
"Ini vitamin buat kamu, Mas!" kata Resa menunjukkan vitamin buat Deon.
"Untuk apa itu?" tanya Deon.
"Biar kuat menghadapi kenyataan, ya buat badan segar atuh, Mas!" kata Resa kesal masa' suaminya tak tahu vitamin buat apa?.
"Ih, jawabnya kok sewot amat, kamu lagi M ya?" tanya Deon.
Resa pun berpikir, setelah mereka menikah sudah lebih satu bulan ini, ia tidak pernah datang bulan. Tidak rugi juga ia di apotek tadi telah membeli tes kehamilan. "Nanti saja di tes di rumah kalau hamil, nanti aku kasih kejutan buat dia, hihihi!" kata Resa dalam hati.
"Hei, ditanyain mah diam, makanya jangan suka sewot!" kata Deon.
***
Subuh Resa terbangun, hal yang pertama kali ia lakukan adalah mengecek kehamilannya dengan menggunakan test pack.
Perlahan-lahan garis dua merah tercipta. Resa kegirangan. "Ye, harus buat kejutan nih, buat suami tercinta!"
Resa mempersiapkan sarapan pagi buat para penghuni rumah. Kali ini penyajiannya dibuat berbeda. Yang biasanya nasi Deon sudah diporsikan dalam piring kali ini piringnya ditelungkupkan. Biasanya banyak juga pasangan yang melakukan kejutan seperti ini. Tapi, Resa tahu, Deon tidak ngeh untuk cerita macam begitu.
"Loh, kok nggak dihidang nasinya gorengnya?" tanya Deon.
Resa memang menyukai nasi goreng. Nasi goreng setiap pagi yang mereka hidang sering bervariasi. Dari nasi goreng sederhana hingga nasi goreng oriental.
"Lagi M!" kata Resa memasang muka sewotnya.
"Loh, bukannya tadi pagi….!" Resa buru-buru menutup mulut Deon takut keceplosan masalah mandi wajibnya.
"Maksud Mas, bukannya tadi pagi solat subuh ya?" kata Deon melegakan Resa.
"Iya.. M yang ini bukan yang itu, ini M artinya Malas!"
"Oh ya sudah, kalau lagi malas, biar Mas ambil sendiri!" kata Deon tanpa marah. Ia lalu membalikkan piring nya itu. Ketika membalikkan piring,melihat ada amplop berwarna putih.
"Oh, jadi pagi ini mau sarapan amplop gitu?" katanya sambil membuka amplop itu.
Resa yang melihatnya tersenyum.
"Selamat, Anda akan menjadi ayah!" Diejanya kata dalam surat itu yang sudah dilengkapi dengan tes pack milik Resa tadi.
"Hem, mau ngerjain ya, nakal ya, sudah aku mau makan dulu nih!" kata Deon.
"Kamu gak senang?" tanya Resa.
"Nanti aja kalau mau ngeprank!" kata Deon.
"Aku sudah lapar." katanya lagi sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Oh!" hanya itu yang keluar dari mulutnya Resa. Sedikit heran, sedikit kecewa. Kok ada ya suami yang tak senang saat diberitahu kalau istrinya sedang mengandung anaknya.
Pagi itu hanya mereka berdua di ruang makan. Ama dan Reni pergi menginap ke rumah saudara yang mengadakan hajatan.
"Hem, sudah selesai sarapannya ya, sekarang Mas mau ke kantor dulu ya!" kata Deon.
"Mas, mas, aku beneran hamil loh!" kata Resa.
"Mas…, atau kamu gak suka dengan anak ini!" kata Resa sambil menahan bulir kristal di matanya itu.
Deon yang takut kesehatan Resa menurun dan akan berakibat fatal buat kandungannya pun segera memeluknya.
"Aku, percaya kok, terimakasih buat surprise nya, jangan nangis dong, nanti Dede bayi nangis!" kata Deon.
"Habisnya, papanya juga ngeprank"! kata Resa balik.
"Iya, satu sama ya kita. Pulang kerja nanti kita periksa kandungan ya!" Kata Deon. Setelah berpamitan pada Resa, Deon melajukan mobilnya ke kantor. Sudah hampir satu bulan penanganan kasus papa Deon dan papanya Sesil. Namun, belum sampai ke persidangan.
Hari ini ada rapat bersama atasan baru Deon, pengganti pak Wahono. Deon tidak tahu siapa yang dimaksud. Katanya dia punya kekerabatan yang dekat dengan penguasa negeri ini sekarang.
Deon masuk langsung ke Aula kantor. Acara penyerahan atasan baru itu, dibuka oleh bapak gubernur. Setelah memperkenalkan diri, barulah Deon mengetahui bahwa atasannya itu berusia sekitar hampir 50 tahun. Wajahnya yang babyface mampu membuat dirinya seakan berusia 30 tahun.
Bapak gubernur menjamin tidak ada intervensi siapapun dengan jabatan wanita yang bernama Beby Gautama, M.T.
Sekretaris kantor langsung membuka pertemuan tertutup pada petinggi di kantor ini. Deon lalu masuk ke ruangannya. Ruangan kerja Deon memang ada beberapa orang menempati. Namun, sering dinas luar. Karena Deon termasuk pegawai baru, jadi dia belum mendapat porsi pekerjaan yang tetap.
Iseng-iseng Deon membuka jejak digital sang atasannya sekarang. Ia Ingin tahu saja karakter atasannya. Diketiknya nama atasannya itu. Keluar entah berapa banyaknya prestasi yang ia torehkan dalam dunia pemerintahan. Sepertinya Deon memang kurang pergaulan masalah ini. Mungkin karena atasannya hanya seorang pegawai negeri jadi namanya tidak setenar orang yang berada di dunia politik.
Dari statusnya itu, Deon mengetahui jika atasannya itu seorang janda. Tampaknya ia lebih memikirkan karirnya. Hal itu dapat dilihat dari postingan-postingannya di media sosial. Dilihatnya sebuah swa foto atasannya itu. Banyak yang memuji kecantikannya.
Sudah dua jam setelah rapat tertutup diadakan. Selang beberapa waktu, Deon dipanggil oleh sekretaris kantor.
"Pak Deon, ibu kepala kantor meminta bapak untuk menjadi asisten pribadinya!" kata sekretaris kantor itu membuatnya terkejut.
"Me...mengapa harus saya pak?" tanya Deon.
"Saya tidak tahu pak, tapi tadi beliau pun tidak meminta rekomendasi saya untuk memilih pegawai yang ada, ya sudah pak, syukuri saja. Mudah-mudahan kinerja kalian berdua makin bagus.!" kata bapak yang bernama Yanda itu.
Memang rekan-rekan Deon banyak juga yang diminta menjadi asisten kepala kantor mereka, ya alasannya lulusan baru itu masih bisa ditekan dan sangat loyal dalam bekerja. Kalau yang tua tua kan, banyak pula keluhannya. Apalagi jika uang masuk kurang, padahal sudah dijelaskan di depan kantor, "TOLAK GRATIFIKASI!". Sebuah tulisan klise nampaknya.
Wanita berhijab gold senada dengan seragam berwarna khakinya, sudah menunggu di ruang kerjanya. Hal itu nampak dari sela-sela pintu yang terbuka. Sepertinya baru ada yang masuk.
Saat hendak membuka pintu, ada sosok Juwita dengan raut kesalnya. Belum sempat ia menyapa Juwita ada panggilan dari dalam.
"Masuk pak Deon!" kalimat tersebut mampu membuat Deon keringatan kembali. Secepat itukah ibu itu tampak akrab pada bawahannya, padahal baru hari ini kerja. Deon pun melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.
"Silakan duduk!" kata atasan barunya itu. Lalu Deon pun memundurkan sedikit kursi yang ada di depannya itu untuk ia duduki dengan nyaman.
"Deon Ananda Putra Wira Kusuma!" kata atasannya itu.
"Iya Bu!" jawab Deon, "serasa mau ujian skripsi nih!" gumamnya dalam hati.
"Ada hubungan apa dengan Wira Kusuma?" tanya atasannya itu kembali.
"Saya anaknya Bu!" jawab Deon.
"Wah, tidak menyangka akan berjumpa dengan cara seperti ini!" kata atasannya itu.
Sungguh Deon tidak mengerti maksud perkataan atasannya itu. Namun, sepertinya memang atasannya itu orang yang profesional. Ia tidak memperpanjang basa-basinya dan langsung memberikan instruksi yang akan mereka kerjakan. "Hem, pantas saja Juwita cemberut, bukankah ini pekerjaannya kemarin". gumam Deon dalam hati lagi.