
Saat Nayla ingin dapur ia melihat kalau Faisal, Bianka dan Kayla sedang berada di ruang makan mereka sedang asyik bercanda gurau bersama di meja makan jadi ia mengurungkan niatnya untuk kedapur. Saat melihat Nayla semakin mendekat Faisal dan Kayla langsung menggodanya.
"Selamat pagi pengantin baru" goda Kayla membuat Nayla malu
"Anak papa ini terlihat bahagia sekali, sini coba ceritakan sama papa" goda faisal membuat wajah Nayla merah seperti tomat
"(bersemu merah) Hentikan...., jangan menggodaku lagi" saut Nayla
"Kemarilah nak jangan dengarkan mereka" pinta mama Bianka dan Nayla pun mengiyakannya.
"Dimana Rey?" tanya Bianka
"Masih dikamar" saut Nayla
"Mungkin sebentar lagi dia menyusul" timpalnya
Tak lama kemudian Rey dan kevin pun datang menghampiri mereka di meja makan, Rey menyapa hangat semua orang kemudian ia mendudukan dirinya di samping istrinya. setelah itu Nayla mengautkan makanan di piring suaminya seperti yang biasanya dilakukan oleh Bianka untuk Faisal, mereka memulai makan pagi bersama sembari makan mereka juga menyelipkan gurauan kepada pasangan pengantin baru.
Seusai makan, mereka langsung kembali ke kamarnya masing masing. Namun Rey meminta Nayla untuk duluan kekamar karena ia ada urusan sebentar dengan papa mertuanya.
Setelah sampai di kamar Nayla mendudukan tubuhnya di tepi kasur kerena masih merasa nyeri disana, setelah itu ia melepas syal yang masih membalut lehernya dan beranjak berdiri untuk melihat bekas itu di cermin.
"Sungguh mengerikan, bisa bisanya dia membuatnya sebanyak ini" gerutunya kesal
Setelah itu ia meraih phonselnya yang berada di meja dan melihat banyak sekali pesan chat dari chelsia, fany, dan adik iparnya.
[Nayla apa kau menyukai kelopak mawar di kamarmu] ~Fany
[Pasti dia sangat menyukainya] ~kayla
[Kami menghiasnya dengan susah payah] ~Fany
[Kau harus mentraktir kami untuk itu] ~Chelsia
[Hahahaaaa ajak kami makan sepuasnya] ~Fany
[setujuu, aku belum pernah makan makanan daerah sini] ~Kayla
#masih banyak pesan chat mereka#
"Apa apaan mereka ini, bahagia di atas penderitaan orang lain" geram Nayla tertawa kecil
"mereka sungguh menyebalkan sekali" gerutunya memanyunkan bibirnya.
Setelah itu ia berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari, ia juga melihat banyak orang yang sedang membereskan halaman rumah yang masih terlihat banyak sekali dekorasi bekas resepsinya kemarin.
Nayla menyadari kedatangan Rey yang tiba tiba saja mendekap pelan tubuhnya dari belakang
"Sedang apa kau disini" tanya Rey mengendus leher Nayla
"Aku suntuk di dalam kamar" saut Nayla membalik tubuhnya menghadap penuh kearah Rey
"Sini duduk dulu" pinta Rey dan Nayla pun mengiyakannya
"Apa kau sangat suntuk berada di sini" tanya Rey
"Hmm, suntuk sekali" saut Nayla
"Kalau begitu, aku akan mengajakmu pindah rumah" saut Rey
"A-apa...?? pindah rumah, tidak aku tidak mau" ketus Nayla
"Nggak tuh..., malah papa dan mama yang memintaku untuk mengajakmu pindah kerumah sendiri" saut Rey
"Kau bercanda" ketus Nayla
"Aku tidak bercanda, kalau kau tidak percaya coba tanya sendiri" saut Rey
"kalau di ingat ingat kejadian waktu itu, Rey sepertinya tidak berbohong kepadaku" gumam Nayla dalam hati
"Tidak usah" ketus Nayla mendengus kesal
"Apa kau mempercayaiku" tanya Rey melebarkan senyum
"Kau sekarang suamiku, jelas aku akan percaya padamu" saut Nayla
"Benarkah" saut Rey bergurau membuat Nayla kesal
"Lupakan saja, aku malas berbicara denganmu" ketus Nayla memanyunkan bibirnya
"Aku hanya bercanda...., kenapa kau jadi kesal seperti ini" saut Rey mengkecup bibir Nayla
"Kalau begitu ayo ikut aku" ajak Rey
"Tunggu aku pakai Syalku, kita mau kemana sih" Tanya Nayla
"Ikut saja" saut Rey seraya menarik tangan Nayla
"Rey pelan pelan" pinta Nayla
"Apakah masih sakit" tanya Rey menghentikan langkahnya
"Masih terasa nyeri, ini semua salah dirimu tidak bisa pelan pelan tadi malam" ketus Nayla membuat Rey terkekeh.
"Lain kali aku akan pelan pelan" goda Rey
"(bersemu merah) Tidak..., aku tidak mau melakukannya lagi" celutuk Nayla
"Apa kau tega tidak memberikan jatah kepada suamimu" saut Rey memelas
"Astaga...., lihatlah wajahnya itu membuatku tidak tega menolaknya" gumam Nayla
"Sudahlah...., ayo cepat kau mau membawaku kemana" seru Nayla memalingkan wajahnya
.
.
.
.
.
.
.
.