My Romance My Life

My Romance My Life
Bab 40 [ Hari keempat ]



Aku bangkit dengan cepat karena kaget, Aku merasa tak enak pada Youknow karena jatuh dan kami tak sengaja... berciuman.


"Ma... maaf!" Kataku.


Aku sudah berdiri sedangkan Youknow masih duduk termenung, Lalu ia menatapku.


"Menarik!" Gumamnya.


Aku menatap bingung padanya.😶😶


"Bantu aku!" Kata Youknow.


Aku pun membantunya bangkit dan berdiri. Kini kami saling berhadapan dan menatap.


"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Win menghampiri kami.


"Aku gak sengaja tau!" Kataku kesal.


Youknow tersenyum sendiri.


"Itu sama sekali tak pantas!" Kata Win.


"Kenapa kau peduli?" Tanya Youknow.


"Itu..."


Aku mulai merasa tak nyaman, Apa lagi hal tersebut di saksikan oleh Sahabatku bahkan Saudara kembarku.


Aku merasa tak enak dan bergegas pergi meninggalkan pertandingan dan tempat tersebut.


Youknow dan Win menatapku saat aku berlari. Youknow mau mengejarku dan menyusul tapi Win menahannya.


"Ikut Aku!" Kata Win.


Mereka pergi ke Belakang batu besar yang ada di pulau Semanggi itu.


"Kau puas! Menyentuh bibir gadis yang kau sukai?" Kata Win.


"Kenapa kau marah? Itu kan tidak di sengaja!" kata Youknow.


"Huh! Kau pasti sengaja!" Kata Win sambil menarik kerahnya Youknow.


Youknow melepas tangan Win dan mendorongnya.


"Kau pikir aku pria yang seperti itu? Jujur saja aku memang Nafsu-an. Tapi aku selalu menahannya. Rasaku kamu bahkan lebih nafsu-an dari pada aku!" Kata Youknow.


Win terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa karena perkataan Youknow itu benar.


"Setidaknya kita berdua bisa menahannya." Kata Win.


"Hah! Inilah yang aku takutkan jika kita menginap di sebuah pulau dan ada Luna-nya. Itu pasti akan mendatangkan Niat lain yang tersembunyi, Apa lagi di pulau ini tidak ada siapapun selain kita-kita!" Kata Youknow.


"Bukankah ini cukup mencurigakan?" Kata Win tiba-tiba.


"Apanya?"


"Tadi.... Aku menjelajahi pulau ini, Tapi.... Ada yang janggal! Aku melihat sesuatu di gunung belakang Villa ini. Di pulau ini ada Gunung bukan. Kurasa ada seseorang tinggal di pulau ini juga selain kita!" kata Win.


"Serius!Aku takut kalau itu adalah pembunuh berantai yang menghilang beberapa hari yang lalu! Ia menghilang setelah menaiki kapal dan polisi menduga pembunuh tersebut menghilang ke negara lain. Pembunuh itu naik kapal, Dan yang aku takutkan adalah... Apakah Pembunuh itu berada di sini?" Kata Win.


"Jangan berpikir macam-macam! Positif thinking aja!" Kata Youknow.


"Iya Deh! Oh, Sekarang mari kita pergi!" Kata Win.


"Sekarang masalah kita sudah selesai ya!" Kata Youknow.


"Oke! Deal!"


"Deal!"


Mereka pun kembali ke Villa dan ke ruang santai. Semua orang sudah ada kecuali aku.


Aku sedang ada di tepi pantai yang sepi tanpa ada orang sedikit pun. Langit sudah mulai gelap dan malam akan tiba.


Aku sebenarnya agak takut, Tapi aku tak mau pulang karena malu. Jadi aku memutuskan untuk tetap berada di tepi pantai sendirian.


Hari semakin lama semakin gelap, Kini sudah pukul 20:09 dan aku belum pulang ke rumah. Teman-temanku mulai khawatir dan mulai cemas.


"Dimana Luna?" Gumam Lion.


"Ia pergi kemana Sih!" Kata Youknow.


Win mencoba menelpon ku berkali-kali dan mendengar suara dering ponselku di kamarku.


"Sialan! Ponselnya ketinggalan di kamar." Kata Win.


Aku mulai gelisah! Perasaanku sudah tak enak! Mari kita cari dia!" Kata Lion.


"Nanti ia akan pulang sendiri!" Kata Jimmy.


"Perasaanku benar-benar tak enak Jimmy! Apa lagi ia adalah Saudari kembarku! Jika terjadi apa-apa padanya apakah kau mau bertanggung jawab!" Kata Lion.


Jimmy menggeleng pelan.


"Baiklah! Mari kita berpencar mencari Luna.


Mereka pun pergi keluar dan mencari. Aku berada di tepi pantai yang tempatnya agak jauh dari Villa-ku.


Ketika sedang ketakutan dalam kegelapan malam yang mengerikan, Aku mendengar suara dari semak-semak.


"Youknow? Apa itu kau?"


Lalu keluarlah seorang pria berbadan besar dan berwajah seram.


"Sudah lama aku tak bersenang-senang dengan Wanita!" Kata Pria itu.


Aku pun berteriak sekuat mungkin dan pingsan karena di bius oleh pria itu. Meski badannya besar tapi ia gesit dan cepat, Jadi sulit untuk menyerangnya.


Aku di bawa ke Rumah persembunyiannya. Dan saat aku bangun ia menatapku sambil tersenyum, Aku berusaha untuk bersuara tapi pria itu mengelem mulutku dengan lakban hitam. Aku benar-benar ketakutan sekali, Akankah teman-temanku menemukanku dan Menolongku?.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...