
“Hem, siswa saya dulu!” Resa menjawab pertanyaan dari Candra dengan pelan. Resa masih sibuk melipat pakaian yang tidak jadi di beli oleh pelanggan.
“Kok, gak disuruh duduk, nih masih ada bangku kok?” tanya Candra melihat Deon masih berdiri di depan pintu kios.
“Masuk, tapi saya lagi sibuk nih?” kata Resa mempersilahkan Deon masuk.
“Iya, aku tunggu!” jawab Deon. Rasanya benar melayang hati Deon, sikap dingin Resa membuat hatinya berdebar-debar. “Siapa lelaki yang bersama Resa di kios ini, apakah anggotanya, tapi dia memanggil dengan Miss, atau muridnya dulu? Tanya Deon dalam hati
Deon melangkah masuk, lalu duduk.
“Katanya siswa, tapi pakai saya-saya an?” bisik Candra pada Resa.
Jujur Resa bingung, mau melayani Deon atau tidak. Kehadiran wanita saat Deon diwawancarai kemarin membuat bimbang hati Resa. Takut hatinya sakit.
“Minum?” Candra menawarkan minuman pada Deon.
Deon mengambil minuman itu. Berjuang melewati ramainya orang-orang yang datang ke Tanah Abang ini hanya untuk mencari Resa telah membuatnya haus tingkat tinggi. Sudah seperti hilang akalnya.
(Visual Deon Ananda Putra Wira Kusuma)
(Visual Candra Kafka)
(Visual Resania Hana Sikumbang)
“Sibuk apaan sih?” Tanya Deon melihat Resa yang memperbaiki pakaian yang sudah rapi. Seolah ingin mengelak dari Deon.
“Menata dagangan ini lah?” kata Resa. Tak juga ia menatap wajah Deon. Ia teringat dengan kejadian dulu. Sewaktu ia mengembalikan uang dua ratus juta ke keluarga Deon. Resa yang sangat mencintai Deon, merasa terhina oleh keluarganya. Mereka bilang tak sudi, anaknya punya teman dekat seperti Resa, orang perantauan, hanya kaum yang menumpang di Jakarta.
“Menata dagangan atau menata hati?” kata Deon sambil berdiri ikut merapikan dagangan yang dikatakan Resa.
“Sudahlah Deon, tak usah lagi kamu keluarkan kata-kata seperti itu!” kata Resa pelan. Takut terdengar oleh Candra.
Candra membantu menutup kios. Hari sudah mulai senja. di luar juga langit terlihat mendung.
“Kita pulang, aku tunggu diparkiran?” tanya Candra berlalu pergi. Dia tak mau mencampuri urusan antara Deon dan Resa. Ia juga tak tahu ada cerita apa di antara mereka. Ia takut salah ucapan, yang nantinya malah melukai hati Resa.
“Iya!” jawab Resa sambil mengambil tas. Sebelum pintu benar-benar tertutup
“Resa, tunggu, maaf atas kejadian di stadion empat tahun lalu, maaf tentang perkataan orang tua ku mengenai uang berobat itu, bik Sulas udah ngasih tau semuanya!” erang Deon.
“Dan semua itu ide kamu kan?” tanya Resa.
“Iya... iya... itu aku yang ngelakuin. Itu demi apa?, itu demi kamu Resa. Aku ingin buat kamu bahagia, aku ingin Ama kamu sehat kembali, tapi aku tak tau jika papa mengusir kalian dengan cara seperti tu!”
“Dengerin aku Resa, please” Deon berkata sambil mengikuti Resa yang hendak ke parkiran.
“Untuk apa kamu kesini lagi Deon? Bukankah orang tuamu sudah menjodohkan dengan orang yang terpandang!” tanya Resa lagi. Resa malu juga untuk bertanya tentang wanita yang ia lihat di video.
“Aku lelah hari ini, jangan paksa aku mencerna apa yang kamu katakan!” sambung Resa.
“Oke, aku harap kita bisa bertemu nanti!” kata Deon sambil melihat Resa yang sudah naik dibonceng motor sport Candra.
“Assalamualaikum!” kata Resa sambil berlalu pergi.
“Waalaikumussalam!'’ balas Deon dengan nada pelan.
“Apa kamu tak tau Resa, aku merindukanmu, aku menantikan saat-saat jumpa pertama kita, aku ingin minta maaf atas ketidakberdayaan aku empat tahu lalu. Siapa yang dari tadi bersamamu, Resa!” Deon bertanya-tanya dalam hati. Hingga ia tak sadar sudah sampai rumah.
***
Macet di kota Jakarta menjelang sore ini memang sudah biasa. Polusi dari asap kendaraan bermotor menambah riuhnya kota ini.
“Siapa, tadi Miss?”tanya Candra ketika lampu merah menyala.
“Tak siapa-siapa, tak usah dipikirkan!” jawab Resa.
“Hem, aku tuh bukan anak-anak loh, aku tau apa yang dirasakan Miss!” kata Candra.
“Emangnya apa yang aku rasakan?” Resa bertanya balik.
“Ada rindu yang tak terungkap sama , siapa tadi namanya?” tanya Candra.
“Deon, namanya Deon Ananda Putra Wira Kusuma!” jawab Resa.
“Wuih, nama nya aja masih ingat banget, tegas lagi ngomongnya!” ledek Candra.
“Udahlah, nanti dipikirkan lagi!” kata Resa.
Sesampainya di kamar, Resa berpikir keras. Benarkah yang dikatakan Deon. Benarkah dia melakukannya karena cintanya pada Resa. Benarkah Deon sangat menyayanginya.
“Uni, kata Candra, Deon datang ke kios ya?” tanya Reni.
“Iya!” jawab Resa.
“Trus-trus dia ngomong apa Uni?’ tanya Reni penasaran.
“Hem, kepo deh lo?” jawab Resa sambil tertawa.
Resa bukan orang yang suka mengeluarkan isi hatinya, jika permasalah ini belum selesai.
“Yah, penonton kecewa, sepertinya pemain pakai acara rahasia-rahasia dan nantikan di episode berikutnya!” Reni meledek sambil berlalu pergi.
***
“Siapa, Deon itu Uni?” tanya Ama.
“Tau dari mana Ama, pasti Reni yang menyampaikan, tuh anak rese’ aja?” Resa balik bertanya.
“Hahaha, kena Uni kan? Udah tuir mikir nikahlah lagi Uni!” kata Reni.
“Hem, yang mau nikah, nyuruh-nyuruh orang nikah, kalau mau duluan, nikah aja dulu?” balas Resa.
“Kalau bisa Uni duluan yang nikah, kenapa tidak? Lagian Deon makin tampan loh Uni, main dewasa, gagah banget waktu diberita!”
“Besok bawa Deon main ke sini ya, Ama mau kenalan?” kata Ama.
“Astaga, Uni lupalah minta nomor Deon!” kata Resa.
“Yah, penonton kecewa lagi!” celetuk Reni.
Ya, karena egonya tadi Resa tidak memikirkan lagi perasaan hatinya. Sekarang dia hanya berharap akan ada perjumpaan antara ia dan Deon untuk menuntaskan perasaan mereka. Menunggu itu memang sulit, apalagi tanpa batas waktu.
***
Di balkon kamarnya Deon duduk di kursi santai, ia melihat cahaya bulan. Lelah hari ini rasanya tak terbayarkan. Belum lagi masalah keluarga yang mendera. Ia juga tak mau Sesil menjadi korban perjodohan orang tua mereka. Namun, pernyataannya pada Resa masih menggantung dipikiran Resa. Resa yang tak meladeni pembelaan Deon. Perih, mungkin ini balasan yang setimpal buat dirinya untuk kesalahannya yang dulu.
Deon berencana untuk menjumpai Resa esok hari. Tapi mungkin tidak di pasar. Bicara dari hati-ke hati. Deon berjanji pada dirinya untuk tidak akan menyia-nyiakan waktunya. Malam ini resah, sungguh meresahkan, bagai merasa diri jatuh cinta lagi. Dan rindu yang menggebu seperti minta untuk ditempatkan di hati yang paling dalam.