
“Papa... ” panggil Rey sekali lagi
“maafkan papa, Rey..... ini semua salah papa, jikalau saja papa tidak buru buru menikahkan kalian, pasti ini semuanya tidak akan terjadi” ucap Faisal menyesali perbuatannya
“Papa.... ” Rey tak tahu ingin berbicara apa sekarang, ia hanya terpaku membeku melihat papa mertuanya seperti itu
“papa tidak akan memaafkan diri papa kalau terjadi sesuatu dengan Nayla” ucapnya
“Tidak.... !!” suara Rey menggema di lorong itu, membuat Faisal, Daniel, dan Gabriel kaget karenanya,. “Papa tidak salah.... tidak ada yang salah, ini semua sudah takdir dari tuhan” timpalnya
“Rey.... ” lirih Faisal, Gabriel, dan Daniel mereka tahu kalau Rey sekarang sedang menyalahkan dirinya sendiri, tapi seketika mereka langsung membeku saat mendengar suara....
“Owe.... owe.... owe.... ” terdengar suara tangisan bayi yang gantian menggema dalam ruangan IGD tersebut hingga keluar, membuat Rey dan yang lainnya mengalihkan pandangan mereka sambil terkejut
“ Hah.... suara bayi... ” kata Faisal mencoba tersenyum
“ Bayi...!!” ucap Rey membatu, dipikirannya teringat kalau ia hanya menyetujui kalau Nayla saja yang akan diutamakan selamat,. “tidak... tidak mungkin, Nayla tidak mungkin....” pikirannya sekarang sudah berlarian kemana mana. Kemudian dokter keluar dari ruangan IGD itu, dan bertanya
“ Selamat malam.... syukurlah bayi anda selama dan sudah lahir, tapi_ _ _" kata dokter Anindya itu dengan senyum bahagia tapi, belum selesai dokter itu berbicara Rey langsung menyelanya
“ Bayi....!! dokter bilang hanya ada satu dari mereka yang akan selamat, dan dokter menyuruhku untuk memilih antara mereka berdua ” ucap Rey dengan tubuh menggetar,. “ jangan bilang ” Rey menggantungkan suaranya karena tidak sanggup menlanjutkan nya
Karena pikirannya hanya sibuk menyalahkan dirinya sendiri ia juga sampai tidak bisa mengatur emosinya sendiri, hingga tidak bisa berfikir jernih dan langsung nyelonong masuk kedalam ruangan itu untuk menemui istrinya, dengan tubuh bergetar dan keringat dingin mengucur di dahinya. Rey kemudian masuk, dan diikuti oleh dokter Anindya dari belakang
“pak Rey... ” panggil dokter Anindya masih sabar dengan Rey yang selalu saja memotong perkataannya, sebenarnya ia sangat kesal sekali tapi apa boleh buat ia tidak berani seperti itu, apa lagi mengetahui kalau Rey salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit itu
“ cukup...! jangan berbicara denganku ” ketus Rey tanpa memandang dokter Anindya
“ Tapi pak_ _ ” seperti biasa perkataan dokter Anindya langsung disela
“ aku tahu... kumohon jangan membuatku sesak, aku tidak mau mendengarnya dari orang lain ” ucap Rey membuat Dokter Anindya kebingungan
“ Hah... ada apa dengan orang ini, aneh sekali. tidak mau mendengarnya dari orang lain, maksudnya itu tidak mau mendengarnya dariku. Baiklah.....!! terserah, aku tidak mau lagi berbicara denganmu, bodoh... padahal wajahnya sangat tampan, hatiku saja hampir luluh, tapi sayang dia tidak bisa berpikir jernih. Lagipula dia sudah punya istri dan aku juga sudah punya suami. kan tidak mungkin.... ” gumam dokter Anindya dalam lubuk hatinya yang paling sabar
.
.
.
.