa untuk kuliah di Jakarta, dan beliau menyetujuinya. Saya Cuma ingin mintaa maaf sama Miss, saya tau alamat Miss, saya minta foto kopi KTP yang Miss serahkan saat melamar pekerjaan di sekolah, bersyukur pak Riswan masih menyimpan berkas itu. Atau memang pak Riswan suka kali sama Miss?”
“Saya itu cuma nakal dan dekil Miss, bukan bodoh!” jawaban Candra membuat Resa tak jadi mengambil makanan yang disediakan Ama untuk cemilan.
“Kenapa, Miss!” tanya Candra.
“Ah, enggak, Miss juga punya siswa yang kayak gitu, hem, sudahlah, gak usah dipikirkan!”
“Sudah, tak usah dipikirkan, kita tak sepantaran sama mereka, tidak selevel lah, bahasanya, nanti Ama carikan yang bisa menerima kita apa adanya!” potong Ama. Ama paling tak bisa lihat Resa selalu mengingat Deon. Terkadang Ama masih sakit hati, jika ingat kelakuan orang tua Deon ke anaknya.
Candra hanya diam, ia sadar bukan waktunya ikut campur dengan orang lain.
“Mau, sampai kapan kamu di sini Candra, kami mau tutup lapak lagi, sudah hampir jam lima ini?” tanya Resa.
“Gak, papa Miss, nanti saya bantu nutupinnya!”jawab Candra.
“Ya udah, nanti kalau pingsan bagaimana, saya tak tanggung jawab!”
“Hem, kayaknya canggung banget ya, pakai saya, saya gitu Miss, pakai aku aja ngomongnya juga gak apa-apa, kok?” tanya Candra sambil memasukkan barang yang ada diluar lapak.
“Ah, malu, udah tua lagi, sok-sok muda!”
“Ya, udah, aku ngomong kayak gini ya, rasa patah-patah nih lidah, ngomong saya, saya!” kata candra diakhiri dengan tawa.
“Terserah, saja”
Setelah menutup lapaknya. Ama bilang ia ingin ke rumah saudaranya yang mau hajatan, jadi mereka terpisah setelah keluar dari pasar.
“Hem, biar saya antar saja Miss?” tawar Candra pada Resa.
“Emang naik, apa?”
“Aku parkir di depan tuh, naik motor aja, bandara jauh, payah markirkan pesawat!”
“Ye, bisa aja kamu, mah, oke, aku tunggu disini ya!” jawab Resa.
“Hah, kan enak gitu, tunggu aku di sini ya!”
Resa naik ke motor buatan jepang tersebut. Sisa bangku yang sedikit naik dari jok depan membuat Resa agak susah duduk.
“Eh, kamu beli motor kok kayak gini, sih, susah banget nih mau duduk, mending aku naik angkot aja atau ojol deh!”
“Haha, kalau naik motor kayak gini, ya mesti ikut duduknya kayak yang bawa motor, nyandar deh!”
“Ah, gak, males!” jawab Resa lalu menunjukkan arah rumahnya.
“Akhirnya, nyampai juga!” ucap Resa.
Candra pun pamit. Resa bersyukur untuk hari ini. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan Candra., yang akhirnya dia tau siapa yang menabrak Ama saat sedang di Angso dou tiga tahun lalu. Tapi kadang ia juga bersyukur mungkin karena hentakan saat tertabrak itu, Ama semakin sehat.
“Ah, Allah selalu memberikan nikmat, bagi hambaNya yang bersyukur”. Resa bergumam dalam hati.