
Deon pulang lebih cepat hari ini. Ia ingin membawa kan kabar tentang mutasi dirinya pada istrinya itu.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumussalam!” jawab Resa
“Tumben pulang cepat sayang?” tanya Resa lagi.
Deon duduk dikursi ruang tamu. Membuka kaos kakinya. Lalu mengambil perlengkapan yang dia bawa dari kantor tadi di mobil.
“Wah, kok dibawa lagi Mas, barangnya, apa sudah tidak terpakai lagi atau rusak?” tanya Resa lagi.
Deon tersenyum lagi mendengar pertanyaan Resa yang beruntun. Tingkah laku Resa selama hamil ini membuatnya merasa jatuh cinta selalu.
“Tuh kan, ditanya malah senyum-senyum, kamu selingkuh ya, jatuh cinta lagi?”
“Ih, apaan sih, kok selingkuh? jatuh cinta lagi sih iya?” kata Deon lalu masuk ke kamar.
Resa yang mendengarnya lalu mengikuti Deon ke kamar. “Hayo, jatuh cinta sama siapa, berani selingkuh ya!”
Deon memeluk Resa yang bertanya tak henti-henti.
“Iya, aku jatuh cinta lagi sama istriku ini, kalaupun ingin selingkuh, selingkuhnya samakamu lagi!” kata Deon.
“Ih, gombal!” kata Resa lagi.
“Sa, duduk sini!” ajak Deon.
Resa lalu duduk di pinggir tempat tidur.
“Sa, Mas dimutasi!” kata Deon.
“Dimutasi? Kemana?” tanya Resa lagi.
“Ke Kepulauan Seribu Utara!” kata Deon.
“Apa yang, Kepulauan Seribu Utara?” tanya Resa ingin memastikan.
“Iya, sayang, Senin besok Mas sudah harus ada di sana!”
“Terus, apa aku mesti ikut?”
“Tak perlu dulu sayang, nanti bagaimananya nanti kita pikirkan nanti!” jawab Deon.
“Hem, ada-ada saja, baru lagi memulai berumah tangga, sudah ada cobaanya?”
“Kamu nyesel?”
“Sabar ya, sayang, ternyata habis ujian yang satu ini, datang lagi ujian yang lainnya!” Deon mengusap-usap perut Resa, namun ada pergerakan seperti kaki bayi.
“Eh, Sa, kok ada kayak yang berjalan-jalan di dalam ya, Ha, ini- kayak kaki deh!” kata Deon penasaran.
“Mau lihat?” Resa menawarkan. Resa membuka bagian perutnya yang membuncit itu.
Timbullah benjolan pada perutnya Resa. “Tuh, lihat, itu kakinya, lihat baik-baik, beginilah perjuangan istrimu, jadi jangan coba-coba untuk macam-macam!” ancam Resa.
“Ya, enggaklah sayang, malah ini gak sabar lihat bayi kecil ini keluar!”
“Emang kalau udah keluar, mau diapain?” tanya Resa.
“Ya, kalau udah keluar, nanti kita buat pula lagi adiknya!” kata Deon menggoda.
“Ih, dasar, Deon!’ kata Resa sambil memukul manja bantal ke muka suaminya itu.
***
Resa sudah mempersiapkan pakaian dinas Deon pagi ini. Setelah salat subuh Deon sudah harus ada di pelabuhan sebelum pukul 07.00. Matahari baru hendak memunculkan dirinya. Deon segera berangkat ke Pelabuhan Kali Adem. Dengan menumpang kapal milik dinas pehubungan kota Jakarta, Deon naik dengan motor kebanggaannya. Mulai hari ini dia akan dinas di kantor kecamatan. Beredar kabar pemutasian Deon ini adalah ulah rival papanya. Tapi, sebagai orang yang beragama, Deon paham tidak akan ada suatu kejadian tanpa izin dari pemilik jagad ini.
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara beribukota di Pulau Pramuka. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang memiliki keindahan alam yang eksotis. Pemandangan alamnya yang asri, air lautnya yang biru, dan panorama alamnya yang indah menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Walaupun sudah dari kecil Deon menjadi warga Jakarta, namun baru kali ini dia menginjakkan kakinya di pulau ini. Biasanya papanya hanya akan mengajak mereka berwisata ke luar negeri.
Di pulau ini, banyak sekali aktivitas yang dapat lakukan para wisatawan. Mereka dapat melakukan kegiatan snorkeling, diving, melihat penangkaran penyu dan lain-lain. Kegiatan itu, jarang ditemukan di pulau lainnya. Sesekali Deon tersenyum, ingin membawa Resa dan Keluarga melancong ke pulau ini, atau bahkan jika Resa berminat mereka akan tinggal di pulau ini. Pulau yang hanya berpenduduk sekitar 2.500jiwa/kilometer sungguh membuat daya tarik tersendiri bagi Deon yang terkadang jengah oleh keramaian Jakarta daratan. Berdasarkan sejarahnya, dahulu pulau ini bernama Pulau Elang. Perubahan nama menjadi Pulau Pramuka karena dahulu pulau tersebut sering digunakan untuk kegiatan pramuka pada tahun 1950-1970. Pulau ini menjadi pusat administratif Kepulauan Seribu.
Menjelang kapal berlabuh Deon melihat banyaknya terumbu karang yang indah, dan tentunya menjadi incaran para wisatawan. Pulau ini menjadi favorit para pecinta konservasi alam yang letaknya di Pulau Seribu Tak heran jika banyak wisatawan yang betah berwisata di pulau ini. Hal ini dikarenakan pemandangan alam yang indah di sekitar pulau dan sikap penduduk yang ramah kepada setiap wisatawan yang berkunjung.
Deon mulai menurunkan motornya untuk keluar dari dak kapal penyeberangan itu. Ia mencari alamat kantor kecamatan itu. Ternyata Kantor kecamatan itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Deon menjalankan motornya hingga masuk ke halaman kantor itu. Kantor kecil dengan cat berwarna kuning itu terlihat masih sunyi.
Seperti instruksi dari bagian informasi yang ada di lobi kantor kecamatan ini, Deon disuruh menunggu di depan ruangan camat. Tidak perlu menunggu lama, camat yang yang tunggu pun tiba, dan mempersilahkan ia masuk.
Lelaki paruh baya itu membuka pembicaraan, “Dengan pak Deon Ananda Putra Wira Kusuma?” kata beliau.
“Iya, pak, maaf, bukankah seharusnya saya yang memperkenalkan diri terlebih dahulu?” kata Deon dengan gugup.
“Santai saja pak Deon, wajah saya saja yang seperti Rahwana, tapi hati saya tetap Arjuna!” kata pak camat itu.
Deon tersenyum, dan berpikir dalam hati. “untung saja dia tak bilang, kalau hatinya seperti hello Kitty, bisa-bisa menari gue disini!”
“Oh, ya Pak Deon, Anda di sini diminta untuk menggantikan seksi pemerintahan yang mutasi ke kantor bupati, yah, begitulah pak, yang namanya jabatan di pulau seperti ini cepat sekali berubahnya, mungkin hal itu juga akan terjadi pada pak Deon sendiri!” kata atasannya itu lagi. Dari perkataan beliau bisa dipastikan yang bekerja di pulau ini mungkin hanya sebentar saja.
“Baiklah pak, tapi saya belum kepikiran pak, memulainya saja saya belum, kerjaan itu ibarat jodoh pak, kalau yang jauh lebih membahagiakan dari pada yang dekat, ngapain mesti menyakiti diri dengan dengan berpura-pura bahagia di tempat yang dekat.!” Kata Deon bak seorang yang bijak.
“Ini, ini, karakter pemuda yang seperti ini saya suka, belajar hidup sederhana tanpa mengganggu kehidupan orang lain. Oh Ya, pak Deon nanti dalam bekerja kamu akan dibantu dengan Ibu Andini. Beliau tamatan dari kampus yang sama dengan Anda, bahkan saya lihat dari nomor induk kepegawaiannya kamu satu tingkat. Nah, ini dia, panjang umurnya!” Deon memandang kebelakang.
Hati Deon tergerak, walaupun wanita ini sudah berjilbab dalam, ia ingat betul mata wanita yang ia temui pertama kali ketika ia diantar ke kampus praja itu.