My soulmate Forever

My soulmate Forever
Ada Maunya



Rey menarik tangan Nayla dan mendudukannya di tepi kasur ia menatap wajah istrinya dengan seksama lalu mencium bibir mungil itu.


"Tu-Tunggu Rey jangan seperti ini" ucap Nayla sulit mendapatkan celah


"Kita bisa bicara baik baik" timpalnya menahan tubuh Rey yang mulai menindih tibuhnya


"Rey...!! aku tidak mau melakukannya kalau kau dalam keadaan marah seperti ini" teriak Nayla berderai air mata membuat Rey merasa tidak tega dan langsung menjauh darinya


Rey mendudukan dirinya di tepi kasur, saat melihat istrinya menangis seperti itu hatinya merasa sesak sekali.


"maafkan aku" ucapnya menatap istrinya yang sedang duduk membelakanginya


"Aku tidak mau kalau kau pergi meninggalkanku lagi, aku tidak mau itu sampai terjadi" timpalnya membuat Nayla sedikit luluh


"aku mengerti" saut Nayla


"Apa kau masih mau mendengarkan penjelasanku mengapa sampai bisa mendorong Kesya tadi" timpalnya


"Humm aku mau" saut Rey


"Trimakasih" ucap Nayla langsung menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.


"Merebut...!! aku tidak percaya, tidak mungkin Kesya seperti itu" saut Rey mengerinyitkan dahi, seakan akan dia memang tidak mempercayai perkataan Nayla


"Aku berkata jujur" saut Nayla


"tapi kenapa aku masih merasa ragu dengan penjelasanmu" ketus Rey membuat Nayla semakin kecewa kepadanya


"Baiklah aku mengerti, itu hakmu untuk percaya atau tidak denganku..., tapi kau harus ingat, kalau hatimu masih ragu untuk percaya kepadaku maka jangan pernah berharap kau bisa menyentuh hatiku" saut Nayla membuat Rey membungkam seketika


Nayla langsung meraih phonselnya dan pergi menuju ke balkon, kemudian ia menghubungi telpon ruang tamu rumah ini untuk memita tolong Bi mila mencarikan kunci yang telalah dibung oleh Rey dari jendela tadi.


15 menit kemudian


"Tok tok tok" terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar membuat Nayla bergegas menuju arah suara itu tanpa mempedulikan keberadaan suaminya yang sedang menatapnya dari belakang


"Nona ini bibi sudah dapat kuncinya" ucap bi mila dari balik pintu


"Bibi tolong buka kunci kamar ini" saut Nayla dan bi mila pun mengiyakannya


"Sudah non" ucap bi mila


"Trimakasih Bii" saut Nayla, setelah itu Bi mila langsung pamit kedapur untuk memasak makan malam


Saat Bi mila sudah tak terlihat lagi di pandangan Nayla ia pun berlalu ingin menyusulnya namun di hentikan oleh Rey.


"Mau kemana kau" tanya Rey menghampirinya


"Kedapur" saut Nayla singkat


"Tidak usah..., kau disini saja" ketus Rey menarik tangan Nayla


"Ada apa, apa kau juga tidak mempercayaiku untuk pergi ke dapur" saut Nayla menepis kasar tangan Rey


"Aku tidak_ _ _" ketus Rey


"Cukup...!! aku tidak mau mendengar apapun darimu" potong Nayla geram


"Kau tenang saja, aku hanya pergi kedapur" timpalnya tetap kekeh ingin keluar


"Tidak...!! aku tidak mengizinkanmu pergi keluar" ketus Rey mendekap erat tubuh Nayla dari belakang


"Aku hanya ingin membantu Bi Mila memasak, kalau kau masih tidak percaya ayo ikut kedapur" saut Nayla dan Rey mengiyakannya


"Orang ini sangat menyebalkan sekali" gerutu Nayla memanyukan bibirnya


Mereka berdua berlalu keluar menuju kedapur, saat sudah sampai Nayla meminta Rey untuk duduk di kursi yang berada di meja makan, setelah itu ia langsung pergi membantu Bi mila untuk memasak saat memasak ia merasa moodnya langsung membaik seperti tidak ada pikiran sama sekali, dan ia menyadari kalau suamiya itu terus terusan menatap karahnya, membuatnya merasa risih


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu" ketus Nayla


"Kau terlihat sangat cantik" saut Rey membuat bi mila yang medengarkan permbicaraan mereka berdua langsung tersenyum sendiri.


"Apa kau sedang merayuku" ketus Nayla


1 jam setengah kemudian, Nayla dan Bi mila sudah selesai memasak, setelah itu Nayla langsung menghidangkan semua makanan itu di meja makan, ia juga mengautkan makanan di piring suaminya dengan geram, karena dari tadi suaminya itu terus terusan menatapnya tak henti henti.


"Apa kau tidak bosan menatapku terus" ketus Nayla


"Tidak...," saut Rey singkat


"Berhenti menatapku terus..., cepat makan makananmu itu" pinta Nayla dengan geram


"iya iya bawel" saut Rey


"Apa kau masih marah kepadaku..??" timpanya membuat Nayla terdiam sejenak


"Tidak untuk apa aku marah padamu" saut Nayla


"Apa kau serius" tanya Rey dan Nayla menganggukan kepalanya


"Mulai sekarang aku akan percaya padamu dengan sepenuh hatiku" timpalnya melebarkan senyum


"Benarkah..?? " saut Nayla


"Iya..., aku tidak akan meragukanmu lagi" saut Rey


"Aku harap kau akan menjaga ucapanmu ini" gumam Nayla dalam hati


"Trimakasih" ucap Nayla tersenyum lebar membuat Rey tak bergeming menatapnya


"Menyebalkan, kenapa kau mulai menatapku lagi" celutuk Nayla


"(bersemu merah) cepat habiskan makananmu, jangan menggodaku terus" ketus Nayla


"Kenapa kau malu seperti itu" saut Rey menahan senyumnya


"Si-siapa yang malu, aku tidak malu" ketus Nayla gelabakan


"lalu kenapa wajahmu jadi merah seperti itu" saut Rey gemas


"Sudahlah cepat habiskan makananmu" ketus Nayla


"Apa aku boleh memakanmu" goda Rey tersenyum


"memakan...? aku...? " celutuk Nayla


"Iya memakanmu" saut Rey main mata dengan Nayla


"Apa kau kanibal..., bagaimana bisa kau memakanku" seru Nayla dengan polosnya


"Bukan seperti itu" saut Rey tertawa


"Kenapa kau tertawa seperti itu" ketus Nayla


"Aku tidak tertawa" saut Rey


"Kau ini menyebalkan sekali" celutuk Nayla memanyunkan bibirnya


"Aku akan memakanmu saat dikamar nanti" gumam Rey menatap gemas kearah istrinya itu


"Sayang...," ucap Rey membuat Nayla langsung tersedak.


"kau tidak apa apa" tanya Rey langsung memberikan Nayla air minum


"ada apa denganya kenapa timbul timbul jadi lembut seperti itu, Gawat...!! dia pasti ada maunya" gumamnya dalam hati dahinya langsung dipenuhi keringat dingin


"Apa kau sudah baikan" tanya Rey


"Hmmm aku tidak apa apa" saut Nayla meletakan gelas di atas meja


"A-ayo lanjut makan lagi" timpalnya tersenyum pelik


"Aku sudah selesai" saut Rey meletakan sendok garpunya di atas piring


"Kau duluan saja kekamar" pinta Nayla


"Kau tidak kekamar...? " tanya Rey


"Aku masih merasa lapar" saut Nayla


"Karena aku belum makan dari pagi tadi" gumam Nayla dalam hati


"Kalau begitu aku akan menunggumu"seru Rey melebarkan senyumya


"Tuh kan..., dia benar benar ada maunya" gumam Nayla dalam hati


"Terserahmu saja" saut Nayla


~15 menit kemudian


"Hey apa kau tidak takut gemuk kalau makan banyak seperti ini" goda Rey


"Gemuk...., tentu saja aku takut" celutuk Nayla


"Lalu kenapa kau masih makan banyak seperti ini, kau sudah makan 4 piring" saut Rey membuat Nayla terkejut


"Apaa 4 piring" teriak Nayla langsung melepas sendok di tangannya seraya menatap arah piringnya


"Kau kenapa baru bilang sekarang" timpalnya


"Hey kenapa kau terkejut seperti itu, kalau mau makan ya makan saja" saut Rey tertawa


"Kau tidak tau, berat badan itu penting sekali bagi wanita" ketus Nayla membuat Rey terkekeh


"Kau sekarang sudah jadi istriku, kenapa harus takut seperti itu" saut Rey


"Nanti kalau aku jadi gemuk, kau akan meninggalkanku" seru Nayla memanyunkan bibirnya


"tidak ada yang bilang seperti itu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" saut Rey terkekeh melihat wajah imut istrinya


"Aku sudah selesai, ayo pergi kekamar ini sudah malam" ajak Nayla


"Kau belum menghabiskan makananmu" saut Rey


"Biarkan saja aku sudah kenyang" ketus Nayla


"Yasudah ayo kita kekamar" saut Rey


.


.


.


.


.


Jangan lupa klik like komen and favorit supaya thor semakin semangat melanjutkan kisah Rey dan Nayla >,<