
Setibanya di halaman sekolah,suasana nggak terlalu ramai,kebanyakan anak anak sudah ada di dalam ruangan AULA.Hanya beberapa yang terlihat baru datang sama seperti kami.
Sampai saat ini,aku nggak begitu tau siapa aja yang terpilih menjadi kandidat,bahkan diriku saja tak menyadari kalau tadi namaku disebut.Karena aku tak begitu peduli tentang hal semacam itu.
Setelah memarkirkan motornya,aku dan kak Bara langsung berjalan menuju keruang AULA.Nampak semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Tapi begitu aku dan kak Bara masuk ke dalam ruangan,semua menghentikan aktifitas mereka dan memandang kami secara bergantian.Tapi tidak dengan Bima, dia terus melakukan pekerjaannya tanpa mempedulikan kami...
Aku tak begitu mempedulikan situasi yang membuatku sedikit tidak nyaman.Dengan santainya aku menghampiri Bima karena pada awalnya aku dan dia berpasangan saat mendapat hukuman,sedangkan Raka berpasangan dengan Reno....
"Apa yang harus aku lakukan ?"tanyaku kepada Bima yang sedang kelihatan menyibukan diri menempelkan huruf huruf bertuliskan SELAMAT DATANG DI KONTES CEMPAKA RAJA DAN RATU KEBANGGAAN SMU TARUNA BANGSA pada sebuah baliho.
Tanpa bersuara dia hanya memberiku lem dan potongan huruf yang harus ditempelkan pada baliho seakan dia tau kalau aku akan mengerti hanya karena isyarat darinya...
"Huuuh,,,,punya mulut kok nggak dipake."Makiku dalam hati.
Tapi aku tak bertanya lagi.Segera ku ambil alih pekerjaan yang sedari tadi dia kerjakan.
"Bima,,,bisa bantu aku nggak?"panggil Tasya mencoba mengangkat kardus yang berisi karton warna yang kelihatan berat dan susah untuk di angkat oleh seorang Tasya.
Bima meninggalkan ku sendiri dengan pekerjaan yang seharusnya kami kerjakan bersama.Dia malah berjalan kearah Tasya dan membantunya.Membuat mataku jadi sakit karena terus mengikuti kemana arah mereka berdua pergi.Aku kesal setengah mati,tapi aku nggak mau ngaku kalo saat ini aku sedang cemburu.Hanya saja,aku nggak mau mengerjakan ini sendirian,ini kan hukumanku dan Bima,masa aku yang harus kerjakan sendiri,MENYEBALKAN.
Melihatnya tertawa lepas bersama dengan Tasya,muncul perasaan yang aneh dalam hatiku,dadaku terasa sesak,menelan ludah saja rasanya begitu sulit,apalagi saat ini Bima tak pernah melihat kearahku walaupun sekejap.Dia terlalu sibuk dengan Tasya,entah mengapa aku merindukan semua tatapan Bima yang sering memandangku dari kejauhan...
Merasa kesal,akhirnya aku memutuskan untuk ke kantin sekolah membeli air mineral,itung itung untuk sedikit membuat hatiku adem karena terlalu panas.
Teriakan beberapa orang membuat langkahku terhenti dan kaget.Ketika aku berbalik,Bima berlari ke arahku dan langsung memelukku,menyembunyikan ku dalam dekapannya dan menarikku hingga jatuh diatas pelukannya.Dia memegang kepalaku dan menyandarkan didadanya,pipa lampu jatuh dari atas tepat disamping kami.
Semua orang berteriak dengan wajah menegang saat kejadian itu terjadi,mereka langsung berlarian mendekati dan membantu kami berdiri
Aku dan Bima saling bertatapan.Matanya memancarkan kekhawatiran,apa sekarang Bima sedang khawatir padaku ?
mengapa kejadian ini malah membuat hatiku senang...
Setidaknya aku tau dibalik sikapnya yang cuek ternyata dia sangat peduli padaku...
"Kamu nggak apa apa Lia ?"
Kak Bara membantu kami untuk berdiri.Semua orang histeris melihat darah segar mengalir di antara jemari Bima.Aku berlari keruang UKS dan mengambil kotak P3k,karena pernah dirawat disana jadi aku tau dimana kotak itu berada..
Tak berapa lama aku kembali dan menghampiri Bima,duduk berhadapan dengannya dan mulai membersihkan lukannya.
Ini sudah merupakan kewajiban ku karena Bima terluka gara gara menyelamatkan diriku.
Langkah pertama membersihkan luka Bima dengan alkohol,sesekali kutiup agar perihnya berkurang karena aku tau betapa perihnya bila luka sampai kena alkohol.
Biasanya,orang yang diobati lukanya akan meringis kesakitan,tapi ini kayaknya nggak ada respon apapun darinya,membuatku sedikit penasaran.
Aku mengintip sebentar kearahnya dan mendapati pandangan matanya yang tak berkedip menatapku membuatku jadi salah tingkah.
"jangan melihatku seperti itu,,atau-"
"atau apa ?"Bima menghentikan tanganku untuk mengobatinya sehingga memaksaku untuk beradu mata lagi dengannya....
"Tanganmu harus diobati Bima,kalau nggak bisa infeksi,"aku mencoba menggeser tanganku yang dipegang oleh Bima.
"Apa kamu pacarnya kak Bara ?"
Pertanyaan Bima membuatku terkejut,aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya,dan berusaha untuk tetap mengobati tangannya,tapi Bima menahan tanganku lagi.
"Baiklah,akan aku jawab asalkan kau membiarkanku mengobati tanganmu dulu..."
"Janji..."
"Hhhhmm.."
Walaupun susah payah untuk tidak grogi didepannya,,aku tak bisa berbohong kalo jantungku rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya.Ditatap seperti itu terus menerus membuatku sulit bernafas,aku tak tau bagaimana warna wajahku saat ini,yang pasti aku merasa kalo wajahku sedikit panas.
Setelah memakaikan perban ke tangan Bima,aku beranjak dari tempat duduk untuk mengembalikan kotak P3k ke ruang UKS.
"Ada apa lagi ?"tanyaku saat berbalik melihat Bima.
"Kamu melupakan janjimu padaku..."
"Aku mau mengembalikan ini dulu ke ruang UKS baru kita bicara lagi...."
Bima melepaskan tanganku seketika begitu melihat kak Bara sedang mendekat ke arah kami.
"Gimana tanganmu,apa nggak apa apa ?"tanya Bara sambil menepuk bahu Bima...
"Seperti yang kakak lihat,cuma luka kecil.Lagi pula sudah di obati oleh dokter cantik..."Kata Bima sambil mengangkat tangannya yang luka ke udara untuk diperlihatkan pada Bara.
'*A*pa ?Bima bilang aku cantik..."
Entah mengapa hanya dengan mendengar satu kata pujian darinya bisa membuat perasaanku sebahagia ini,apa yang terjadi denganku,tanpa ku sadari wajahku menjadi merah karena malu.
Kedua kakak beradik itu tertawa bersama dan itu membuat iri para siswi yang ada disana,karna tak sedikit dari mereka yang mencoba mendekati Barata Indrawan yang selalu terkesan cuek pada siswi,tapi denganku,kak Bara seperti terlihat berbeda.
Kami kembali meneruskan pekerjaan mendekor ruangan walaupun sempat terjadi insiden yang hampir membuat nyawaku melayang.Diteruskan dengan gladi untuk persiapan acara besok malam.
Aku tak menyangka kalau yang akan menjadi pasanganku adalah Bimantara Indrawan.Namun setidaknya itu sedikit membuatku senang,daripada berpasangan sama salah satu dari si kembar.Mungkin akan terjadi perang dunia ke tiga karena mereka saling berebutan.
Kami harus berjalan berpasangan seperti seorang model dan harus mencari pendukung sebayak banyaknya dari semua para tamu undangan yang hadir.Untungnya perayaan ini hanya untuk para siswa dan tak boleh dihadiri oleh staf guru.
Mereka memberikan tanggung jawab penuh kepada Barata sebagai ketua OSIS sekaligus sebagai ketua panitia acara.
Mengingat Bara berhasil pada acara tahun lalu,mereka percaya kalau tahun ini juga pasti tidak akan mengecewakan pihak sekolah...
Kami dipanggil berpasangan untuk naik keatas panggung dengan bergandengan tangan.Pertanyaan itu kembali Bima tanyakan,apa benar aku adalah pacarnya kak Bara ?Aku berjanji akan menjawabnya saat acara kontes cempaka besok malam...
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam,kami beristirahat sejenak dan menikmati cemilan yang dibelikan kak Bara sebagai pengganjal lapar...
"Baiklah teman teman,,,sudah cukup untuk hari ini.Kalian boleh pulang dan terima kasih karna sudah bekerja keras hari ini.."
"Sama sama Bara...."Kata kakak panitia diikuti oleh yang lainnya termasuk diriku.
Memasuki area tempat parkir,Bara tampak kebingungan karena mereka tak tau bagaimana untuk pulang.Disatu sisi dia tak mau membiarkanku pulang sendiri,karena tadi aku datang bersamanya.Disisi yang lain dia tak mungkin membiarkan Bima mengendarai sepeda motornya dengan tangannya yang sedang terluka...
Kami bertiga berdiri mematung saling pandang satu sama lain berharap menemukan sebuah ide untuk menyelesaikan masalah yang ada didepan kami hingga ide gila itu muncul dikepalaku...
"Bima,,berikan kunci motormu padaku.."
"Buat apa ?apa yang akan kau lakukan ?"tanya Bima yang tetap mengeluarkan kunci motornya dari saku celananya dan memberikannya padaku.
"Sudah,,berikan saja padaku..."Kataku memaksa dan langsung mengambil kunci motor dari tangannya sambil tersenyum jahil.
Bara dan Bima saling pandang dan kemudian melihat kearahku yang sudah duduk santai diatas motor Bima yang telah kunyalakan...
Bruuuumm,,,,Bruuuummmm,,,,
Aku memainkan gas motor berulang kali membuat mereka berdua sedikit terkejut.
Mereka tak menyangka kalau aku juga bisa mengendarai moge seperti mereka,pasalnya kan moge itu berat,sedang tubuhku terlihat tidak sepadan bila harus mengendarainya.
"Kalian mau pulang atau mau bengong aja disini ?"
"Apa kamu yakin bisa mengendarainya ?"Tanya Bara sedikit khawatir.
"Aku tak akan mau jika tidak bisa,,,,,ayolah...!!"
Saat Bima ingin membuka jaketnya untuk diberikan padaku.Kak Bara sudah duluan memakaikan jaketnya padaku.Aku melihat kearah Bima yang mengalah melalui kaca spion.
"Pakai ini supaya nggak masuk angin..."Kata kak Bara yang membantuku mengunci jaket dan memakaikan helm padaku,sedang Bima hanya mampu menonton tanpa mampu berkata apapun.
Aku serasa bebas malam ini,akhirnya aku bisa mengendarai moge yang sebelumnya dilarang karena kata orang rumah aku masih terlalu kecil untuk bisa bawa motor sendiri apalagi moge.Padahal kak Ryan sering mengajakku jalan jalan tapi selalu dibonceng...