
Semua orang yang masih berlalu lalang di sana, seketika pandangan mereka langsung teralihkan oleh perselisihan antara Rey dan Michael.
"Siapa kau" teriak Rey menautkan kedua alisnya menatap tajam ke arah michael yang sedang menahan cengkramannya di tangan Nayla.
"Kau tak perlu tau siapa aku. Sekararang juga lepaskan tangan Nayla" Saut Michael mendorong tubuh Rey.
"Apa hak mu memerintahku" saut Rey mendorong balik tubuh Michael
"Kalian berdua hentikan keributan ini" teriak Nayla seketika membungkam Rey dan Michael.
"Rey sebenarnya kau mau membicarakan apa" imbuhnya langsung menepiskan cengkraman mereka berdua.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu" saut Rey.
"(menghela nafas) Michael tolong kau pulang dulu" pinta Nayla seraya menepiskan senyuman di bibirnya.
"Tapi Nayla" saut Michael
"Kumohon pulanglah" pinta Nayla mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak aku akan menunggumu di dalam mobil, kalau sudah selesai langsung menemuiku di sana" saut Michael berdecak kesal berlalu meninggalkan Nayla dan Rey.
Michael terlihat kecewa sekali dengan permintaan Nayla. Dibalik sifatnya yang dingin sebenarnya dia sangat peduli dengan Nayla
"Maaf kan aku Michael" Gumam Nayla seraya menatap bahu laki laki yang sedang pergi itu.
Rey lalu menarik tangan Nayla pergi ke tempat yang lumayan sepi. ia mendudukan tubuh nayla di bangku panjang di bawah pohon ridang.
"Bicaralah" kata Nayla menatap sembarang arah.
"aku masih menanyai hal yang sama" saut Rey menyentuh dagu runcing nayla untuk menghadap wajahnya.
"Hal apa....?" tanya Nayla
"Menikahlah denganku" saut Rey seraya memegang kedua tangan Nayla.
Seketika Nayla langsung membungkam mendengar perkataan Rey membuat Matanya berkaca kaca tidak bisa membohongi perasaannya, hatinya terasa tertancap oleh jarum satu persatu.
Nayla langsung teringat bahwa dia telah menyetujui permintaan Papa nya menerima perjodohan dengan Cucu kakek William.
"Tidak" jawab Nayla berlalu berdiri ingin meninggalkan Rey.
Cairan bening mulai mengalir deras membasahi pipi dan dagu runcing Nayla. Hatinya terasa sesak sekali saat melontarkan perkataan itu kepada Rey dan ia mulai melangkah ingin meninggalkan Rey. Namun langkah kakinya langsung terhenti, saat Rey langsung mendekap tubuhnya dari belakang. Nayla seketika langsung terdiam dan mencoba melepaskan diri dari pelukan itu, tapi pelukan Rey sangat erat hingga ia tidak dapat melepaskan diri dari dekapan Rey.
"Jangan tinggalkan aku lagi" pinta Rey menengelamkan wajahnya di leher Nayla.
"Lepaskan" Ucap Nayla
"Maaf...." seketika langsung melepaskan dekapan tubuhnya dengan Nayla.
"Baiklah, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu" ucap Nayla membiarkan pipinya dibasahi oleh air matanya.
"Katakanlah...." saut Rey seraya membalikan tubuh Nayla dan menyeka air mata yang membasahi pipi Nayla.
"Berjanjilah, mulai sekarang, jangan pernah menemuiku lagi. Kalau memang kita bertemu, anggap saja aku seperti orang asing bagimu" pinta Nayla membuat Rey membatu akan posisinya.
"Kenapa....!!" tanya Rey menatap kearah kedua mata Nayla.
"Karena aku membencimu....!!" Teriak Nayla mengalihkan pandanganya ke sembarang arah.
Rey masih membatu akan posisinya tidak ada satupun kata yang terucap dari bibirnya.
"Berjanjilah" imbuh Nayla menatap wajah Rey.
"Aku anggap kau menyetujui perjanjian ini" imbuh Nayla berlalu ingin meninggalkan Rey.
Saat Rey menatap bahu wanita yang ingin pergi meninggalkannya itu, hatinya terasa seperti di tusuk menggunakan pisau berkali kali. Wanita itu sudah mengatakan hal yang membuat hatinya sangat sesak. Pikiranya terasa tercampur aduk, dan tanpa pikir panjang, Rey langsung menarik lengan Nayla, lalu menyatukan paksa Bibir mereka berdua. Rey melumattt bibir Nayla, dan mendorong tubuhnya hingga menyentuh Batang pohon rindang di belakang nya, hingga membuat punggung wanita itu terasa sakit. Tubuhnya Nayla semakin di himpit oleh Rey seketika itu Nayla langsung mendorong tubuh Rey dan.....
"Plakkk" suara telapak tangan Nayla menampar keras wajah Rey hingga menimbulkan bekas warna merah di kulit putihnya
"Dasar brengsek aku benar benar membrncimu" teriak Nayla langsung berlalu meninggalkan Rey sendirian di bawah pohon rindang itu, Rey hanya menatap nya dalam diam tanpa bergerak sedikit pun
"Maaf.... apa kau tau Nayla. Hatiku terasa sangat sakit, saat kau berbicara seperti itu" gumam Rey melayangkan tinjuan ke arah pohon yang rindang itu.
.
.
.
.
.