
Malam pun tiba. Sekarang sudah jam 19:15. Pesta dansa mulai jam 19:30 dan selesai Setelah tengah malam. Aku sekarang sedang pusing memikirkan Gaun yang akan aku pakai. Dan aku lupa bahwa aku tidak punya Gaun untuk pesta. Lalu ibuku masuk begitu saja ke kamarku.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Oh... ibu, Aku... sedang pusing memikirkan tentang gaun." kataku.
"Gaun? Untuk apa?" tanya ibu.
"Huh, Itu... Aku.... Malam ini... Ada pesta dansa di sekolah! Dan aku.... tidak memiliki gaun untuk pesta dansa ku." kataku.
"Hah? tidak punya gaun! Kamu itu adalah anak bangsawan Luna! Bangsawan harus punya gaun! Tenang, Ibu akan membeli gaun untukmu!" kata ibu.
"Kelamaan Bu! Pesta sebentar lagi akan dimulai! Nanti aku telat kalau beli gaun sekarang!" kataku.
"HM.... Kamu ini, Tenang saja! Anggap saja ibu adalah ibu peri mu! Ibu akan Mencari Gaun mu dalam sekejap!" Kata ibu.
Lalu ibuku pergi ke bawah dan memanggil pelayan, dan ibuku datang bersama pelayang yang membawa banyak gaun mewah dan indah untukku.
"Wow.... banyak sekali gaunnya!" kataku kagum.
"Silahkan pilih salah satunya! sudah ibu bilang kan! Ibu akan menjadi ibu peri mu dan malam ini kamu akan menjadi Cinderella! Dapatkan pangeran Di pesta dansa nanti!" Kata ibuku.
"Jadi... aku harus memilih salah satu yang ada di sini?" tanyaku.
"Iya! tentu saja!" kata ibu.
Aku pun memilih gaun yang ada di gantungan baju, Semua baju di sini masih baru. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu gaun yang amat indah. Gaun itu bersinar dan Berkilau. Warnanya yang indah dan membuatku ingin menangis melihat keindahannya.
"Aku ingin menggunakan Gaun yang ini!" Kataku sambil menunjuk gaun tadi.
"Oh! Pilihan yang bagus nak! Itu adalah Gaun turun-temurun keluarga kita! Gaun bangsawan kelas atas!" Kata ibu.
"Wah! tenyata aku punya selera bangsawan ya!" kataku bercanda.
Aku pun mengambil baju itu dan pergi ke ruang ganti, Aku melepas bajuku dan mengganti dengan gaunku.
Aku pun keluar dari Ruang ganti dengan anggun dan indah. Ibu melihatku dengan Bangga,
"Oh... betapa cantiknya putri ibu ini!" Kata ibu.
Aku pun berdandan dan Selesai, Tapi aku merasa seperti ada yang kurang dariku, apa itu? Aku pun berpikir dan menatap ke bawah. Lalu aku menatap kakiku, Kaku telanjang tanpa sepatu. Apa ya yang kurang? Aku sama sekali tidak tahu.
Lalu ibuku berteriak dan berkata
"Ya ampun! Kita melupakan Sepatu untukmu!" Kata ibuku.
Aku menatap kakiku dan aku pun sadar, Aku memang butuh sepatu untuk kakiku yang telanjang.
"Tunggu di sini! ibu akan mengambil sepatu yang berpasangan dengan bajumu!" kata ibuku.
Ibu pun pergi keluar dari kamarku. Lalu ia kembali lagi sambil membawa kotak sepatu.
"Ini adalah sepatu turun-temurun keluarga kita! dulunya nenekmu memberikannya untuk ibu, tapi kini... ini menjadi milikmu!" Kata ibu.
Aku pun membuka korek tersebut, dan isinya adalah sepatu kaca yang amat indah.
Setelah berdandan Aku pun naik Limosin. Tapi ibuku tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah.
"Luna! Tunggu! Kamu... Kamu harus pulang tepat sebelum tengah malam! Di keluarga kita... Saat pesta dansa, Pamali jika kita pulang Sebelum tengah malam. Atau tidak.... kamu akan dikutuk menjadi kucing!" kata ibuku.
"Hah? Benarkah itu?" kataku tidak percaya.
Lalu aku pergi dengan Limosin dan sampai di aula pesta.
Tempat yang megah dan mewah, Sangat cocok dengan gaunku.
Lalu aku keluar dari mobilku dan semua orang tiba tiba melihatku. Aku Masuk ke dalam Aula tersebut. Lagi-lagi semua orang menatapku, begitu pula Youknow dan Win yang sudah ada di dalam.
Kuakui aku memang cantik dan anggun saat menggunakan gaunku.
Win tiba-tiba menghampiriku. Jujur Win malam ini terlihat amat tampan.
"Ehem! malam ini.... kau... terlihat amat cantik!" kata Win tanpa menatap mataku.
Ia berkata dengan malu-malu.
"Aku kan emang cantik!" kataku.
"Apa.... kau mau berdansa denganku?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku menatapnya dengan sedih, Aku sudah ingin berdansa dengan Youknow, tapi dia tidak mengajakku berdansa.
"Maafkan aku Win! Aku sebenarnya ingin berdansa dengan Youknow!" Bisik ku.
Win menatapku dengan sedih, ia menurunkan tangannya dan menundukkan kepalanya, kini aku merasa tidak enak padanya. Haruskah aku menerima tawarannya? dan berdansa dengannya?.