
Acara pertunangan kami tak dirayakan besar besaran.Hanya ada keluarga saja yang datang dan beberapa kenalan dekat.
Sesuai dengan permintaanku,aku sendiri yang akan datang ke tempat acara tanpa ada seorang pun yang akan datang menjemput ku,termasuk Abrary.
Semua orang menanti kedatanganku yang kesannya sangat terlambat.Sudah tiga puluh menit berlalu dan masih tak ada tanda tanda bahwa aku akan datang kesana.
Wajah Abrary mulai kelihatan khawatir,begitupun dengan yang lainnya.
"Bim,kemana Lia ?aku jadi khawatir padanya."Ucap Laras sambil menatap lurus ke pintu masuk ruangan pesta.
"Tunggulah sebentar lagi.Dia pasti akan datang.Dia bukan orang yang suka ingkar janji,bersabarlah."Ucap Bima dengan yakin walaupun saat ini dia juga tak kalah gelisahnya seperti yang lainnya.
Setelah beberapa saat ucapan Bima,aku muncul didepan pintu masuk.Semua mata terperangah menatapku yang masuk dengan perlahan,wajah Abrary yang tadinya sangat cemas menjadi bersinar bahagia dengan kedatanganku.
Pandanganku menyapu seantero ruangan mencari keberadaan Bima saat ini tanpa mempedulikan yang lainnya,termasuk Abrary.
Entah kenapa aku ingin sekali mengetahui reaksinya melihatku memakai gaun yang dia lihat terpajang di butik kemarin.
"Kenapa terlambat ?"tanya Abrary yang menghentikan pencarian ku dan beralih menatapnya.
"Hah ?"aku bengong.
"Sudahlah,ayo cepat ikut aku,Ibu sudah tak sabar ingin menemui menantunya."
"Apa ? menantu ?ini baru acara tunangan,bukannya pernikahan.Tapi bukankah kalau sudah tunangan nantinya juga akan menikah ? Terus apa salahnya dengan kata menantu."Batinku dalam hati.
Aku mulai khawatir sendiri dengan kata menantu yang baru saja ku dengar.
Abrary menggenggam jemariku dan menyeretku berjalan di antara kerumunan para tamu undangan.
Begitu melewati Bima,aku memalingkan kepalaku menatap dirinya yang sama sekali tak melihat kearahku,malah dia tampak sibuk bercanda dengan Laras.
Sedih ? sudah pasti.Tapi kenapa harus sedih ?aku pun tak tau alasannya kenapa.
Aku mencoba tersenyum ketika berhadapan dengan kedua orang tua Abrary.
Ibu Abrary memelukku dengan erat sambil tersenyum hangat.Kami ngobrol sebentar,tapi aku sama sekali tidak fokus dengan obrolan yang sedang berlangsung.
Aku hanya sibuk memandangi kedekatan antara Bima dan Laras.Walaupun pandanganku dan Bima sesekali bertemu,tak membuat hatiku terasa senang karena Bima langsung saja berpaling dan menatap Laras lagi dengan wajah yang terlihat bahagia.
Sebenarnya apa yang aku inginkan saat ini ?percaya ataupun enggak,aku ingin Bima datang padaku dan mengatakan kalau aku cantik dengan gaun ini,atau aku akan senang kalau Bima menghentikan pertunangan ku saat ini juga,aku juga ingin mendengar kalau dia mengatakan dia mencintaiku.
Ada apa ini ni ?kenapa semua keinginan yang rasanya mustahil ini terlintas di benakku ?
Dadaku serasa sesak,aku hampir tak bisa bernafas.Kepala ku mendadak terasa pusing.
Aku pamit sebentar ke toilet sebelum acara inti atau lebih tepatnya acara tukaran cincin dimulai.
Didalam toilet,aku berdiri memandangi pantulan diriku di cermin wastafel.Air mataku menetes tanpa di undang.
Aku meremas dadaku dan menangis terisak,rasanya ada sebuah beban berat yang sedang menimpaku saat ini.Aku bahkan bertanya pada bayanganku sendiri,apa benar yang sedang aku lakukan ini ?
Aku sadar tak seharusnya aku mempertanyakan keputusanku di tahap akhir seperti ini.
Abrary adalah orang yang baik,selama ini dia sudah menjagaku dan mencintaiku dengan tulus tanpa sekalipun menyakiti ku,tapi apa yang telah ku perbuat padanya ?aku malah menghianati nya dengan sebuah rasa yang aku sendiripun tak yakin dengan yang aku rasakan.
Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum di depan pantulan bayanganku sendiri.
Aku akan mencoba memperbaiki semua rasa ini.Aku ingin memantapkan kembali perasaanku yang sempat terpengaruh dengan hal yang seharusnya tak kulakukan dari awal.
Setelah merasa cukup siap,aku melangkah gontai keluar dari kamar mandi.
Langkahku melambat ketika mendapati Bima sedang berdiri bersandar di tembok tak jauh dari pintu toilet sambil melipat kedua tangannya di dada.
Dari tampangnya saat ini,aku sangat yakin kalau dia sedang menungguku.Aku mencoba untuk tak terpengaruh dengan keberadaannya dan tetap berjalan lurus melewatinya meskipun rasanya sangat sulit bagiku untuk mengabaikannya.
"Kamu sangat cantik memakai gaun itu."Ucap Bima ketika aku lewat di depannya.
Langkahku terhenti sejenak,entah kenapa senyumku merekah dengan sendiri nya.Tapi sayang,Bima tak melihat ekspresi ku saat ini karena aku sedang membelakanginya.
Ingin rasanya aku berbalik menatapnya,tapi aku teringat kembali dengan janji yang aku ikrarkan pada diriku sendiri sesaat yang lalu.
Aku meneruskan langkahku tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Aku cinta padamu."
Aku diam di tempat.Tiga kata yang Bima ucapkan barusan membuat duniaku serasa berhenti berputar.
Seluruh tubuhku seperti tersengat listrik berkekuatan 1000 Watt.Ingin sekali aku memutar langkahku dan berlari ke arahnya, juga mengatakan kalau aku juga mulai merasakan sesuatu terhadapnya.
Namun untuk mengartikan rasa itu sebagai cinta kayaknya masih terlalu cepat.
Aku senang dengan pengakuan Bima barusan,walaupun untuk itu hatiku harus bertarung dengan akal sehatku untuk mengambil keputusan yang tepat.
Kedatangan Abrary yang tiba tiba membuyarkan rasa yang berkecamuk di dalam hatiku.
Abrary tak berkata lagi begitu dia menangkap sosok Bima yang sedang melihat ke arah kami.
Aku berbalik seketika mengikuti pandangan Abrary.
Tubuhku serasa lemas,rasa yang melambung tinggi di hatiku seketika hilang bagaikan di hempas kan ke lantai.
Disana,di samping Bima sedang berdiri sosok Laras yang tengah memandang kami.
Apakah ucapan Bima barusan di peruntukkan buat Laras ?bodohnya aku ini dengan berharap kalau pernyataan cinta Bima barusan untuk diriku.
Kenapa juga dia harus mengucapkan cinta padaku ?sedang sehari sebelumnya aku telah menyuruhnya untuk menjauhiku dan membuka hati untuk orang lain.
Lagipula bukannya aku akan bertunangan saat ini ?
Tapi kenapa hati ini tidak merasa rela dengan semua ini,apalagi kalau harus menerima kenyataan orang yang Bima pilih adalah Laras.
Tanpa berkata apapun,aku menarik tangan Abrary dan meninggalkan Bima dan Laras.
Semua orang yang menunggu kedatangan ku dan Abrary mulai menebarkan senyum dan tawa bahagia.
Tapi salah seorang wanita yang hadir disana malah menangis sambil memandangiku.
Aku merasakan kesedihan yang dalam saat menatap wajah wanita paruh baya itu.
Dengan langkah perlahan wanita itu mulai berjalan mendekat ke arahku dan memelukku diiringi Isak tangis yang teramat sangat.
Entah mengapa aku pun mulai ikut terbawa arus kesedihan bersamanya hingga tanpa sadar air mataku menetes saat membalas pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu,nak."
Bima yang datang bersama laras langsung mendekat dan memeluk wanita itu seraya membawanya menjauh dariku begitu melihat wanita paruh baya itu.
"Itu dia kan, Bim ?"
Suara serak wanita itu membuat hatiku pilu.Aku tau pasti,dia pasti salah satu orang yang menganggap kalau aku adalah Corona.
Bima mencoba menenangkan wanita itu dengan mengusap bahunya dan menghilang di balik pintu menuju ke luar ruangan.
Tangisan wanita paruh baya itu semakin menjadi jadi ketika Bima menceritakan kejadian yang sebenarnya padanya yang ternyata adalah Tante Kania,ibu kandungku.
Namun kali ini bukan lagi tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan sebagai luapan rasa syukur karena melihat putrinya masih hidup walaupun masih dengan sedikit rasa kecewa dengan mengetahui kalau diriku lupa ingatan.
Rupanya Bima sudah mengetahui kebenaran tentang masa lalu tante Kania dan ayahnya.
Dengan sendirinya dia mulai bisa memaafkan Tante Kania dan beranggapan kalau ini bukan salahnya Tante kania.
Makanya dia sangat tau Gimana perasaan Tante Kania saat ini.
"Makasih "Ucap Tante Kania pada Laras yang menyodorkan sebotol air mineral padanya.
"Sama sama Tante."Ucap Laras dengan seulas senyum.
"Tan,ini Laras."
"Ras,ini Tante Kania ibu kandungnya Corona."
"Laras,Tante."
Bima mengenalkan Laras pada Tante Kania dan disambut Tante Kania dengan menggenggam uluran tangan Laras.
"Siapa dia,Bim ?Apa dia pacar kamu ?"tanya Tante Kania sambil senyum memandang bergantian pada Bima dan Laras.
Mendengar pertanyaan dari Tante Kania,Laras hanya menunduk dan tersenyum malu,sedang Bima hanya tertawa kecil.
"Bukan,Tan.Dia temanku dan Corona di kampus"
Laras kelihatan kecewa karena hanya dianggap teman oleh Bima.
Dengan cepat dia kembali mengatur perasaannya hingga tak akan bisa di analisa oleh siapa pun yang memandangnya.
"Siapa yang bisa menggantikan Corona di hatinya Bima ?benarkan,Bim ?"Ucap Laras.
"Kamu pasti kecewa kan Bim ?seharusnya kamu yang ada disana bersamanya.Tapi--"Tante Kania memandang Bima penuh kesedihan.
"Sudahlah,Tan.Abrary juga orangnya baik,dia sangat mencintai Corona,dan begitu pula sebaliknya.Asalkan Corona bahagia,aku juga akan sangat bahagia untuknya."Ucap Bima mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Kamu memang anak yang baik.Tante berharap kamu bisa menemukan seseorang yang baik dan bisa bahagia juga seperti Corona saat ini."Tante Kania menatap Laras.
"Kalo Tante udah sedikit tenang,sebaiknya kita kembali ke dalam.Pasti Corona akan sangat khawatir dengan kejadian tadi.Meskipun dia kehilangan ingatannya,sifatnya masih tetap Corona yang dulu,yang sangat perasa dengan derita orang lain."Ucap Bima
Tante Kania hanya mengangguk dan mengapit tangan Bima masuk kembali ke dalam ruangan pesta bersama dengan Laras juga tentunya.