
Rey megendong Nayla dan mendudukanya di tepi kasur, ia menatap wajah istrinya begitu seksama. tiba tiba saja tangannya langsung merengkuh pinggang Nayla dan menggeser tubuhnya lebih mendekat kepada istrinya itu.
"Rey tanganmu" ucap Nayla mencoba menepiskan tangan Rey namun sia sia karena Rey semakin mengeratkannya
"Kenapa memangnya? aku hanya ingin menagih janjimu saat itu" saut Rey menyentuh halus bibir mungil Nayla hingga membuat Nayla kepanasan.
"Janji...?? yang mana" ketus Nayla
"Yang waktu kita ke toko boutique" saut Rey
"Apa...?? kenapa dia masih mengingat itu" gumam nayla dalam hati
"Tu-tunggu dulu, aku mau memasang bajuku" pinta Nayla beranjak dari kasur, namun Rey menarik tangannya
"Untuk apa kau memasang bajumu, apa kau mau menghindariku" tanya Rey namun Nayla menggeleng kepalanya dan bersusah payah menelan ludahnya hingga membuat keringat dinggin mengucur didahinya
"Aku hanya ingin melakukan itu denganmu sekarang" saut Rey
"A-apa" Nayla begitu gelagapan, demi apapun ia tidak pernah berada di situasi seperti ini
Nayla membulatkan kedua matanya tubuhnya tak bergeming sedikitpun saat bibirnya tiba tiba langsung dilumat begitu saja oleh Rey
"Rey tunggu" Nayla kesulitan mendapat celah untuk berbicara
"Rey" Nayla mencoba mendorong tubuh Rey namun sia sia saja, Rey masih sibuk menikmati bibir mungil milikya itu yang dirasanya begitu menggoda.
Rey merebahkan tubuh Nayla dan mulai menindih tubuhnya ia memperhatikan wajah istrinya yang begitu cantik.
"Apa aku boleh memulainya" tanya Rey seraya mengusap dahi Nayla yang dipenuhi keringat.
"I-iya" saut Nayla menggigit bibir bawahnya entah kenapa ia begitu kebingungan saat ini
Bibir Rey mulai menciumi Nayla dengan lembut, kini bibirnya mulai mengeliat di leher jenjang Nayla dan memberikan beberapa bekas di sana. jujur saja Nayla sangat menikmatinya bersama Rey.
Tangan Rey mulai mengeliat menyusupi setiap jengkal tubuh Nayla yang masih dibaluti handuk itu. Rey melepas baju yang masih melekat di tubuhnya itu hingga terlihat begitu jelas bentuk tubuhnya. Rey juga melucuti handuk yang masih membaluti tubuh Nayla, kini tubuh mereka berdua hanya di baluti oleh sehelai selimut saja,.
Mereka berdua hanyut dalam dunia mereka sendiri, namun tiba tiba saja Nayla menjerit kesakitan
"Rey sakit" jerit Nayla
"Aww" teriak Rey kesakitan
"Kenapa kau berteriak seperti itu" tanya Nayla
"kau mencakarku" seru Rey masih mencium bibir mungil di hadapanya itu
"ini sakit sekali" saut Nayla terkekeh
"Tahanlah sebentar" pinta Rey mengelus kepala Nayla
Nayla memejamkan kedua matanya saat merasa suaminya itu mulai menyakiti dirinya di bagian bawah sana membuatnya lagi lagi menjerit kesakitan
"Rey ini benar benar sakit sekali" lirihnya memejamkan matanya
"kumohon tahanlah" saut Rey tersenyum
Mereka sama sama merasakan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, Kini Nayla telah menyerahkan harta miliknya yang paling berharga kepada Rey, membuat mereka berdua menghabiskan malam yang begitu panjang.
Rey berkali kali melepas kenikmatan itu, kini hanya terdengar desahan dan jeritan yang memecah suasana hening dari luasnya kamar tersebut. terlihat banyak sekali bercak darah yang menghiasi sprei putih yang menyelimuti tubuh mereka.
Rey menciumi leher jenjang dan tubuh wangi Nayla yang terlihat tak bertenaga itu, hingga membuat mereka terhanyut berkali kali, dan membuat keringat mereka berbaur menjadi satu akibat suasana panas yang diciptakan tubuh mereka berdua.
Setelah Rey merasa lelah sekali ia mengubah posisi tubuhnya menghadap penuh ke arah Nayla yang sudah tertidur pulas dari samping, ia berkali kali menciumi bibir mungil istrinya itu. setelah itu ia memeluk erat tubuh Nayla yang terlihat tak berdaya itu, tak lama kemudian ia juga tertidur pulas seakan tak mempedulikan apapun disana.
.
.
.
.
.
.