My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
18. Kena Semprot Lagi



Dengan langkah terburu-buru, Resa ke ruangan rawat Ama. Di sana sudah ada dokter Pandu dan Reni. Mereka sedang merapikan perlengkapan Ama.


Melihat raut muka kakaknya yang tak biasa membuat Reni bertanya.


"Mengapa, itu muka ditekuk, harusnya senang bukan, Ama sudah bisa pulang!" 


"Hem, coba lihat ini, ada yang mencoba menjahili Uni di sekolah, ditambah lagi, Uni didatangi istri wakil kepala sekolah lagi. Jilbab Uni pun sampai kucel ditariknya!" Ada sedikit air mata Resa yang keluar.


"Astaghfirullah, kok bisa, bukankah ini foto-foto kita kemarin!" Reni memperhatikan foto-foto tersebut. Dokter Pandu pun melihat dengan seksama.


"Apakah ada mata-mata, kayak Artis aja, atau ada yang iri dengan Uni Resa!" tanya Reni dengan penasaran.


"Itu lagi kenapa pula, istri atasan Uni marah!"


sambung Reni


"Dia menuduh suaminya selingkuh dengan Uni!" 


"Sabar, ya Uni!" ucap Reni dengan empati.


"Oh, ya Ren, saya selesaikan dulu administrasi!" ucap dokter Pandu.


"Ah, dokter, dimana-mana itu yang bayar administrasi keluarga pasien, bukan dokter nya!" ucap Reni.


"Enggak usah dokter, lagian biaya perawatan Ama itu sudah ditanggung Kementerian Kesehatan, uangnya sudah diberi kok sama Uni Resa, dua ratus juta!" sambung Reni bangga.


"Dua ratus juta?" dokter Pandu tak percaya dengan kata-kata Reni.


"Iya, dokter Pandu yang tampan, kalau gak percaya nanti Reni tunjukkan buku tabungan Uni Resa. Di sana sudah termasuk biaya untuk pengobatan Ama.!" jelas Reni lagi 


"Tapi, Ren, yang saya tahu, Kementerian Kesehatan tidak pernah memberikan fasilitas kesehatan dengan uang tunai!"


"Jadi maksud dokter bagaimana?"


"Iya, Kementerian Kesehatan hanya memberikan fasilitas gratis, bukan uang tunai.!" jelas dokter Pandu kembali.


"Begini saja, coba kita lacak saja pemberi uang tunai itu, Uni bisa minta rekening korannya agar bisa diketahui siapa yang mengirimnya, takutnya saya itu malah dana pencucian uang!" kata dokter Pandu.


"Ah, dokter jangan nakut-nakuti!". Kami ini gak ada punya musuh, loh dok!"


"Gini saja, kita sekarang pulang, besok Uni bisa mengecek nya di bank!"


Mereka pun pulang setelah menyelesaikan administrasi yang dibayar oleh Resa.


Resa sungguh bertanya-tanya, apa benar yang dikatakan oleh dokter Pandu. Ah, rasanya tak sabar menunggu hari esok.


***


Resa menimbang-nimbang handphone yang ada di tangannya. Dari tadi tangannya hendak memencet nomor hape Deon. Ia coba menyentuh nomor itu. Nomor orang yang ia rindukan.


'Telepon yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi! hati Resa berdebar tidak karuan. Baru operator yang menjawab, apalagi jika yang menjawabnya adalah Deon. 


"Kemana, kamu Deon, sudah lama tidak menghubungi ku!" Resa membatin.


Tiba-tiba ada panggilan masuk ke handphone milik Resa.


"Ah, dari Deon!" Resa terasa terkejut dan bahagia.


"Hallo!" ucapnya pelan. Di seberang sana pun tidak bersuara. Hanya suara nafas yang terdengar.


"Deon? Are You Oke?" Tanya Resa kembali. 


Masih ada juga terdengar suara nafas seseorang di sana. 


"Deon, jawab aku!" kata Resa.


Tiba-tiba telepon terputus. Resa menekan nomor itu kembali. Namun telepon telah tidak aktif.


Dengan kemelut kejadian hari ini, rasanya Resa ingin ada tempat bersandar. Masih ingat dia waktu dulu, bagaimana cemoohan orang, karena Deon menyukainya. Ada yang meledeknya karena dianggap menyukai berondong, Deon dengan sigap menggenggam tangan Resa. Ia meyakinkan Resa, bahwa gak kan ada yang sanggup mencemooh dirinya ketika Deon sudah ada di dekatnya.


"Kamu bohong Deon, kamu bilang kamu akan selalu ada, tetapi sekarang kamu dimana?" Ah, Resa sudah seperti mengharap betul pertemuan dia ke Deon.


***


Resa mengambil nomor antrian di sebuah bank milik pemerintah. Setelah nomor antrian miliknya dipanggil, ia duduk berhadapan dengan seorang pelayanan pelanggan.


"Selamat pagi Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan Bank itu dengan ramah.


"Begini Bu, beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman uang sebesar 200 juta ke rekening saya. Saya mau tanya siapakah yang mentransfer uang tersebut Bu?" Resa berharap memang Kementerian Kesehatanlah yang mengirimkan untuk pengobatan Ama nya.


Resa menunggu beberapa waktu kemudian.


"Setelah diperiksa, nama orang yang mengirimkannya adalah Sandi Herbima, itu saja Bu informasi yang dapat saya sampaikan, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan Bank tersebut.


"Kalau alamat orang tersebut bisa saya tau Bu?"  tanya Resa.


"Maaf, Bu, sepertinya beliau menyetor dengan uang kes, jadi identitasnya hanya ada di cabang dia menyetorkan uang. Lagipula Bank tidak diperkenankan memberikan data yang berupa data KTP seseorang, Bu!"


"Kalau begitu saya permisi ya terimakasih atas bantuannya!"


"Sama-sama Bu!" 


****


Hari ini Resa memang tak sekolah, ia masih trauma dengan kejadian kemarin. Tetapi pihak sekolah mengharapkan kehadiran Resa esok hari di sekolah. "Entahlah, mungkin mereka ingin mendudukkan masalah kemarin!" batin Resa.


Sesampainya di depan pintu rumah, Resa menghidu aroma rendang khas buatan Ama. Resa berpikir, siapa yang memasak, sementara Reni masih di kampus. Sedangkan Uwo sudah mulai mengurangi masakan bersantan akibat kolesterol yang ia miliki.


"Assalamu'alaikum!" 


"Waalaikumussalam!" jawab Uwo.


Uwo melangkah ke depan, sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Ama, Resa, Ama udah mau masak dia!" rasa haru terpancar di mata Uwo. 


"Alhamdulillah, Uwo, akhirnya doa kita mulai dijabah oleh Allah!" ucap Resa dengan mata berkaca-kaca.


"Ama, ngapain?"


"Masak, dokter!" dua kata itu membuat sontak Resa. Ia mengerti maksud Ama.


Resa segera menelepon dokter Pandu. 


"Assalamu'alaikum, dokter, makan siang di rumah ya, Ama masak buat pak dokter!"


"Benarkah?" tanya Pandu tak percaya.


Resa mengirimkan foto Ama yang sedang masak tanpa sepengetahuan beliau, lalu mengirimkan ke dokter Pandu.


"Baiklah, kalau begitu!"


"Oh, ya Uwo, Reni bilang gak, dia pulang pukul berapa?"


"Reni bilang dia pulang sekitar pukul sebelas lewat!"


Selang sejam kemudian dokter Pandu tiba. Reni pun sudah di rumah.


Mereka makan dengan lahapnya. Pandu yang menyukai rendang bertambah dua kali. 


"Enak, Ama, Pandu tambah ya!"


"Iya!" jawab Ama dengan senyum.


Belum selesai mereka beranjak dari meja makan, pintu depan ada yang mengetuk. 


"Pandu, Pandu, keluar kamu!"


"Astaghfirullah, apa lagi ini?" tanya Resa dalam hati.


Mereka ke depan. Resa mengode Uwo, agar membawa Ama ke kamar.


"Ngapain kamu kesini, Salma?" tanya Pandu.


"Pantesan saja ya, kamu sudah tak ada waktu denganku lagi, ternyata pacaran dengan anak orang gila, dasar gadis-gadis genit, gak bisa lihat orang berduit!" teriakan Salma, mengundang beberapa orang terdekat dengan rumah Resa datang.


"Siapa yang gila!" tiba-tiba Ama datang dari belakang.


"Pergi kau dari sini! atau kucabik-cabik mulutmu, kau tau orang gila kebal hukum!" jawaban Ama membuat semua orang terkejut.


Lantas tetangga yang melihat pun ikut mengusir wanita bernama Salwa itu.


"Pergi kau, atau kau pulang sudah tak utuh lagi!" ancam tetangga Resa.


"Aku tunggu kamu di kantor Pandu!"


Salwa pun pergi berlalu pergi dengan sombongnya.