My soulmate Forever

My soulmate Forever
Menyetujuinya



"Tunggu saat Rey dan Nayla sudah siap ya Kek" tutur Rey melebarkan senyumannya.


"Tapi kakek mau menyaksikan cucu kakek menikah sebelum terlambat" pinta kakek William membalas senyuman cucunya.


"Kakek kenapa berbicara seperti itu lagi, sudah Rey bilang berkali kali jangan berbicara seperti itu" teriak Rey membuat bungkam semua orang di dalam rumah itu.


"Maafkan kakek nak tapi kakek benar benar ingin melihatmu menikah sebelum terlambat" pinta kakek william seraya berlalu meninggalkan mereka dan masuk kedalam kamar.


Seketika suasana di dalam ruangan itu langsung hening tak ada satupun kata kata yang terucap. Tapi suara Bianka langsung membuyatkan keheningan disana.


"(menghela nafas) Nak tante mengerti perasaanmu saat ini, karena dulu tante juga pernah merasakan berada diposisimu" kata Bianka membuyarkan perasaan sesak Rey.


"Benarkah" tanya Rey langsung menatap ke arah Bianka


"Iya Nak, sekarang masih belum terlambat untuk memenuhi keinginan Kakekmu" tutur Bianka membuat Rey tertegun dan berfikir keras untuk mencerna kata katanya.


"Dengan Menikah" tanya Rey dan Bianka langsung menganggukan kepala.


"Iya Nak" saut Bianka


"Tapi bagaimana dengan Nayla" imbuhnya menatap Nayla.


Perkataan Rey langsung tersentak di dalam telinga Nayla, sekarang sudah tidak ada pilihan lagi baginya untuk menolak pernikahan ini.


"(menghel nafas) Aku akan menyetujuinya" Saut Nayla lirih.


"Benarkah kau tidak bercanda" tanya Rey dan Nayla menganggukan kepalanya.


"Syukurlah sekarang masalah sudah beres, sekarang cepat pergi temui kakemu bersama Nayla" pinta Faisal memegang kedua bahu calon menantunya itu.


"Trimakasih Om Tante" ucap Rey berlalu mengajak Nayla untuk menemui kakeknya.


Saat melangkahkan kaki menuju kamar kakek Nayla merasa tubuhnya terasa lemas sekali saat mengingat kalau ia sendiri lah yang terlah menyetujui untuk menikah dengan Rey.


"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa" gumamnya memijat halus kepapanya.


"Trimakasih karena kau mau menikah denganku" kata Rey membuat Nayla terkejut.


"Jangan berlebihan, aku menerima permintaanmu hanya untuk memenuhi permintaan Papa" saut Nayla memelankan nada suaranya.


"Ingat kita menikah ini karena ingin memenuhi permintaan orangtua kita. Jadi jangan berharap lebih" imbuhnya


"kau tenang saja, lagi pula kau bukan tipeku" saut Rey menaikan sebelah sudut bibirnya.


"Astaga orang ini menyebalkan sekali" gerutu Nayla berdecak kesal.


Setelah sampai di kamar kakek Rey dan Nayla berlalu masuk dan menemui kakek William yang terlihat sedang duduk di tepi kasurnya.


"Kakek" sapa Rey namun kakek tidak menggubrisnya.


"Benarkah? kalau begitu syukurlah Nak kalau kalian berdua akan menikah secepatnya" saut Kakek William melebarkan senyumnya.


"Maafkan sikap kakek saat di bawah tadi" pinta Kakek william.


"Tidak apa kek" saut Nayla menepiskan senyumanya.


"Kakek hanya ingin melihat kalian menikah menikah nak" imbuh kakek.


"Tapi kalau Rey menikah siapa yang akan menjaga kakek" tanya Rey menatap wajah keriput kakeknya.


"Tenanglah kan masih ada Adik adikmu yang akan menjaga kakek" saut Kakek William menepuk halus pundak Rey.


"Hah Rey masih ada adik adik lagi tapi kenapa mereka tidak terlihat disini" gumam Nayla mengerutkan dahinya.


"Kalau begitu Rey pamit keluar dulu bersama Nayla, kakek istirahatlah" pamit Rey dan kakek langsung mengiyakanya.


Rey dan Nayla berlalu meninggalkan Kamar Kakek, saat sampai di ruang tamu mereka berdua tidak mendapati keberadaan Faisal dan Bianka. Tapi Hannah langsung memberitahukan kalau Faisal dan Bianka sudah pulang dari tadi mereka menitipkan pesan kepada Hannah untuk menyampaikan kepada Nayla kalau mereka ada urusan mendadak yang harus di selesaikan dan menitipkan salam untuk kakek William.


"Astaga kenapa mama papa sangat menyebalkan sekali, kenapa tidak langsung memberitahuku kalau mau pulang duluan" gumam Nayla merasa kesal.


"Trus aku harus bagaimana ini sudah sangat larut malam sekali, aku tidak berani kalau harus pulang sendirian malam malam" gerutu Nayla namun tak sengaja terdengar oleh Rey.


"Kau boleh menginap dulu di sini" pinta Rey.


"Kau tidak mau mengantarku pulang" tanya Nayla mengerutkan dahinya.


"Tidak" saut Rey


"kenapa?? kan aku ini calon istrimu" tanya Nayla merasa kesal


"ini sudah malam sekali dan aku merasa sangat lelah" saut Rey menahan senyumanya.


"Dasar menyebalkan" gerutu Nayla mengerucutkan bibirnya membuat Rey gemas melihat kelakuannya.


.


.


.


.


.


.


.