
Deon yang melihat Andini, langsung mengulurkan tangannya. Namun, Andini hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Melihat hal itu,
“Perkenalkan saya Deon, buk!” kata Deon, tapi Andini langsung berbicara dengan pak Camat.
“Baiklah, Pak, saya akan mengajarkan pak Deon di ruangan saya, sekitar satu jam lagi!” kata Andini dengan tegas.
“Pak, Deon, silakan Bapak mengenali menunggu di ruangan bapak, saya masih ada berkas yang harus masuk sebelum pukul sepuluh ini, terimakasih!” Kata Andini lagi. Lalu melangkah ke ruangannya.
“Baiklah Buk, Pak, saya ke ruangan saya dulu!” kata Deon menuju ruangan yang di tunjuk oleh pak Camat.
Dari jendela ruangan Deon tampak penduduk lalu lalang. Beberapa kali juga ia melihat wisatawan. Deon mencoba membuka berkas yang ada di mejanya. Ada beberapa standar operasional yang harus dijalankan sebagai seksi pemerintahan. Tepat sekitar pukul sepuluh, seorang petugas masuk ke ruangan Deon.
“Pak, Deon dipanggil buk Andini ke ruangannya!” kata petugas itu pada Deon.
“Oh, ya, baiklah pak!” kata Deon pada petugas itu. “Memang tepat betul tuh cewek!” kata Deon dalam hati.
“Silakan masuk, Pak Deon!” kata Andini seolah tahu kalau Deon selangkah lagi mau mengucapkan salam. “Apa dia ada indera keenam yah, ni cewek!” kata Deon dalam hati.
Deon duduk di depan Andini yang dibatasi dengan meja. Di dalam ruangan itu ada seorang wanita seumuran delapan belas tahun. “Mungkin itu asisten pribadinya Andini?” kata Deon bertanya-tanya.
“Mau ngapain bapak ke sini?” tanya Andini.
“Ya, mau mendengarkan instruksi ibu!” kata Deon kikuk.
“Hanya mendengar sudah cukup? Ambil dulu agenda kerja bapak yang sudah saya letakkan pagi tadi di ruangan Bapak!” kata buk Andini.
“Eh, iya, maaf!” kata Deon lalu kembali ke ruangannya da mengambil agenda yang ada di atas mejanya tadi.
“Tuh, seksi anggaran kok ngeracau kayak gitu, nasib-nasib, lepas dari buk Beby, dapat rekan kok nakutin kayak gitu!” kata Deon dalam hati.
Sekembalinya Deon keruangan Andini, Deon dengan penuh kosentrasi akan apa yang akan diarahkan Andini. “Beberapa minggu ini saya merangkap apa yang dikerjakan oleh Seksi Pemerintahan sebelumnya, jadi saya harap kerjasamanya,mohon dengarkan penjelasan saya dengan baik. Saya bukan orang yang suka mengulang-ulang instruksi. Apalagi Anda termasuk lulusan terbaik di angkatan Anda, saya yakin hanya sebentar Anda sudah paham!” kata Andini tanpa membiarkan Deon menjawab.
“Cepat amat nih cewek di depan, udah kayak kereta api aja ngomongnya!” kata Deon dalam hati.
“Saya yakin Anda mengerti, walaupun perkataan saya cenderung cepat.” Kata Andini.
“Astaga, apa dia dengar yang ada di hati gue?” kata Deon dalam hati dengan muka sedikit terkejut.
“Tak usah terkejut gitu pak, ini kerjaan harus tuntas minggu ini!” kata Andini lagi, lalu mulai menjelaskan apa-apa yang akan dikerjakan Deon.
Sesekali Deon menatap ke Andini. Namun, sepertinya Andini tidak melihat ke arah Deon. Hampir dua jam juga mereka berdiskusi.
“Sudah selesai ya, pak Deon, ini berkas-berkas yang Anda butuhkan, silahkan dibawa!” kata Andini.
Deon mengemas beberapa berkas ke tangannya.
“Dan satu lagi, jangan curi-curi pandang terhadap saya seperti tadi!” kata Andini mengejutkan Deon.
“Ah, ternyata dia tahu, aduh buk seksi anggaran ini, jadi orang kok kayak gitu amat.”Kata Deon dalam hati.
Lalu, Deon terseyum memandang Andini.
“Saya permisi buk, terimakasih, semoga kita dapat bekerja sama dengan baik!” kata Deon.
Deon kembali ke ruangannya. Sebenarnya Deon tuh pengen bertanya-tanya dulu pada Andini. Kenapa selama di kampus ia tak pernah melihat wanita itu. Deon hanya melihatnya sekali saja.
***
Tak terasa, Deon sampai ke rumah. Ia sampai kala suara azan magrib menggema di sekitar rumah mertuanya itu.
“Assalamualaikum!” Deon memberikan salam.
“Waalaikumusalam!” jawab Ama. Deon mencium tangan Ama takzim.
“Resa mana, Ama?” tanya Deon.
“Resa ke toko tadi, mungkin lagi ramai, makanya belum pulang!” kata Ama.
“Oh, ya sudah, nanti Deon susul ya Ama. Deon mau mandi sama salat dulu!” kata Deon langsung ke kamarnya.
Deon benar-benar lupa untuk menelepon Resa hari ini. Biasanya dia akan mengingatkan makan dan minum susu ibu hamilnya Resa. Deon bergegas mandi dan salat, lalu ingin menyusul Resa. Tidak biasanya juga Resa pulang malam seperti ini.
Setelah salat, ia lalu menyusul Resa dengan motor kesayangannya itu. Sampai di toko bernuansa ungu muda itu, Deon masuk, dan melihat Resa yang sedang sibuk melayani pembeli.
Sementara di sudut toko ada Candra yang sedang menghitung total belanjaannya.
“Oh, jadi karena Candra di sini, kamu lupa pulang?” kata Deon mengejutkan Resa dan Candra.
“Oh, Mas sudah pulang?” kata Resa dengan sedikit gugup, ingin menjaga perasaan Candra.
“Iya, beruntungkan aku datang, jadi bisa lihat kalian di sini!’ kata Deon agak emosi.
“Eh, kak Deon, apa kabar?” kata Gina pada Deon tanpa basa-basi seolah tak tahu kejadian yang barusan.
“Eh, sayang, sudah siap menghitungnya pakaiannya?” kata Gina pada Candra yang masih terkejut dengan kata-kata Deon tadi. Bersyukur mereka sudah bisa berdamai dengan sifat Deon.
Deon merasa malu dengan kelakuan dia sendiri.
“Aduh, calon pak camat ini, cemburunya gak ilang-ilang, padahal sudah dibilang, kalau Candra sekarang sudah jadian sama Gina, masih ada nyolot, sudah makan belum?” tanya Resa pada suaminya itu.
“hem, iya belum!” kata Deon.
“Sudah selesai, Chan?” tanya Resa pada Chandra.
“Sudah Uni, pembayarannya aku kirim lewat mobil banking ya!” kata Candra lalu memasukkan barang dagangannya ke mobil.
“Kami pulang dulu ya, Uni, jangan masuk hati yang dibilang sama kak Deon, tanda sayang dia itu!” kata Gina sambil melirik ke Deon.
Deon tersenyum mendengar perkataan Gina.
“Iya, namanya juga mantan siswa, bawaanya mencak-mencak gitu, kayak orang takut mainannya diambil orang!” Resa berbisik pada Gina. Gina pun tertawa, lalu masuk ke dalam mobil Candra yang sudah penuh dengan barang dagangan.
“Candra dan Gina cocok ya, sayang, Candranya ganteng, Ginanya cantik dan?” tanya Resa meminta pendapat Deon.
“Iya cocok, tapi gantengan Mas, kan?” ledek Deon.
“Iya, tentu gantengan suamiku dong, tapi kalau lagi enggak nyolotan cemburunya!” kata Resa.
“Sudah, yuk kita makan malam di luar, kangen nih!’ kata Deon menggandeng Resa keluar toko.
Malam itu mereka pun makan dinner dengan menu favorit di kafe langganan mereka. Selepas itu mereka berkeliling kota menikmati udara malam. Tangan Deon selalu menggenggam tangan Resa sepanjang jalan. Hati Deon kembali berbunga bunga.