My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
39. Supir Pribadi Buk Beby



Suasana sepi masih menjalar di kota Jakarta. Resa bergegas menyiapkan perlengkapan kantor suaminya itu. Deon harus sampai sebelum ke kantor sebelum jalanan macet. Atasannya yang baru menginginkan mereka sudah sampai di Bandung pukul setengah sembilan.


Tak lupa Resa mempersiapkan sarapan ringan buat suaminya itu. Roti tawar berselai stroberi dan secangkir teh hangat.


"Mas, hati-hati di jalan ya!" pesan Resa pada suaminya itu.


"Iya, sayang, jangan lasak, jaga kandungannya itu, soalnya buatnya juga pakai tenaga" kata Deon menggoda istrinya itu, lalu melangkahkan kakinya ke mobil yang telah ia hidupkan tadi untuk pemanasan mesin.


Resa melambaikan tangan pada suaminya itu. Ia mendoakan agar pekerjaan Deon berjalan dengan lancar.


***


Kantor Deon pagi ini masih sepi. Tampaknya lampu-lampu penerang di halaman parkir di kantor baru dimatikan. Sebuah mobil buatan Jepang keluaran terbaru tampaknya hendak parkir juga di samping mobil Deon.


"Ah, sepertinya itu buk Beby." kata Deon dalam hati.


Deon turun setelah memosisikan mobilnya dengan tepat di parkiran lalu langsung masuk ke ruangannya.


"Pak Deon, bisa kita berangkat sekarang, tapi pak Deon yang menyetir bisa? Soalnya supir kantor lagi berhalangan masuk.!" pinta sang atasan tanpa basa-basi.


"Insyaallah bisa Bu!" jawab Deon.


"Oh, baiklah kalau begitu kita langsung ke parkiran!" kata Deon.


Mereka berjalan beriringan. Laju langkah sang atasan membuat mau tak mau Deon pun berjalan dengan cepat juga. 


Buk Beby pun memberikan kunci pada Deon, kunci mobil mewah untuk ukuran seorang pegawai negeri sipil ini memiliki 3 kabin dan sangat cocok untuk  keluar kota dengan medan jalan sulit sekalipun. 


"Deon ini!" buk Beby memberikan kunci mobil buat ia kemudikan.


"Bismillah!" kata Deon dalam hati.


Ibuk Beby membuka pintu mobil sendiri dan duduk di depan sejajar dengan bangku supir. 


Deon merasa canggung, baru kali ini ada atasan yang duduk di samping nya. Ada rasa takut, jika teman di kantor ada yang merasa iri dengan keadaan pekerjaan Deon yang baru.


"Oh, ya Deon, besok-besok kalau ada keperluan pekerjaan yang kurang, kamu bisa minta bantuan dengan Juwita, jadi kamu bisa fokus dampingi saya seperti ini!" kata buk Beby.


"Iya, buk, nanti jika sudah perlu saya akan minta bantuan Juwi!" jawab Deon.


Deon menajamkan matanya. Perjalanan pagi ini seperti menantang mentari. Matahari mulai naik ke langit Timur. Ia memasang kacamatanya untuk mengurangi kesilauan sinar matahari.


"Wow, kamu tampan sekali menggunakan kacamata itu!" puji buk Beby.



(visual buk Beby)


"Hem, terimakasih buk!" jawab Deon.


"Kamu punya pacar Deon?" tanya atasannya itu.


"Dulu punya, sekarang sudah enggak buk!" jawab Deon lagi.


Mendengar jawaban Deon buk Beby tersenyum.


Deon yang fokus nyetir tidak melihat senyum buk Beby.


"Emangnya kenapa putus?" tanya buk Beby lagi.


"Sudah saya jadikan istri buk!" jawab Deon santai, namun tetap fokus ke arah jalan. Jujur dia tak bisa berdua-duaan dalam mobil seperti ini apalagi dengan perempuan cantik seperti atasannya ini.


"Oh, sudah nikah toh, saya kira belum!" kata buk Beby dengan bibir aja dikerucutkannya. Namun, lagi-lagi Deon tak melihatnya.


Hampir di penghujung jalan tol Jakarta Bandung yang memakan waktu sekitar dua jam lebih, kembali buk Beby mengajak Deon berbincang.


"Gak capai Deon?" tanya buk Beby.


"Lumayan buk, soalnya tadi malam juga mesti mempelajari file yang ibu berikan tadi!" jawab Deon dengan polosnya.


"Nggak usah buk, mana ada atasan ngurut bawahannya buk!" tolak Deon dengan polosnya lagi. 


"Buk, sebentar lagi kita sampai!" kata Deon.


"Loh, nggak jadi sarapan dulu?" tanya buk Beby.


"Gak usah buk, tadi saya sudah sarapan di rumah bareng istri!" jawaban Deon membuat bibir buk Beby mengerucut kembali.


"Oke, saya ke sana dulu ya, di sana ada kafe kopi hangat. Kalau mau silahkan menyusul!" kata buk Beby.


"Ya Tuhan, lama lagi rapatnya, agak risih jadinya punya bos secantik ini, mana dia mengurut-ngurut segala!" kata Deon dalam hati sambil tepok jidat.


*** 


Sementara di kantor Jakarta.


Supir kantor yang biasa dipakai oleh atasan sedang bingung.


"Hei, pak Mamat, buk Beby sudah datang?" tanya supir kantor itu pada satpam.


"Sudah, telat Lo!" katanya pada rekannya itu.


"Loh, bukannya tadi saya disuruh datang pukul delapan saja?" kata supir itu.


"Yah, mana gue tau, tadi buk Beby pergi bareng pak Deon." kata satpam itu lagi.


Supir kantor pun berlalu pergi.


***


Rapat dinas dimulai hampir pukul sembilan pagi. Semua pihak yang berkepentingan sudah hadir di ruang itu. Deon mengambil bagian atas presentasi yang dibacakan oleh Ibuk Beby.


Semua berjalan lancar. 


Sebagaimana yang disampaikan pada rapat tersebut, diperkirakan ibuk Beby dan Deon akan dinas luar kota sekitar tiga atau empat hari di kota Bandung ini.


Pukul empat sore rapat ditutup. Deon langsung membereskan semua perlengkapan dan berkas yang ia bawa. Lalu ia akan menunggu sang atasan di mobil.


"Langsung pulang, kita kan buk?" tanya Deon.


"Iya, emangnya mau kemana lagi?" tanya buk Beby balik.


"Hem, kita makan malam saja dulu ya!" kata buk Beby balik.


"Ya ampun, perut memang lapar, tapi makan berdua dengan beliau ini buat mual, bukan ngapa-ngapa cantik sih cantik, nih ibuk-ibuk kok rada genitan ya, bisa-bisa dikira peliharaan Tante-tante nih gue!" Deon bergidik dalam hati.


"Ngomong apaan Deon?" tanya Bu Beby.


"Ah, gak ngomong apa-apa kok buk!" jawab Deon.


"Yang penting jangan lupa singgah makan malam ya! Maag saya bisa kambuh jika terlambat makan!" katanya mengingatkan.


Deon bersyukur saat makan malam tidak banyak drama yang dibuat oleh Ibuk Beby. Mungkin karena Deon memilih tempat terbuka dengan alasan tidak selera dengan menu di kafe tertutup yang atasannya itu tawarkan.


Selesai makan malam, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Mungkin karena kelelahan dan kekenyangan ibuk Beby tidur.


Deon sampai di rumah ibuk Beby. Kebetulan ada satpam yang jaga di depan rumahnya. Deon tak tega jika harus mengantar beliau ke kantor jika hanya untuk menjemput mobilnya yang masih di parkiran.


"Buk, sudah sampai!" kata Deon.


"Oh, ya sudah. Kamu bawa saja mobil ini Deon, besok kamu jemput saya disini!" tawar buk Beby.


"Eh, ini mantra apaan lagi nih!" kata Deon dalam hati mendengar tawaran atasannya yang tidak masuk akal itu. Terlalu berlebihan sekali rasanya.


"Tak usah buk, saya ada janji dengan istri, dia sudah menunggu di mall di depan sana buk, tadi saya yang minta jemput dia, lagian taksi online sudah saya pesan!". Yup baru kali ini rasanya Deon berbohong dengan orang tua. Hahaha.. iya orang tua.


Dengan langkah seribu, Deon meninggalkan halaman rumah buk Beby.