
Sampai sekarang pintu ruangan itu masih tertutup rapat, hanya ada beberapa suster yang keluar masuk dengan membawa wajah kepanikannya, Rey dan yang lainya yang melihat itu semakin gugup dan tak sanggup melihatnya, mereka mencoba menayangkan kepada suster itu namun hasilnya nihil, suster itu menyuruh mereka untuk bersabar
Tak ada kata kata yang mereka ucapkan setelah itu, lampu di dalam ruangan itupun masih hidup, yang tandanya operasi masih berjalan hingga sekarang waktu sudah menunjukan pukul 23.00.
Dan sekarang sudah hampir memasuki bulan baru yaitu bulan April, hanya Rey, Faisal dan Gabriel yang masih menunggu di sana. Daniel masih berada dalam perjalanan menuju kerumah sakit karena ia mengantarkan mama mertua sahabat baiknya dan yang lainnya,
Sebenarnya mereka tidak mau diantar pulang dan bersikeras untuk tetap disana menunggu, tapi Faisal membujuk mereka hingga mereka tak ada pilihan lain selain untuk menurutinya.
Faisal sendiri sangat ketakutan menghadapi situasi ini, dirinya berpikir kalau semua itu salahnya kalau saja ia tidak meminta dan memohon kepada Putri nya untuk menikah diumurnya yang masih muda, pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini. Faisal sangat menyesali semua ini, dan tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi hal buruk terhadap Putri nya itu
Namun penyesalan Faisal tidak berguna sekarang, karena nasi sudah jadi bubur, terlambat untuknya menyesali semua ini sekarang.
Rey yang melihat papa mertuanya, yang sendiri tadi terus berdiri di depan pintu ruangan itu pun mulai menyadari kalau papa mertuanya itu pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi terhadap istrinya, kelihatan saja dari gelagat dan tatapannya itu.
Dengan kaki lemas Rey yang sebelumnya masih terduduk di kursi, kemudian berdiri dan menghampiri papa mertuanya itu, Gabriel yang melihat itu langsung berinisiatif memapahnya tapi Rey menolak nya dengan lembut
"Papa...! " ucapnya dengan suara paraunya membuat Faisal menoleh kearah nya sambil menitihkan bulir air mata, tak ada satu katapun yang terucap di bibir Faisal, hingga membuat Rey memanggilnya lagi dan lagi,
Saat melihat sahabat baik yang tidak pernah menangis seperti itu, teman mana yang tidak akan ikut menangis, tak bisa dibayangkan suasana di sana, para pria pria kuat semuanya menagis tak bersuara dalam diam.
.
.
.
.
.
.