My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
23. Video Viral



"Pak Deon, apa benar video yang beredar adalah video ibu Anda?" tanya seorang wartawan disambut juga pertanyaan dari wartawan lainnya.


"Video apa sih, saya tidak mengerti!" Deon memang tak tau menahu tentang video, apa lagi dengan video yang mereka katakan adalah video mamanya.


"Maaf, saya permisi!" sambung ya, membuat kecewa para wartawan tersebut.


"Ada apa Deon dengan mereka?" tanya Sesil.


"Entahlah, akupun tak tahu, aku antar langsung ke kantor kamu ya!" tawar Deon.


Sesil langsung turun dari mobilnya setibanya didepan kantornya. Kantor Sesil dan Deon memang berbeda, tetapi dalam struktur yang sama tinggi. Deon pun kembali ke ruangannya. Ia langsung membuka telepon pintarnya. Dan sontak saja, ada beberapa temannya yang mengirimkan video syur mamanya dengan Riko.


"Astaga, bagaimana ini bisa terjadi!" Ucap Deon dalam hati.


Iya mencoba menelepon mamanya. Ternyata tidak aktif. Lalu dia menelepon bik Sulas.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu!" sapa buk Sulas.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu, bik, bik ada mama dirumah?" tanya Deon.


"Ada Den, tapi dari nyonya di kamar saja Den, tak mau keluar. Di luar sudah banyak wartawan yang menunggu. Mau mencari klarifikasi masalah video Den. Emangnya video apa ya Den?"


"Oo.. video gak penting Bik, ya sudah. Jagakan mama dulu ya Bik, dan suruh satpam mengusir wartawan itu, jangan buka pagar sebelum saya atau papa pulang!"


"Baik Den!" Bik Sulas.


***


Sehabis kerja, Deon langsung ke rumah. Ia sudah tak melihat lagi wartawan yang dikatakan oleh Bik Sulas tadi.


"Ma, ma, mama!" seru Deon sambil mengetuk pintu kamar mamanya. Tak berapa lama pintupun terbuka.


Mama langsung memeluk Deon.


"Maafkan mama Deon, mama malu!" katanya sambil terisak.


"Kurang aja* sekali Riko itu ma, Deon akan cari dia!" kata Deon dengan amarah.


"Udah, Deon, biarkan saja polisi yang mencarinya, mama dijebaknya, dia berulang kali memeras mama, mama udah gak kuat!" sambung mamanya lagi. Mama Deon memang sudah lelah dikerjain Riko.


"Hei, istri gak tau di*i, berani nya kamu mencoreng arang dimuka suamimu ini!" Kata pak Wira Kusuma yang tiba-tiba dengan nada berang.


Mama Deon yang memang merasa bersalah tidak dapat berkata-kata lagi.


"Maafkan mama, pa!" kata mama Deon dengan memelas.


"Hancur sudah karir papa, ma, kalau kayak gini mana bisa papa mencalonkan diri jadi anggota dewan!" sesal papa Deon.


"Tak usah disesali pa, mungkin ini memang azab yang diberikan Allah karena keluarga ini telah lalai, banyak maksiat yang tak terlupakan. Sudah pa, jangan pikirkan lagi. Ayo kita perbaiki semua ini!" kata Deon.


Malam ini, ada lagi beberapa wartawan lokal berjaga di luar pagar. Sepertinya lawan politik papa Deon akan sangat merasa beruntung dengan kejadian ini. Untuk sementara mereka bertiga tidak ada yang keluar rumah.


***


"Uni, coba deh, itu kayaknya muka Deon, ada masalah apa itu hingga dikejar oleh wartawan, video apapula yang dimaksud presenter TV nya itu?" tanya Reni sambil memperlihatkan live streaming dari TV di telepon pintarnya. Meraka sedang di pasar, dan berita itu viral seantaro pasar. Maklum papanya Deon sering blusukan ke pasar.


"Oh, iya?" Resa yang melihat hal tersebut, tidak fokus pada permasalahan yang dimaksud. Justru gurat-gurat rindu terpancar di wajahnya. Ia rindu pada seorang Deon.


"Ye, ditanyain, malah ngelamun, Hem, kangen ya?" ledek Reni.


"Siapa yang kangen?" tiba-tiba Candra datang.


"Hem, kok demen amat ke sini Can, gak ada kerjaan, masa' kamu mau kerja di sini?"


tanya Resa.


"Gak boleh ya? lagian sepertinya lapak segini gede masa' gak ada karyawannya, biar aku bantu ya? materi kuliah juga udah selesai, boleh ya?" tanya Candra.


"Ya, gak papa, tapi jangan sampai ganggu kuliah kamu loh!" kata Resa.


Reni melihatnya sambil menggelengkan kepala.


Resa sudah memberitahukan tentang kedatangan Candra beberapa hari yang lalu, termasuk permasalahan di Padang.


"Ini kenapa yang deket pada muridnya ya, apa itu kutukan muka yang imut?" ledek Reni.


"Hush!" Resa memberi kode.


"Emang udah berapa murid yang deket sama Miss?" tanya Candra sembari merapikan pakaian yang berserakan.


"Ah, enggak, gak usah didengar mah kata Reni, ledeknya aja yang sering!" elak Resa.


Sebelumnya Resa juga sudah menyangka keluarga Deon memang tidak beres. Sejak ia bertemu dengan mama Deon bermesraan dengan Riko beberapa tahun lalu. Dengan pakaian prajanya, Deon benar-benar terkesan gagah tadi. Cara menjawab pertanyaannya pun terlihat intelektual. "Tapi, siapa wanita yang berpakaian serupa dengannya tadi, yang sempat terekam kamera wartawan, apakah ia hanya berdua, ah Deon, kamu memang sudah tidak punya perasaan apa lagi sama aku!" tanya Resa dalam hati dan diakhiri dengan setetes  air mata.


"Tuh, kan katanya gak papa, tapi di mata tuh, kenapa?" kata Resa.


Candra yang melihat cuma bingung mau diapakan gadis ini. Takut lagi sensitif.


"Ya, udah deh, dilihat aja, ntar aku kena omel lagi, kan berabe!" gumamnya dalam hati.


"Makan, enak loh ini, Miss?" tawar Candra. Ia melihat ada bekal nasi dari rumah, yang dibungkus Ama. Ama tidak ke pasar hari ini, kurang enak badan katanya, tapi masih sempat menyiapkan bekal buat Resa dan Reni.


"Hem, yang punya siapa, yang nawar siapa?" kata Reni.


"Ya, kan dari pada dianggurin nasinya dan basi di luar, lebih baik basi di dalam, ya kan Miss?" Candra mencoba mengajak Resa untuk makan. 


Mungkin benar, jika perasaan ada yang terganjal, makanpun jadi tak enak. Jadi, netizen yang bilang gak usah lebai, sini, ayo coba, rasain benar kamu rindu, tapi tak tau yang dirindu apakah juga merindu.


"Aku suap ya Miss?" tawar Candra lagi.


"Gak usah lebai, deh, masih bisa sendiri kok!" 


Akhirnya mereka makan bersama tanpa drama.


***


Di kamar, Resa mencoba mencari berita tentang keluarga Deon. Tadi ia hanya sekilas mendengar yang diperlihatkan oleh Reni. 


Resa kini merasa Deon memang sudah berbeda. Mungkin tidak ada lagi yang


bisa diharapkan. Setelah penampakan wanita di samping Deon tadi, Resa bingung apakah masih akan menunggu atau membuka hati dengan yang lain. 


Bingung memikirkan masalah ini, Resa segera mengambil perlengkapan membuat Video pembelajaran. Resa berpikir dengan terus berbagi dia tidak akan lupa dengan materi yang pernah ia kuasai.


Setelah membuat, ia mencoba melihat notifikasi komentar dari pelihat. Ada sebuah akun yang menyapanya. 


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu, how are you Miss Re, I hope you are still waiting for me, please!"


Akun tersebut bernama DAP. Akun tanpa karya. Akun bergambar anime anak sekolah. "Akun siapa ini, sepertinya sangat kenal dengan ku?" tanya Resa dalam hati.