
Pikiran Nayla terasa tercampur aduk saat mengingat Rey mecium bibirnya, tak henti hentinya cairan bening membasahi dagu runcingnya. Saat berjalan ia tidak bisa berpikiran jernih dan jalannya pun sempoyongan tak terarah.
Seketika rasa rindu Nayla langsung berubah menjadi rasa benci. Suara dering phonsel dari dalam tasnya kemudian membuyarkan lamunannya.
"Hah Michael" gumamnya langsung menyeka cairan bening yang membasahi pipinya. ia langsung berlalu menyentuh ikon berwarna hijau di layar phonselnya.
"Hey Nayla kau dimana sekarang aku dan Chelsia sedang mencarimu" Suara michael dari balik phonsel milik nayla.
"A-aku dii_ _" belum selesai menjawab suara Nayla langsung dipotong oleh michael.
"Kau menangis, apa yang telah orang brengsek tadi lakukan padamu" hawatir michael
"Astaga Nayla kamu bodoh sekali" gumam Nayla menepuk dahinya sendiri.
"Aku tidak menangis, kau pulanglah dulu bersama Chelsia" saut Nayla dengan suara sesegukan
"Cepat bilang kau dimana, aku akan menjemputmu" teriak Michael,. "Kenapa diam saja, cepat katakan" imbuh michael.
"Ahh.... keras kepala sekali" gumam Nayla
"(Menghela Nafas) Aku masih di tempat yang tadi...." saut Nayla langsung menyeka air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kau tunggu di sana, Aku dan Chelsia akan langsung menjemputmu" saut Michael langsung mematikan telponnya.
"Haduhhh benar benar menyebalkan" gumam Nayla seraya berdiri di pinggir jalan
Tak lama kemudian terlihat mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Nayla pemilik mobil itu adalah Michael. Chelsia langsung turun dan menghampiri Nayla.
"Nayla kenapa matamu bisa sembab seperti ini" tanya Chelsia seraya menyentuh mata sembab Nayla.
"Ayo pulang" teriak Michael dari dalam mobil.
"Huhh...!! sabar sedikit kenapa" saut chelsia melirik ke arah saudara kembarnya.
"tidak apa.... ayo, kita pulang" pinta Nayla menarik tangan Michael masuk kedalam mobil.
"Dasar menyebalkan...." ucap Chelsia
Michael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekitar 15 menit kemudian ia menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Nayla. ia langsung turun dari mobil itu dan chelsia pun mengikutinya.
"Mau kemana kau....?" tanya michael mengerinyitkan dahinya.
"Aku mau menemani Nayla" saut chelsia berlalu ingin masuk ke dalam rumah Nayla.
"Apa kau tidak mau mampir dulu" tanya Nayla menepiskan senyuman
"Tidak perlu...! Chelsia ayo pulang" saut Michael mengalihkan pandangannya dari Nayla.
"Cepat pulang....!!" bentak Michael menautkan kedua alisnya menatap Chelsia.
"Sudahlah..., kau pulang saja" pinta Nayla menepuk pundak Chelsia.
"Tidak...!! aku mau menemanimu di sini" saut Chelsia menatap kedua mata Nayla.
"Chelsi Ayo cepat....!!" bentak Michael menatap tajam kedua mata Chelsia
"Chel.... tidak apa apa, kau bisa kemari di lain hari" saut Nayla menepiskan senyuman di bibirnya.
"(meghela nafas) Baikalah....!!" saut Chelsia berdecak kesal berlalu memasuki mobil.
Sajujurnya hati Nayla masih terasa sesak sekali, ia membutuhkan teman untuk berbagi rasa sesaknya saat ini. Tapi ia mencoba tetap tegar di hadapan semua orang ia menyembunyikan rasa sakitnya itu. ia berlalu masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kaki menuju balkon kamarnya yang terasa sejuk untuk menenagnkan diri. Saat ini michael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kau puas....!!" ucap Chelsia menatap ke arah Michael.
"Apa maksudmu...?" saut Michael yang masih fokus dengan kemudinya.
"Puas kau...!! puas kau selalu seenaknya memerintahku....!!" saut chelsia meninggikan nada suaranya.
"Jaga bicaramu...!" saut michael ia langsung terkejut melihat pipi adik perempuan sekaligus saudari kembarnya dibasahi dengan cairan bening yang keluar dari mata imut adiknya.
"Kenapa memangnya....? kau dan aku hanya berbeda berapa menit, saat lahir di dunia ini" jawab Chelsia membuat Michael langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi.
"Kenapa kau menangis seperti ini" tanya Michael seraya menyeka air mata Chelsia
"Aku hanya ingin menemani Nayla di rumahnya, kenapa kau memaksaku pulang...?" saut Chelsia langsung menepis tangan Michael.
Mendengar Nama Nayla membuat Michael langsung kesal karena masih merasa kecewa dengan Nayla ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh membuat Chelsia semakin kesal terhadapnya.
.
.
.
.
.
.
.
.