
Keesokan Harinya
Nayla sudah pulang kerumah di antar oleh Rey, Faisal dan Bianka langsung menyambut kepulangan mereka berdua. Rey sempat mampir tapi hanya sebentar, karena ada telpon dari seseorang yang membuatnya langsung buru buru pulang. Setelah mobil Rey sudah tak terlihat di pandangan Nayla ia berlalu masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, karena sangat kelelahan saat di perjalan pulang tadi ia pun langsung tertidur lama sekali.
Sisa 11 hari lagi sampai hari H mereka berdua, dan semua orang akan tau kalau Nayla sudah Sah menjadi istrinya Rey, sebenarnya ia enggan pernikahan ini sampai harus di ketahui oleh banyak orang.
Flashback
"Papa mau pernikahan kalian diadakan secara meriah dan mewah" ucap Faisal
"Tapi pa lebih baik resepsinya di adakan sederhana saja" saut Nayla
"Tapi kamu itu satu satunya putri papa" saut Faisal
"Tapi paa" saut Nayla
"Rey bagaimana pendapatmu" tanya Bianka
"Sebenarnya kakek juga ingin resepsi pernikahan Rey diadakan secara meriah" saut Rey
"Tapi kalau Nayla tidak mau_ _ _" saut Rey
"Baiklah Nayla akan menyetujui keinginan papa" potong Nayla seraya menundukan kepalanya
"Baguslah kalau kamu setuju" saut Faisal tersenyum bahagia
"Bagaimanapun aku harus menuruti permintaan papa" gumam Nayla lirih
"Kalian berdua tenang saja, Papa akan mengurus semua persiapan pernikahan kalian" ucap Faisal
Flashback and
Sekarang sudah jam 13.45 Nayla mengerjapkan kedua matanya ia segera beranjak dari kasurnya untuk mandi, ia mendudukan tubuhnya di dalam bath up seraya memperhatikan gelmbung busa di tangannya.
"Kenapa aku merasa tidak bahagia menikah denganya, padahal dulu aku sangat mencintainya" lirih Nayla
"Kesya!! Rey, hatiku masih terlalu sakit dibuat kalian"
"Dulu aku sampai pindah sekolah dan pindah lagi kesini karena ingin menghindari Rey, tapi kenapa sekarang setelah 4 tahun kau malah datang lagi di kehidupanku dan kau malah harus menikah denganku, kenapa kau dia tidak manikah dengan Kesya"
"Kalau saja aku bisa memilih aku akan menolak pernikahan ini, tapi aku tidak bisa menolak permintaan papa"
"Aku tidak bisa berbuat apa apa, pastinya aku akan mengingat kalau aku menikah denganmu hanya karena menuruti permintaan papa dan kakek William saja. Dan aku tidak akan berharap lebih" lirihnya menatap langit langit kamar mandi
Seusai mandi Nayla langsung keluar kamar dan mengenakan baju yang sudah disiapakanya tadi setelah itu melakukan aktivitas seperti biasanya.
***
1 Minggu Kemudian
Semua orang di sibukan akan persiapan pernikahan Rey dan Nayla. 2 hari yang lalu undangan sudah di bagikan kepada seluruh orang terutama client papa dan kakek William, dan mereka juga tak lupa mengundang teman teman kampus Nayla dan teman seangkatan Rey.
Saat ini Nayla merasa bosan sekali dan kedua sahabatnya tidak bisa menemaninya karena sedang kuliah. seperti bisanya kalau Nayla sadang merasa bosan ia langsung pergi menuju balkon kamarnya, ia berdiri di pembatas sambil menonton semua orang yang sedang sibuk di halaman rumahnya.
"Mau kesana tidak boleh, kesitu tidak boleh entah kenapa mereka selalu malarangku" dumel Nayla
"Lihatlah mereka itu bercanda gurau bersama, rasanya ingin sekali aku kabur dari sini" gerutu Nayla
karena ia sibuk mendumel tak karuan membuatnya tak menyadari kedatangan Rey yang langsung mendekap tubuhnya dari belakang.
"Kyaaaaa" teriak Nayla terkejut
"Hey ini aku" saut Rey
"Kau selalu saja membuatku terkejut, lama kelamaan aku bisa bisa mati terkejut dibuatmu" celutuk nayla terkejut
"Benarkah" saut Rey melepas dekapanya.
"Dasar menyebalkan" gerutu Nayla mengkrucutkan bibirnya
"Aku kemari karena ingin memberitahumu kalau besok adik adikku akan pulang kemari" tutur Rey tersenyum
"Jadi aku mau kau menemaniku menjemput mereka di bandara" saut Rey
"Kau mau ikut tidak" imbunya
"Kalau pun aku tidak mau, kau pasti akan memaksaku" saut Nayla mengkeucutkan bibirnya membuat Rey terkekeh melihatnya
Di saat mereka berdua sedang sibuk bercanda gurau, tiba tiba saja terlintas di pikiran Nayla tentang "Kesya" membuat hatinya sesak dan langsung ingin menanyakan sesuatu kepada Rey
"Rey bolehkah aku bertanya sesuatu" ucap Nayla
"Hmm apa?" tanya Rey
"Apa kau masih menyukai kes_ _ _" langsung terhenti saat mendengar suara dring phonsel dari kamarnya.
"Menyukai apa" tanya Rey menyipitkan kedua matanya
"Ehh lain kali saja aku bertanya kepadamu" saut Nayla berlalu pergi meninggalkan Rey
"Tadi dia bilang aku masih menyukai apa" gumam Rey berpikir keras
Nayla langsung meraih phonsel di atas mejanya, ternyata ada panggilan masuk dari Chelsia ia langsung menyentuh ikon hijau di layar itu
"Hey Nayla aku hari ini dan besok tidak bisa menemuimu di dirumah" teriak Chelsia dari balik phonsel
"Hey kau tidak usah teriak teriak seperti itu" saut Nayla
"Maaf kan aku" tutur Chelsia
"Iya kau tak perlu hawatir" saut Nayla
"Aku hanya mau bilang itu saja, Bye" saut Chelsia langsung menutup telponya.
"Ada apa dengannya ini" tutur Nayla mengeleng gelengkan kepalanya.
Setelah itu Nayla langsung kembali ke balkon, ia mendudukan tubuhnya di sofa yang letaknya cukup jauh dari Rey.
"Kenapa kau duduk jauh sekali" tanya Rey meletakan phonselnya
"Bukan urusanmu" saut Nayla
"Benarkah" saut Rey mendekat ke arah Nayla
"Menjauhlah dariku" lirih Nayla memalingkan pandanganya
"Kau kenapa" tanya Rey memeluk erat tubuh Nayla
"Kumohon, sekarang jangan ganggu aku" saut Nayla
Rey pun langsung melepas pelukanya dan berlalu pergi meninggalkan Nayla, sepertinya ia banar benar kesal sekali terhadap Nayla.
Sebenarnya Nayla seperti itu karena ia tidak mau berharap lebih kepada Rey ditambah lagi mengingat saat dimana ia merasa terpuruk sekali saat 4 tahun yang lalu.
.
.
.
.
.
.
.
.