My soulmate Forever

My soulmate Forever
Begitu Berharga



Berhari hari Rey terus terusan mencari keberadaan istrinya, tapi hasilnya tetap nihil, ia tidak menemukan keberadaan istrinya, ia tidak menyangka kalau kejadian kemarin membuatnya menjadi kacau seperti ini


***


Hari ini saat Rey sedang duduk di tepi kasurnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga melamun seperti itu, tapi lamunannya dibuyarkan oleh suara notifikasi dari handphone nya....


Tut.... tut....


Rey sudah putus asa mencari Nayla sejujurnya ia sangat enggan sekali meraih phonselnya, tetapi ia tetap membukanya dengan harapan baik


Seketika Kedua matanya langsung melebar sempurna saat ia melihat kalau ia mendapat pesan dari istrinya yang ditunggu tunggunya selama ini dirinya begitu bahagia dan tanpa pikir panjang ia langsung pergi menuju tempat yang di share oleh istrinya itu.


Disisi lain Nayla diantar oleh Leon kedepan pintu rumahnya, karena Leon ada rapat keperluan lain ia harus pergi sebelum bertemu dengan rey.


Drtttt.... !!!


Drttttt.....!!!


Handphon milik Nayla bergetar.... ia kemudian meraihnya, ternyata Rey is calling.... !!!


"Sayang... kau ada dimana. ..??? " katanya dengan suara parau bercampur aduk antara panik, bahagia, dan terharu


Deg......!!!


"Aku tidak tahu nama tempat ini.... kau lihat saja Map nya...! " jawab Nayla dengan nada datar


"Kamu tunggu di situ saja ya sayang.... jangan beranjak sedikitpun, aku segera sampai.... !! " katanya kembali dengan tulus bercampur bahagia


"Hmmm baiklah.... "


Rey langsung memacu kemudinya untuk menjemput Nayla


Gabriel dan Daniel turut bahagia mendengar kabar itu pencarian Nayla pun langsung dihentikan semuanya.


"Aku belum makan, mari kita makan dulu sebentar... " ajak Rey dan Nayla menganggukan kepalanya saja


Rey mengajak Nayla ke kafe yang tempatnya tak jauh dari sana, Rey memesan makanan untuknya dan Nayla, ia menyadari kalau dari tadi istrinya itu tidak berbicara sama sekali hanya menganggukan kepalanya saja.


"Apa kau sakit sayang...., kau baik baik saja kan...??" Rey bertanya kepada Nayla namun Nayla hanya menggelengkan kepalanya saja


"Kau kemana saja...? aku hampir mati karena gila memikirkanmu, apa kau masih marah...??" Rey kembali bertanya kepada Nayla dengan lembut


Nayla hanya mengagukkan kepalanya. Rey yang sendari tadi mencium pipi Nayla sambil menangis di sampingku


Tak pernah terbayangkan, Rey yang kuat dan tegar itu bisa menangis karenanya. Disitulah Nayla mulai luluh kembali di hadapannya.


"Apakah aku begitu berharga dihatinya...? apakah ini bukan mimpi...?" gumam Nayla bertanya tanya di dalam telur hatinya yang paling dalam


"Sayang....!! jangan pernah pergi lagi, aku bisa gila kalau kau pergi lagi, kalau kau pergi lagi lebih baik aku mati saja....!!! " ucap Rey dengan nada pasrah


"Maafkan aku....!! aku yang salah, sebagai istri aku hanya memikirkan keegoisan ku sendiri, aku cemburu saat melihatmu di wanita itu menciummu" Nayla mulai sesuggukan didepan Rey hingga membuatnya sedih


"Wanita itu bernama Ghanis, ini semua bukan salahmu, aku yang salah karena aku terlalu plin plan sebagai seorang suami" ucap Rey pelan, dan mulai menceritakan kejadian kenapa ia bisa bertemu dengan Ghanis saat itu dari awal sampai akhir termasuk kejadian itu yang membuat mereka sampai bertengkar seperti ini, ia tidak ingin menyembunyikan masalah itu dari istrinya


.


.


.


.


.


.