My soulmate Forever

My soulmate Forever
Kesal Padamu



***


Flashback


Kakek william sudah mendirikan perusahaan Newmont multy unylever jauh sebelum mengenal Faisal dan Bianka, perusahaan itu ternyata mulai beroperasi saat Halley atau Daddynya Rey masih dalam kandungan istrinya.


Mereka bisa saling mengenal karena Adriana yang telah memperkenalkan mereka satu sama lain, Bianka adalah teman dekatnya Adriana sejak menengah pertama sampai mereka memiliki keluarga masing masing.


Perjodohan Rey dan Nayla juga bukan kebetulan belaka, itu semua karena Faisal, Bianka, Adriana, dan Halley sudah berjanji akan menjodohkan Rey dan Nayla disaat waktu yang tepat nanti, namun naasnya takdir berkehendak lain tiba tiba saja Halley dan Adriana meninggal saat umur Rey masih 15 tahun.


Bianka sangat terpukul saat kehilangan teman dekatnya itu, seiring berjalannya waktu mereka semua sudah bisa menerima kepergian Halley dan Adriana.


Saat 8 tahun kemudian, Kakek william menghubungi Faisal dan Bianka untuk mengkonfirmasi kelanjutan perjanjian mereka yang akan menjodohkan anak anak mereka itu, saat itu mereka sudah merencanakan semuanya tanpa sepengetahuan Rey dan Nayla sendiri.


Flashbac end


~3 hari kemudian


Sekitar jam 2 siang lebih, Faisal dan Bianka baru saja pulang setelah berkunjung kerumah menantu dan putri semata wayangnya itu, sebelumya juga mereka sudah sempat berkunjung kemarin lusa.


Nayla baru saja mengantarkan kedua orang tuanya sampai depan rumahnya, kemudian ia berlalu kembali masuk kedalam kamarnya, ia merasa bosan sekali saat rumahnya kembali sepi seperti biasanya kerena suaminya masih belum pulang dari kantornya.


Sejujurnya ia sangat merindukan suasana kampusnya yang ramai dengan ocehan para dosen dan teman temannya yang sangat menyebalkan itu.


ia meraih phonselnya karena mendengar suara notifikasi pesan ternyata ada chat dari Chelsia, Fany dan Kayla setelah itu mereka langsung disibukan chattingan bersama.


Karena merasa mengantuk ingin tidur Nayla menghentikan chat mereka, setelah itu ia meletakan phonselnya lalu merebahkan tubuhnya di kasur untuk tidur.


Baru saja Nayla memejamkan matanya tiba tiba terdengar lagi notifikasi pesan dari phonselnya tapi ia tak menggubrisnya karena merasa malas sekali mengerakkan tubuhnya untuk meraih phonsel di meja itu, namun bunyi notifikasi phonselnya semakin membanyak membuatnya mengumpat kesal untuk meraih phosel itu


"Siapa sih...., kurang kerjaan banget orang mau tidur juga" ketusnya menghidupkan layar phonselnya itu, ia melihat banyak sekali chat dari suaminya.


"Dia ini menyebalkan sekali" umpat Nayla tertawa kecil membaca pesan dari Rey tanpa membalasnya, membuat Rey mendegus kesal karena pesanya hanya dibaaca saja.


[Hey kenapa chatku hanya kau read saja] ~Rey


[lalu kau mau aku apakan pesanmu ini] ~Nayla


[Setidaknya balas chatku ini] ~Rey


[Aku malas] ~Nayla


"Dia ini...!! kenapa dia menyebalkan sekali, aku susah payah menyelesaikan cepat cepat semua pekerjaanku hanya untuknya seorang" umpat Rey mendegus kesal


[Lupakan saja] ~Rey


[Apa kau kesal padaku...??] ~Nayla


"Masih bertanya lagi....!! ya jelas saja aku kesal padamu" serunya merasa gemas


[Sudah lah kau tidur saja sana] ~Rey


[Aku tidak mengantuk] ~Nayla


[Lakukan apapun yang kau mau] ~ Rey, membuat Nayla merasa bersalah


"Gawat...!! sepertinya dia marah kepadaku, lalu aku harus bagaimana ini" batin Nayla merasa was was.


[Apa kau benar benar marah kepadaku] ~Nayla


[Hmmm] ~Rey


"Dia benar benar marah kepadaku, aku harus mengeluarkan jurusku" celutuk Nayla tekekeh


[Kau panggil aku apa] ~Rey


[Sayang...,] ~Nayla


"Huh..., tumben sekali dia memanggilku sayang seperti ini" umpat Rey masih kesal


[Sayang kapan kau pulang...? ] ~Nayla


[Aku akan pulang sekarang] ~Rey


[Tunggu aku dirumah..., Bye] ~Rey


"Apaa...!! kenapa dia mau pulang sekarang, apa dia benar benar marah denganku, apa dia mau menghukumku" teriak Nayla menggigit kuku jarinya.


"Aku harus bagaimana ini, mau minta tolong dengan bibi mana bisa dia kan akan pulang nanti malam" timpalnya berjalan lunglai kesana kemari.


Sekitar 10 menit kemudian terdengar suara bising mobil dari luar rumah, sepertinya Rey sudah pulang membuat Nayla langsung berlari kearah jendela untuk mengintip suaminya itu, di kepalanya saat ini hanya terpusat memikirkan "dia pasti akan menghukumku" ia benar benar gelabakan akan hal itu.


"Aku harus bagaimana ini" umpat Nayla jantungnya bedegup kencang


Tak lama kemudian terdengar suara ganggang pintu kamarnya itu terbuka membuat nayla bersusah payah menelan ludahnya hingga membuat keringat dingin mengucur dari dahinya. ia melihat Rey langsung masuk kamar ini dengan tatapan khas orang yang sedang kesal.


Rey hanya melewatinya saja tanpa menggubrisnya sedikitpun, membuatnya merasa bahagia seperti tuhan telah mengembalika cahaya kehidupannya lagi, tapi dia kepikiran dengan tatapan suaminya itu


"Apa itu kenapa dia menatapku seperti itu..., apa dia semarah itu kepadaku, apa dia mau mendiamiku..." gumamnya dalam hati "kalau dia benar benar mendiamiku bagaimana ini" ia berjalan lunglai kesana kemari sambil menggigit kuku jari "ahaa aku punya cara " pikirnya sambil menguap


tiba tiba saja Rey keluar dari dalam kamar mandi membuat Nayla langsung terkejut serasa jantungnya hampir copot, namun ia langsung melancarkan segala cara agar suaminya tidak marah lagi padanya


"Rey...." ucapnya manja menggelanyuti tangan Rey, membuat Rey menahan senyumnya


"Ada apa...." saut Rey


"Apa kau masih marah padaku" tanya Nayla namun Rey tak menggubrisnya "Rey kau mau aku melakukan apa agar kau memaafkanku" timpalnya membuat Rey menghentikan langkahnya


"Tidak perlu....," saut Rey langsung menepiskan tangan istrinya, setelah itu ia mengambil handuk dalam lemari dan masuk kembali dalam kamar mandi


"Sepertinya dia benar benar marah padaku, kalau begitu aku akan menyiapkan bajunya dulu deh" gumam Nayla menguap sampai matanya berair, stelah menyiapkan pakaian suaminya ia bingung mau melakukan apa lagi, "Lebih baik aku duduk dulu menunggunya keluar, nanti saat dia sudah keluar aku akan meminta maaf kepadanya " timpalnya mendudukan tubuhnya di sofa kamarnya, namun sekarang ngantuknya sudah tidak bisa dikondisikan membuatnya langsung tertidur di sofa itu dengan pulas seakan tak mempedulikan apapun disana.


Setelah mandi Rey berlalu keluar, kedua matanya menyapu habis seluruh kamar ia tidak mendapati kebaradaan istrinya


"Kemana dia..., tidak tau apa aku sedang kesal kepadanya, tapi dia malah pergi" umpatnya berdecak kesal, ia menatap kearah kasur ternyata sudah ada pakaian yang disiapkan istrinya, kemudian ia langsung mengenakan pakaian itu. Setelah itu Rey langsung keluar kamar untuk mencari istrinya, dan ia tidak tau kalau istrinya tertidur di sofa.


"dimana Nayla..., kenapa dia tidak ada dimana mana" ucap Rey kebingungan mencari istrinya, ia melihat bi Mila yang sedang bersih bersih rumah ia langsunh menghampirinya untuk menanyai nayla tapi bi mila pun tidak mengetahui dimana istri majikanya tersebut.


"Dia ini pergi kemana coba..., kenapa suka sekali sih membuatku khawatir" ketus Rey beranjak pergi ke kamarnya ia meraih phonselnya dan menelpon nomor istrinya namun phonsel istrinya ternyata ada di atas meja, kemudian ia menghampiri phonsel itu.


"Tidak biasanya dia meninggalkan phonselnya seperti ini" gumam Rey khawatir, setelah itu ia langsung berlari ingin mengambil jaketnya yang ada dilemari untuk mencari istrinya keluar.


Namun saat melewati sofa Rey terkejut sekali saat melihat istrinya sedang tertidur pulas di sofa itu, sontak ia berlari menghampiri dan memeluk istrinya dengan erat.


"Kau ini...., sudah ada kasur kenapa masih tertidur di sini, betapa khwatirnya aku sekarang, kukira kau pergi lagi entah kemana" gumamnya dalam hati "maafkan aku, aku lain kali tidak akan marah kepadamu" timpalnya menatap sendu wajah istrinya


.


.


.


.


.