
Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari pesawat yang akan mereka tumpangi, Rey menggandeng tangan istrinya saat masuk kedalam pesawat. kemudian mereka duduk sesuai dengan tiket milik mereka, sebelumnya Rey menaruh koper barang miliknya dan Nayla di bagasi kabin atas tempat duduknya. saat semua penumpang sudah masuk kedalam pesawat mereka diharapkan memasang sabuk pengaman dan mematikan ponsel genggam yang mereka bawa.
"Apa kau masih mau tidur....? " tanya Rey
"Tidak... " saut Nayla singkat
"Loh... katamu tadi mau tidur" tanya Rey
"Itu tadi sekarang sudah tidak lagi" saut Nayla
"Aneh... padahal barusan dia trlihat sangat mengantuk sekali dan mau tidur" gumam Rey dalam hati. "tapi sekarang tidak mau tidur" timpalnya menggeleng geleng kan kepalanya
"Kenapa kau mengelengkan kepala seperti itu, apa lehermu sakit" tanya Nayla hawatir membuat Rey tertawa kecil. "kenapa kau tertawa" timpalnya
"Siapa yang tertawa" saut Rey
"Dasar menyebalkan...., " celutuk Nayla mengkrucutkan bibirnya membuat Rey semakin gemas melihatnya,
Saat mereka masih berada di luar pesawat sampai masuk kemari Nayla menyadari sorot mata semua gadis cantik sedang memperhatikan suaminya dengan tatapan yang berbeda, membuatnya cemburu akan hal itu.
"Rey...." panggil Nayla manja
"Hmm apa...?" saut Rey
"apa kau sudah biasa dengan tatapan semua perempuan yang selalu seperti itu" tanya Nayla
"Apa kau cemburu...? " saut Rey menatap wajah Nayla dengan seksama
"Ce-cemburu...!! " ucap Nayla masih bingung
"Iya....., cemburu" saut Rey
"Ti-tidak..., aku tidak cemburu" ketus Nayla tersenyum pelik. "siapa juga yang cemburu" timpalnya
"Benarkah...., apa kau serius" saut Rey menahan senyumnya. "apa kau tidak cemburu saat wanita lain menatapku" timpalnya membuat Nayla langsung terdiam, mana mungkin ia tidak cemburu saat suaminya ditatap oleh wanita lain.
"Lupakan saja" saut Nayla "jawab dulu pertanyanku tadi" timpalnya
"Seperti yang kau lihat...." jawab Rey menahan senyumnya
"kau suka kalau mereka menatapmu seperti itu" ketus Nayla
"Emmmm" saut Rey membuat darah Nayla langsung memuncak ke ubun ubun kepalanya
"Jadi kau menyukainya" ketus Nayla menatap tajam kearah suaminya. "dasar hidung belang" timpalnya memalingkan pandangannya kearah jendela
"Lalu apa kalau kau tidak menyukainya...?" tanya nayla
"mana mungkin aku menyukai tatapan perempuan lain...., aku hanya menyukai tatapan istriku seorang saja" saut Rey membuat wajah istrinya bersemu merah seperti tomat. "Hey kenapa kau jadi malu seperti itu" timpalnya terkekeh saat melihat wajah istrinya
"Si-siapa yang malu" celutuk Nayla "aku tidak malu" timpalnya
"Lalu kenapa wajahmu jadi merah seperti itu" goda Rey
"Sudahlah..., aku mengantuk" saut Nayla langsung memejamkan mata. "aku mau tidur" timpalnya
"Kau ini aneh sekali, tadi bilang tidak mau tidur sekarang tiba tiba mau tidur" saut Rey mengacak acak rambut istrinya
"Rey...!! rambutku jadi berantakan" ketus Nayla mengecilkan suaranya seraya menahan tangan suaminya yang tidak mau berhenti mengacak rambutnya. "kau ini menyebalkan sekali" timpalnya memanyunkan bibirnya
"Sini tidurlah dibahuku....," pinta Rey melebarkan senyum
"aku tidak mengantuk... " celutuk Nayla
"Yaa sudah terserahmu saja" saut Rey mendengus kesal
"Rey...., " panggil Nayla
"Ada apa lagi...? " saut Rey
"Aku hanya bercanda, kenapa kau kesal seperti ini" celutuk Nayla seraya menyandarkan kepalanya di bahu Rey
"Siapa yang kesal" ketus Rey membuat Nayla menahan senyumnya
"Lupakan saja...., aku mau tidur" saut Nayla tertawa kecil. "kau tidur tidak" timpalnya
"Tidak..., kau saja yang tidur" saut Rey
.
.
.
.
.
.