My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
26. Heart to heart



Papa Deon sudah di rumah. Beliau menanyakan tentang penanganan kasus mamanya.


"Pa, ceraikan mama segera!" kata Deon pada papanya ketika sedang sarapan pagi di ruang makan.


"Kenapa papa harus menceraikan mama?" tanya papa Deon.


"Mama sudah bercampur dengan orang lain pa, ceraikan dengan cara agama pa? Kalau papa mau memaafkan mama, tidak apa-apa kembali!" kata Deon lagi.


Mama yang mendengar perkataan Deon hanya bisa diam. Nyonya Atika sadar apa yang ia lakukan telah menyalahi aturan agama.


"Baik, Deon. Panggilkan Bik Sulas dan Mang Yanto ke sini"! perintah papa Deon.


Setelah yang dipanggil berada di ruang makan, Tuan Wira Kusuma menjatuhkan talak buat istrinya itu.


"Atika Melia binti Marwan Hamid, saya talak engkau dengan talak satu, lepaslah tanggung jawab aku kepadamu mulai hari ini!" ucap Tuan Wira Kusuma dengan lantang.


Mama Deon menangis sambil menutup wajahnya. Kesalahan yang ia lakukan harus dibalas dengan perceraian. Wanita yang berusia hampir setengah abad itu sungguh menyesali perbuatannya itu yang telah diketahui oleh khalayak ramai.


"Ambil rumah ini buat mama, dan papa akan tetap menafkahi kalian, mungkin ini jalan yang terbaik, papapun sekarang ada masalah, tapi jangan pikirkan papa. Apapun itu adalah tanggung jawab papa pada pekerjaan papa, oke papa pergi sekarang ya!" Kata papa setelah menghabiskan sarapannya.


"Oh, ya Deon, papa harap kamu dapat mengambil hati Sesil!" pesan papanya saat akan membuka pintu depan.


Deon hanya menanggapi dengan dingin permintaan papanya.


***


Deon merapikan beberapa berkas yang ada dikopernya. Berkas tersebut baru sempat ia susun. Ia melihat foto-foto cetak waktu kemarin. Di foto itu tergambar senyum kepalsuan mama dan papa Deon. Padahal Deon merupakan mahasiswa yang paling tinggi nilainya.


Hari ini dia akan pergi ke saung. Menjumpai anak-anak itu lagi sambil menunggu Resa pulang dari pasar.


Permasalahan yang ditimbulkan oleh orang tua Deon, sepertinya membuat Resa tidak bisa mengajar lagi.


Angan-angan Deon menerawang untuk membuatkan Resa sebuah sekolah. Tempat mengajar yang tanpa ia diganggu oleh orang lain.


Pukul tiga sore di saung, Deon sudah berada di saung. Ia melihat Resa ada di sana. Sedang mengajarkan anak-anak.


"Assalamualaikum!" kata Deon.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu, kak Deon"! beberapa anak langsung mendekati Deon bahkan ada yang memeluknya.


"Uni, ada kak Deon tu!" kata anak-anak itu.


"Swit, swit!" Ada juga anak-anak yang mengode mereka.


"Hei, ini beli bakso gih, makan di sana. Ntar pesankan dua buat kakak ya!" anak-anak kesenangan. Tidak jauh dari saung itu memang ada toko bakso.


Kini tinggal mereka berdua di saung. Deon memperhatikan Resa yang sibuk merapikan buku. Dan membersihkan saung.


"Sibuk?" tanya Deon.


"Iya!" jawab Resa.


"Sibuk apa?"


"Menata hati!" jawab Resa lalu menutup mulutnya seakan keceplosan.


"Aku bantu ya, mau?" tawar Deon dengan pelan.


Rekahan senyum Resa terlihat. Lesung pipinya juga terlihat.


"Kakak, ini baksonya!" kata Hilman anak yang mengantar baksonya dua mangkok.


"Kita makan dulu yuk, biar makin ada tenaga untuk menata hati!" kata Deon meledek.


Sebagai laki-laki, Deon harus membuang jauh rasa canggungnya. Ia harus kuat untuk memulai kembali hubungan ini. Perjuangan ini tak boleh sia-sia. Misinya sampai ke pelaminan dan membawa Resa ke kebahagiannya.


"Baksonya enak ya, bulet-bulet!" Deon mencoba bercanda.


"Hem, iya kalau petak-petak namanya rubik!" balas Resa.


"Bagaimana keadaan orang tuamu Deon?" kata Resa membuka pembicaraan.


"Tau ya, dengan pemberitaan kemarin?" tanya Deon balik.


"Iya!"


"Iya, kamu yang sabar ya!" kata Resa.


"Iya, aku juga sabar, menunggu kata kamu berubah jadi sayang di bibir manis itu!"


"Kamu gombalin aku lagi!"


"Aku serius!" kata Deon meyakinkan Resa.


"Trus siapa yang ada di samping kamu, saat wawancara kemarin?" tanya Resa malu.


"Oo, jadi ini perkaranya, dari kemarin sewot, rupanya ada yang cemburu!" Deon tertawa tipis.


Muka Resa bagai kepiting rebus kini.


"Ah, enggak juga!" kata Resa berkilah.


"Jawab aja kenapa? Pakai acara meledek lagi!" sambung Resa.


"Dia Sesil, temen kampusku, sekaligus orang yang mau dijodohkan papa dengan aku!" jawab Deon.


"Oh, jadi ke sini mau ngantarkan undangan ya?" Tanya Resa.


Deon tertawa lagi.


"Kamu cantik jika makin cemburu seperti itu!"


Resa yang jengah dengan gombalan Deon lalu berdiri.


"Aku pulang!" Kata Resa.


"Kita duduk dulu ya, sayang, bicara dari hati-kehati!" kata Deon tersebut mampu membuat Resa duduk kembali.


Jujur Resa suka banget dipanggil sayang. Tapi, dia takut betul jika Deon hanya memberikan harapan palsu lagi buatnya. Sudah cukup rasanya terbuai oleh harapan yang tak pasti.


"Sesil juga tidak menerima perjodohan itu. Dia sangat mencintai kekasihnya. Aku pun begitu, tidak mau menikahinya. Jadi waktu itu kami sedang membicarakan hal tersebut. Wartawan nakal itu tiba-tiba datang dan mengambil foto kami. Lalu membuat orang yang kurindukan cemburu!"


"Ih, Deon ngombalin lagi, ih gak asyik!" kata Resa sambil manyun dan melempar tisu yang ada di meja ke muka Deon.


"Jangan kayak anak kecil gitu dong, gak sadar umur!" kata Deon membuat Resa makin merajuk.


"Ih, Deon!"


"Jangan suka merajuk dong, masa' calon istri camat merajuk gitu!" Kata Deon sambil tersenyum.


"Aku butuh kamu, kalau kamu gak mau diperjuangkan, aku bisa-bisa nikah dengan Sesil. Kamu mau aku perjuangkan kan?" kata Deon serius.


Sambil menutup muka dengan tangannya, Resa berkata "Iya, aku mau!"


"Ini yang bocah siapa ya, kok makin kayak anak-anak ya!" kata Deon lagi sambil geleng-geleng kepala. Ia sedikit paham, wanitanya mungkin telah lama menanggung rindu, hingga tidak percaya akan apa yang terjadi saat ini.


Rindunya telah terobati. Kini ia harus berjuang dengan segala daya. Deon tak mau lagi diatur tentang pernikahannya. Tekadnya dalam hati, ia harus bahagia.


"Aku boleh tanya sesuatu lagi gak?" Deon memulai pembicaraan lagu


"Apa tu?" tanya Resa.


"Kenapa gak ngajar lagi?" tanya Deon.


"Males, dibaperin Mulu sama siswa!" jawab Resa santai.


"Termasuk Candra?" Resa yang sedang minum seketika berhenti mendengar pertanyaan Deon itu.


"Tapi kayaknya bukan dia yang baperin, justru kamunya yang buat dia baper, jangan pandang ke belakang ya, dari tadi dia memperhatikan kita loh!" kata Deon.


"Masa' sih!"


"Iya, kalau gak percaya, ajak sini gih!"


Resa menoleh juga ke belakang. Ia melihat Candra dan memanggilnya.


"Hai, Candra, ngapain di situ, sini!"


Dengan mengode bahwa ia tadi mengantar Reni dari pasar, lalu menunjuk jam tangannya, mungkin dia memberitahu bahwa hari sudah sore. Lalu menunjuk jalan ke depan. Sepertinya Candra enggan duduk ke dekat mereka. Lalu diapun beranjak pergi dengan motornya itu.