
Besok Deon akan mulai masuk asrama. Ia dinyatakan lulus menjadi calon praja. Ya, kampus yang akan menjadikannya seorang abdi negara. Empat tahun ke depan akan dia dididik disana. Walaupun papanya seorang yang berpengaruh, tapi Deon dapat masuk dengan hasil kerja kerasnya. Ia tak mau mendapat malu dan menjadi bahan omongan. Semua proses pendaftaran hingga pengumuman ia lakukan dengan jujur.
Kemampuan Deon justru di atas rata-rata.
"Kamu sudah siap-siap Deon?" Kata sang mama.
"Iya!"
" Mau kemana kamu rapi begini!"
"Mau ke tempat Toni!"
"Hem, biasa gak kayak gini, kalau mau jumpa Toni doang, kalau mau jumpa Miss Re, percuma. Dia sudah tidak ada di kota ini!" ucap mamanya lalu menutup mulut.
"Maksud mama?"
"Ya gitu deh!"
Deon segera mengambil jaket dan helm full face nya. Ia penasaran akan yang dikatakan mamanya.
Sudah lima bulan ia tak datang ke tempat Miss Re. Waktunya ia habiskan untuk belajar di akademik dan fisik. Kegiatannya sungguh menghabiskan waktu dan sangat melelahkan. Ia berjuang bukan lagi untuk papanya. Ia berjuang untuk Miss Re agar tidak menjadi korban kesombongan papanya.
Rindu yang membuncah di hatinya, apalagi setelah iya dinyatakan lulus, membuat dia sedikit ingin melepaskannya walau hanya dari kejauhan. Deon tidak mau wanitanya sakit lebih lama karena ketidakmampuan Deon melawan kuasa papanya yang seorang pejabat.
Memainkan gas motor dengan pelan masuk ke gang rumah Miss Re. Ada beberapa anak-anak yang sering diajarkan Miss Re duduk di saung sambil diajar oleh seorang seukuran mahasiswa.
Dibukanya kaca helm nya.
"Kak Deon nyari Uni Resa kah?"
Seorang anak menyapanya dari samping kanan.
"Hem, iya!"
"Duduk dulu bang, kita cerita!" Deon memarkirkan motornya di depan saung.
"Uni Resa udah pindah sekeluarga, kak. Katanya pengobatan nenek Ama!"
Nenek Ama panggilan anak-anak ke Ama nya Resa.
Pertanyaan demi pertanyaaan berseliweran di pikiran Deon. "Mengapa Resa bisa berhenti mengajar, sementara ia masih ada perjanjian dengan Garda Bangsa?. Mengapa pengobatan Ama tidak di Jakarta saja. Bukankah dokter-dokter disini banyak yang hebat!" tanyanya dalam hati.
"Kak, jemput Uni kami kembali. Uni bersedih waktu pergi bang! Uni banyak lebih tersenyum ketika kami meledek dia dengan nama kakak!"
"Iya, nanti, Kakak pasti jemput Uni kalian!"
Jawab Deon.
Diperhatikannya saung dengan rak yang bukunya sudah mulai lusuh.
"Itu, persediaan bukunya, hanya segitu?"!
"Iya kak, biasanya kak Resa pinjam buku dari perpustakaan untuk ditukar dengan buku-buku yang sudah dibaca disini kak. Sesekali juga ada taman baca masyarakat di gang sebelah. Tapi kami jarang ke sana kak!"
"Wah, semangat belajar kalian tinggi juga ya!"
"Iya dong, kakak Calon Pak Camat Deon!"
"Hahaha, emang siapa yang bilang kakak calon pak camat?"
"Ya, kak Resa dong!"
"Hem, besok kalau kakak kirim buku, kamu jaga ya!"
"Emangnya, kakak gak kesini lagi?"
"Kakak, belajar jadi calon pak camat, empat tahun lagi baru selesai!"
"Wau keren, hormat pada pak camat!" Teriak anak-anak itu. Mereka tertawa dengan renyah.
Deon pun berlalu. Dia berhenti di depan rumah Resa. Rumah yang sering ia datangi lima bulan lalu. Tapi kini sudah kosong. Dan Resa meninggalkan seribu kerinduan yang ia rasakan sejak papanya meminta tidak lagi menemui Resa sambil menyodorkan bukti transfer untuk pengobatan Ama Resa.
Miss,
Percayalah, Apa yang memang menjadi milikmu takkan pernah bisa menjadi milik orang lain. Walau begitu kuat aku mencintaimu, tapi jika kau mendapatkan yang terbaik, aku pasti akan berbahagia juga.
Jika ada yang mengatakan September adalah bulan yang ceria. September kali ini membuat Deon bersedih hatinya. Tadinya ia berangan-angan, saat dia mau masuk asrama nanti, Miss Re akan mengantarkannya seperti orang-orang. Tapi tidak, rencana hancur, karena Miss Re justru menjadi senjata sang papa.
***
Perjalanan yang berjarak sekitar 175 kilometer dari Jakarta , dapat ditempuh sekitar tiga jam lebih oleh kendaraan yang mengantar Deon ke Jatinangor. Kampus yang awalnya berdiri dengan nama Akademi Pemerintahan Dalam Negeri di tahun 1956 itu dengan status sekolah tinggi kedinasan menjadi tujuan mereka kini.
Di dalam mobil sudah ada orang tua Deon dan seorang supir. Dengan merek kendaraan kualitas tertinggi produk Jepang, tak juga membuat perjalanan ini menjadi hangat.
Pemandangan persawahan yang terhampar sedikit membuat kenyamanan di hati Deon. Ia menanti ada sebuah September yang benar-benar ceria nanti.
Mereka berhenti di rumah makan di sekitar kampus. Makanan yang enak sudah terhidang.
"Makan yang banyak Deon" Tawar mamanya
Deon yang jika tidak memikirkan badan nya yang pastinya memerlukan tenaga, mungkin dia tak akan mau. Membayangkan masuk kampus itu sebentar lagi. Bukan tidak sedikit cerita-cerita menakutkan yang ada di sana.
Tingkatan yang harus Deon jalani yang pertama yaitu Muda Praja. Muda Praja merupakan tingkat awal atau yang baru memasuki jenjang pendidikan di IPDN. Sistem pendidikan yang akan diterima oleh Muda Praja adalah penanaman, artinya pada tahap ini akan ditanamkan sebuah mindset.
Tetapi terkadang, saat pengenalan itu lah yang banyak disalahgunakan oleh praja tingkat atas pada angkatan yang dibawahnya.
Penampilan Deon yang sudah disesuaikan dengan aturan yang ada, cukup menampilkan wibawanya sebagai seorang calon praja.
"Papa antar sampai di sini saja ya Deon!"
Kata papanya.
"Iya"
"Kamu jangan kayak gitulah Deon, bagaimana juga dia papamu!" ucap mamanya.
"Ma, please, deh. gak usah ganggu mod Deon kali ini!"
Pak Wira Kusuma, lantas mengajak istrinya masuk ke mobil. Mereka melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Jakarta.
Deon memandang ke arah kampusnya yang gagah. Di pintu masuk terdapat dua buah menara yang terhubung dengan pagar serta patung praja di kanan dan kiri.
"benar-benar gagah nampaknya. Pantas saja banyak yang ingin masuk ke sini. Selain biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah, mereka yang sudah tamat nanti pun langsung aman bekerja dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Tas besar yang Deon tenteng terjatuh, saat dia bertabrakan dengan seorang calon praja wanita.
"Maaf, maaf, saya tak sengaja!" kata wanita tersebut.
"Lain kali hati-hati!" balas Deon tanpa melihat wanita tersebut dan kemudian berlalu untuk mengurus administrasi asrama. Dia berharap akan menjadi lebih baik di sini.