
Setelah puas melihat lihat pemandangan dari balkon, Nayla berlalu masuk ke dalam kamarnya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur karena merasa kelelahan setelah itu ia langsung tertidur pulas.
Sekitar jam 4 sore lebih terdengar suara Bi Mila mengetuk pintu membuat Nayla langsung mengerjapkan kedua matanya dan mendudukan tubuhnya di tepi kasur.
"Masuk Bii pintunya nggak dikunci kok" pinta Nayla dan bi mila mengiyakannya
"Di luar ada perempuan yang mau ketemu nona" saut Bi mila
"Siapa Bii....?? " tanya Nayla mengerinyitkan alis
"Nggak tau non..., dia bilang katanya mau ketemu sama nona" saut bi mila
"Kalau begitu bibi turun duluan aja" pinta Nayla
"Baik non" saut bibi berlalu pergi keluar
Tak lama kemudian ia berlalu keluar untuk menemui tamunya itu. saat ia sedang menuruni anak tangga ia langsung menatap kearah perempuan yang sedang duduk di sofa ruang tamu, sontak membuat kedua matanya langsung membulat sempurna saat melihat perempuan itu adalah
"Kesya" ucap Nayla membuat Kesya menoleh kearahnya
"K-kenapa dia bisa ada disini" gumam Nayla dalam hati
"Hay Nayla lama tidak berjumpa" saut Kesya
"ada apa kau kemari" ketus Nayla berjalan menghampiri
"ini rumah Kak Rey kan" tanya Kesya
"Hmmm" saut Nayla seraya mendudukan tubuhnya di sofa
"Kau ingat saat kita masih satu SMA dulu" saut Kesya
"Saat itu aku behasil merebut Kak Rey darimu" timpalnya
"Lalu" saut Nayla
"Aku juga akan merebut rumah ini darimu" ucap Kesya membuat Nayla kesal
"Apa maksudmu..!!" saut Nayla
"Aku akan menyingkirkanmu lagi dari kak Rey" ketus Kesya tersenyum licik
"Aku sangat ingat dulu kau sudah pernah merebutnya dariku, lalu kenapa dia sekarang bisa kembali padaku lagi" saut Nayla menarik sudut bibirnya
"itu semua gara gara dirimu" saut Kesya
"Aku tidak peduli tentang itu" ketus Nayla
"Ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku mau pergi" timpalnya
"tunggu dulu apa kau masih ingat alasan kenapa kak Rey mau menikah denganmu" tanya Kesya
"Hmmm" saut Nayla
"Jadi kau tidak usah berharap lebih dengan pernikahanmu dengan Kak Rey" ketus Kesya
"kenapa...??" saut Nayla singkat
"Karena cepat atau lambat dia akan meninggalkanmu" saut Kesya
"lebih baik kau harus segera pergi dari sisi kak Rey" timpalnya
"Aku mau atau tidak itu bukan urusanmu" saut Nayla
"Tentu saja ini urusanku karena kak Rey adalah miliku" tegas Kesya
"Aku tidak peduli" saut Nayla
"Sudah selesai kan, aku lelah mendengar ocehan pelakor sepertimu" timpalny
"Hey apa maksudmu menyebutku pelakor" teriak Kesya sontak membuat bi mila menghampiri mereka
"Lalu sebutan untukmu yang ingin merebut suamiku apa, apa kau mauku sebut wanita ******" saut Nayla
"Kau berani sekali" teriak Kesya menjambak rambut Nayla namun langsung dilerai oleh bi mila
"Cihh...., apa kemampuanmu hanya bermain kasar seperti ini" ketus Nayla menyentuh kepalanya yang masih sakit
Kesya tidak terima dan langsung ingin menjambak rambut Nayla lagi, namun Nayla sontak langsung mendorong tubuh Kesya hingga tersungkur ke lantai, tapi sialnya Rey pulang saat itu juga dan melihat ulahnya itu.
"Astaga mati aku, bisa bisanya aku lupa kalau Rey pulang sore" gumam Nayla menatap kearah jam dinding dan masih menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit
Saat Rey melihat kejadian itu ia langsung menolong Kesya yang masih tersungkur di lantai. dan mendudukannya di sofa.
"Apa kau merasa ada yang sakit" tanya Rey
"Tidak masalah kak Rey, kau sudah pulang dari kantor" saut Kesya langsung memeluk tubuh Rey
"Maafkan aku Nayla, gara gara aku kau jadi marah seperti ini" ucap Kesya tersenyum licik kearah Nayla.
"Nayla kenapa kau mendorong Kesya seperti itu" ketus Rey seraya melepas pelukan Kesya
"Aku tidak sengaja" saut Nayla
"Bohong aku melihat sendiri kau mendorongnya dengan keras tadi" ketus Rey
"Sudah lah kak Rey mungkin yang dikatakan Nayla benar" saut Kesya dengan palsu
"Kau jangan ikut campur" teriak Rey membuat Kesya terdiam
"Cepat jelaskan" teriak Rey
"Tidak ada yang perlu dijelaskan" saut Nayla
"Apa maksudmu....!" saut Rey
"Ya kau lebih mempercayai perkataan pelakor ini kan" teriak Nayla membuat Rey geram
"Jaga ucapanmu... !! kenapa kau tidak sopan seperti ini" bentak Rey.
"Sekarang minta maaf kepada Kesya" timpalnya
"Aku tidak mau" saut Nayla membuang mukanya
"Cepat minta maaf" bentak Rey
"Tidak usah membentak bentak seperti itu" ketus Nayla langsung bersujut dihadapan kesya membuat suaminya langsung bungkam
"Apa kau sudah puas, apa kau mau aku mencium kakinya supaya kau makin puas" timpal Nayla
"Baiklah kalau tidak ada jawaban...!! aku malas berada disini" setelah itu Nayla langsung pergi
"Mau kemana kau" teriak Rey menghentikan langkah Nayla
"Bukan urusanmu" saut Nayla
"Aku ini suamimu, jadi aku berhak tau urusanmu" ketus Rey
"Kalau kau sudah memiliki istri, kenapa kau membiarkan perempuan lain memelukmu begitu saja" saut Nayla menarik sudut bibirnya
"Kau urus saja kekasihmu itu, sekalian bawa dia ke Rumah Sakit terkenal di sini agar dia cepat sembuh. Aku sudah tidak peduli lagi" timpalnya
ia pergi menuju kamarnya untuk mengambil phonsel dan tas slempang miliknya, setelah itu ia bergegas keluar melewati mereka yang masih berada di ruang tamu tanpa menggubris perkataan mereka sedikitpun, ia keluar rumah menuju ke pinggir jalan ia menghentikan taksi yang sedang lewat, saat sedang membuka pintu mobil tiba tiba saja Rey langsung menghentikannya dan menarik tangannya dengan kasar.
"Rey tanganku sakit, kenapa kau kasar seperti ini" teriak Nayla meronta ronta
Rey menarik paksa Nayla masuk kerumah melewati kesya yang sendari tadi berdiri di tempatnya tadi, kemudian setelah sampai didalam kamar Rey langsung menghempasnya di atas kasur.
"Apa apaan kau ini, kenapa kau kasar sekali" Nayla merasa ketakutan melihat suaminya yang sangat marah seperti itu.
"Aku harus kabur darisini" gumamnya langsung berlari menuju pintu, namun ia terlambat karena Rey sudah mengkunci kamar itu dan membuangnya keluar jendela.
"Rey apa kau sudah gila...!! kenapa kau membuang kunci kamar seperti itu" teriak Nayla
"Ya aku sudah gila karenamu.....!!, aku sudah gila saat kau meninggalkanku waktu itu, aku mau kau bertanggung jawab untuk itu...," teriak Rey membuat Nayla bungkam seketika
Rey langsung melepas dasi yang masih terpasang rapi di kerahnya, kemudian ia merebahkan secara paksa tubuh Nayla di atas kasur membuatnya gemetar ketakutan.
"aku harus kabur tapi kemana, ya kamar mandi" gumam Nayla seraya melirik kearah kamar mandi
Rey mulai mencium pakasa bibir mungil istrinya dengan penuh amarah ia juga mulai ingin melucuti pakayan milik Nayla.
"Kesempatan" Nayla langsung didorong keras tubuh Rey dan berlari menuju kamar mandi, kemudian ia mengkunci pintu kamar mandi itu.
"Nayla...., cepat keluar" bentak Rey mengedor gedor pintu itu
"Aku tidak mau" ketus Nayla
"Ku hitung sampai 10 kalau kau masih tidak keluar aku akan mendobrak pintu ini" saut Rey penuh amarah
"1"
"Rey kumohon jangan seperti ini" tutur Nayla jantungnya serasa hampir copot
"2"
"3"
"Rey kumohon" ketus nayla
"4
"5"
"Kita bisa bicara baik baik" teriak Nayla
"6"
"7"
"8"
"9"
"Rey kenapa kau tidak bisa mengerti perasaanku" timpalnya membuat Rey langsung terdiam
10 menit kemudian
"Ehhh apa dia sudah tidak marah lagi" gumamnya membuka pintu kamar mandi bermaksud ingin mengintip
"Apa kau sudah selesai bersembunyi, sekarang cepat keluar" ketus Rey menarik kedua tangan Nayla
"Nayla baka baka baka" gumam Nayla dalam hati
.
.
.
.
.