
"Untukmu" sautnya singkat,. "Itu hadiah pernikahan kita dari kedua sahabatmu itu, sebenarnya aku tidak mau memberikannya kepadamu tapi karena kau sudah menemukannya jadi ambil saja untukmu"
"Kalau kau tidak suka dengan gaun itu, tidak usah dipakai" ujar Rey. Ia berlalu pergi masuk kamar mandi
Nayla memperhatikan gaun itu, dan kemudian memperhatikan punggung Rey yang pergi menjauh dengan tersenyum tanpa berkata apapun, dan menyimpannya kembali kedalam lemari
"Aku bingung... kenapa dia jadi jutek seperti itu padaku, apa aku ada membuatnya marah" ucapnya dengan rasa kecewa
"Biarkan saja, aku tidak tau bagaimana sifatnya yang kadang bisa berubah ubah" Nayla menghela napas panjangnya, Rey kemudian keluar kamar mandi dan ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur
"Rey... aku mau pergi keluar sebentar" ucap Nayla, perkataan Nayla membuat Rey seketika beranjak dari tidurnya
"Mau kemana...?? "tanya Rey. sejenak membuat Nayla terdiam
"Sebenarnya aku hanya ingin pergi kerumah sakit untuk mencek kembali usia kandunganku kembali" gumamnya dalam hati, "aku sebenarnya sudah mengetahui usia kandunganku sih... tapi entah kenapa aku ingin memeriksanya lagi" tampaknya dalam hati
"Hey kenapa kau melamun... jawab pertanyaanku" ketus Rey mengernyitkan dahinya
"Rahasia... "saut Nayla tanpa memandang Rey, Kemudian ia langsung mengenakan tas selempangnya dan ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja karena tadi Rey yang meletakkannya disana.
Saat melintas di jangkauan Rey, tangan Rey dengan cepat menariknya dan mendekap tubuhnya dengan sekali rengkuhan.
" Rey.....!!! " Nayla berteriak namun tak mengubah sedikitpun tangan Rey untuk melepaskannya
"Jangan kemana mana..!! kita ini baru pulang. Istirahat lah" perintah Rey memejamkan kedua mata nya
"Rey...!! lepaskan aku, aku hanya pergi sebentar" Nayla meronta ronta berharap agar Rey mau melepaskannya sekarang juga
"Tidak usah pergi kemana mana... " kemudian Rey semakin mengeratkan pelukannya kepada Nayla hingga membuat wanita itu merasa sesak.
Nayla meronta ronta berharap suaminya itu segera melepaskannya. Namun tetap saja tenaganya kalah dibandingkan dengan suaminya dan sedikitpun tidak mengubah posisi suaminya yang masih ingin mendekapnya itu. Bahkan, pelukannya lebih erat dibandingkan sebelumnya.
"Rey.... tolong lepaskan aku, kalau kau tidak melepaskanku, aku akan berteriak. Biar mereka mendengar dan mengira kalau kau menyikasaku" ancam Nayla dengan geram
"Teriak saja... memang siapa yang akan mendengarmu" Rey menjawab dengan santainya sembari menyelipkan sebuah senyum diwajahnya
"Mama dan Papa kan mereka masih disini"
"Oh, iya... mereka kan sudah pulang setelah Kayla dan Kevin pulang" gumam Nayla di dengar oleh Rey membuatnya tertawa akan hal itu
Karena geram rasanya Nayla ingin sekali menghajar suaminya itu dengan kedua telapak tangannya yang mulus dan mungil itu. Merasa kelelahan memohon dan meronta ronta untuk dilepaskan akhirnya Nayla mengalah juga,.
"Baiklah aku tidak jadi pergi" ucap Nayla dengan suara marasnya
"Kau mau pergi kemana sih....?" tanya rey mengernyitkan alisnya
"A-aku tidak mau memberitahumu" Nayla merasa kalau tangan suaminya tidak bisa dikondisikan dan ia langsung memukulnya
"Rey....!!" Nayla berteriak
"Aku hanya menyentuhnya saja, bukan menggigitnya" seru Rey terkekeh. "Emmm apa jangan jangan kau mau aku menggigit nyaa"
"Kau ini, cepat lepaskan aku.... dasar mesum..!!" ujar Nayla semakin meronta dan memukul mukul dada Sixpack suaminya itu
"Kau serius tidak mau memberitahuku" saut Rey
"Apasih... kan aku tidak jadi pergi" seru Nayla tertawa terpaksa
.
.
.
.
.
.
.