My soulmate Forever

My soulmate Forever
Terlihat Aneh



Sekitar jam 8 malam Rey dan Nayla akhirnya sampai di Venesia, mereka berdua pergi ke hotel yang sudah di pilihkan oleh Faisal dan kakek william, saat memasuki lobby untuk check in, mereka disambut hangat oleh seorang pria paruh baya dan seorang wanita yang seumuran dengan Rey yang tak lain adalah pemilik hotel itu.


Nayla terkejut saat melihat Rey mahir sekali menyauti perkataan pemilik hotel yang ternyata adalah rekan bisnis kakek William sejak dulu, disana mereka berbincang menggunakan bahasa italia (Ven dialeto, it dialetto)


"dia mahir sekali, aku saja tidak semahir itu...." gumam Nayla dalam hati


"Perkenalkan dia istriku" kata Rey memperkenalkan Nayla kepada pemilik hotel ini.


"Halo saya Nayla Gladiezie Putri salam kenal" timpal Nayla melebarkan senyuman


"Tidak usah terlalu formal seperti itu, namaku Renallo moretti panggil saja aku paman allo" kata paman Renallo tertawa "dan ini putriku Ferrara moretti" timpalnya menunjuk kearah perempuan yang sendari tadi selalu menatap kearah suaminya.


"Halo aku Ferrara, panggil saja aku rara" ucapnyya


"Mohon bantuannya selama kami berada di sini" saut Nayla melebarkan senyumnya


"Dengan senang hati" saut Rara


cukup lama mereka berbincang bincang di lobby hotel itu, tiba tiba saja kepala Nayla terasa sangat pusing perutnya juga terasa seperti di aduk aduk, membuatnya mengerinyit kesakitan.


"Nayla kau kenapa..., apa kau baik baik saja" tanya Rey khawatir seraya memegangi kedua pundak istrinya


"kepalaku terasa berat sekali... " sautnya seraya menyentuh keningnya, "mungkin aku hanya kelelahan saja" timpalnya


"kalau begitu ayo aku akan membawamu kekamar" saut Rey,


"aku akan mengantar kalian menuju kamar" kata Ferrara "mari ikuti aku" timpalnya langsung diyakan oleh Rey


Rara mengantar Rey dan Nayla menuju ke lantai 3, setelah sampai dia langsung menujukan kamar milik mereka berdua


"Sudah sampai..., kalian silahkan masuk kalau butuh bantuan kalian bisa cari aku" pinta Rara menunjukan pintu kamar mereka


"Oh ya..., barang barang kalian akan dibawa oleh pegawai nanti" ucapnya


"Trimakasih sudah mengantar kami" ucap Rey datar


"Sudah menjadi tugasku melayanimu" saut Rara melebarkan senyumnya


"Maksudmu...?" ketus Nayla mengrutkan dahi


"Ehh maksudku melayani kalian" saut Rara gugup, "kalau begitu aku permisi dulu" timpalnya langsung pergi


"Ayo masuk... " ajak Rey seraya menarik lengan istrinya dan mendudukan nya di kasur, "apa kepalamu sekarang masih sakit" timpalnya menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya


"sudah tidak lagi...," celutuk Nayla melebarkan senyumnya, "aku mau mandi dulu" timpalnya


"apa kau benar benar merasa baikan" tanya Rey menyentuh dagu istrinya


"iyaa sayang... aku baik baik saja" saut Nayla


"pasti kau merasa sangat kelelahan, kalau begitu aku akan membantumu mandi" ucap Rey mendekatkan wajahnya ke istrinya.


"Tidak... aku bisa mandi sendiri" ketus Nayla langsung berlalu pergi mandi, mebuat Rey terkekeh melihatnya, sekitar setengah jam kemudian Nayla sudah mengenakan pakaian santainya, ia berlalu keluar dari kamar mandi seketika kedua matanya langsung menyapu seluruh ruangan kamar yang terlihat sangat luas ini, dan ia melihat suaminya tertidur di sofa dengan posisi masih duduk bersandar.


"Dia tertidur... apakah aku mandi terlalu lama" celutuk nya tenggelam dalam pikirannya yang tadi, seraya menatap penuh kearah suaminya yang sedang tertidur


"Apa kau merasa senang menatapku dari tadi" goda Rey


"Ehh... aku tidak menatapmu" celutuk Nayla memalingkan pandangannya ke sembarang arah, "siapa juga yang menatapmu" timpalnya terkekeh


"Benarkah apa kau serius... " saut Rey, kemudian mengerhapkan kedua matanya


"kalau aku terus melawan, bisa bisa hal ini jadi semakin rumit" gumamnya dalam hati, "sudah sudah aku hanya bercanda saja...." ketus Nayla memanyunkan bibirnya membuat Rey menahan senyumnya,


"Kemarilah... " pinta Rey melebarkan tangan peace nya kepda istrinya


"Aku... " saut Nayla menunjuk kearah dirinya sendiri


"Iya sayang... siapa lagi kalau bukan dirimu" saut Rey merasa gemas, "kemarilah aku ingin memeluk tubuhmu" timpalnya tersenyum menggoda


"iya iyaa..." saut Nayla tertawa kecil


.


.


.


.


.