My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
kemarahan kak fya...



Setelah membayar ongkos taksi,aku menggenggam tangan Adel dan menariknya masuk ke sebuah toko yang menjual berbagai macam aksesoris wanita.Mulai dari pakaian,sepatu dan yang lainnya.


Adel mungkin berpikir aku hanya mengajaknya untuk menemaniku berbelanja..


Namun dia tak pernah bosan ataupun mengeluh,dan itu yang membuatku sayang padanya.Setidaknya bersama dengan Adel membuatku seperti punya saudara perempuan yang walaupun memang punya tapi seakan seperti tak punya.


Aku mengambil beberapa pasang pakaian,sedangkan Adel hanya melihat lihat.


Aku melihat pandangannya berubah saat memandang baju berwarna toska yang di pajang di etalase,aku tau kalau dia menyukainya.


Adel tau,walaupun dia menyukainya,tapi dia tak'an sanggup untuk membelinya.walaupun dia harus menyisikan uang jajannya selama setahun.


Makanya,aku diam diam menyuruh karyawan toko untuk membungkus baju itu secara terpisah dengan punyaku.


"Sudah selesai Li ?"tanya Adel yang menemaniku ke meja kasir untuk membayar.


"Sudah,,,tapi habis ini kita makan dulu yah."Kataku sambil menyerahkan kartu kredit kepada petugas kasir..


Setelah selesai membayar,aku dan Adel berjalan ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari toko baju yang tadi kami datangi...


Kayaknya mengambil tempat duduk paling sudut memang sudah merupakan kebiasaan ku.Semua tas belanjaan ku taruh di bangku kosong di sampingku.


Pelayan kafe yang melihat kami datang,langsung berjalan ke meja ku untuk bertanya menu yang akan kami pesan.Aku hanya memesan nasi goreng seafood untukku dan adel.


Pelayan itu pun pergi dengan membawa catatan pesanan kami.


Lagi asyik ngobrol dengan Adel tentang acara kontes nanti malam,kak Fya datang bersama dua orang temannya yang kebetulan ingin nongkrong juga di kafe ini.


Aku melihat kak Fya berjalan ke arahku setelah memastikan kedua temannya sudah mendapatkan tempat untuk duduk.


Nampaknya ini adalah saat yang tepat untuk melabrakku,sebab dia tak dapat melakukannya dirumah ataupun disekolah.


Dari raut wajah kak Fya yang menatapku,aku pastikan tidak ada sedikitpun hal baik yang akan terjadi antara aku dan dia saat ini.Tapi aku tetap berperilaku baik padanya dengan seulas senyuman menyambut kedatangannya.


"Kayaknya omonganku tempo hari tidak begitu jelas yah !"kata kak Fya yang berbicara padaku sambil berdiri di samping meja kami dengan wajah yang sangat marah.


"Duduk dulu kak,kita bisa bicara baik baik...!!"Kataku mencoba menenangkan kak Fya...


"Aku sudah katakan padamu Corona.Jangan dekati BARATA.Di bagian mana dari kata kataku yang tidak kamu mengerti ?"kata kak Fya sambil membentakku dan menekan kata Barata dengan mata yang melotot kepadaku seakan dia akan memakanku hidup hidup saat ini.


"Tapi kak-!!"kata Adel yang mencoba membelaku,tapi tidak bisa meneruskan kalimatnya karena langsung dipotong oleh kak Fya.


"Diam kamu.Jangan campuri urusanku dengan Corona."


Aku langsung menatap Adel dan memberi isyarat agar dia tak mencoba untuk membelaku lagi.Karna aku yang paling tau dengan sifat kakakku,dia tidak suka bila perkataannya dibantah.


Walaupun aku tau,Adel bermaksud baik. Adel tau kalau aku tak pernah mendekati kak Bara tapi kak Bara yang selalu mendekat padaku,makanya dia ingin menjelaskan hal itu pada kakakku.


"Jika sampe aku melihatmu mendekati Bara lagi,kamu akan tau sendiri akibatnya..."


"Kenapa Corona harus mendekati kak Bara dia adalah pacarku sekarang."Kata Bima yang tiba tiba muncul di antara kami.


Mataku melebar mendengar ucapan Bima,begitupun dengan Adel yang tak kalah terkejut sampai dia menutup mulutnya dengan tepalak tangannya.Dia merasa kalau aku dan Bima sedang membohonginya saat tadi kami mengatakan kalau kami hanya berteman..


'pacar ?kenapa Bima mengatakan kalau aku adalah pacarnya ?'batinku dalam hati.


kak Fya melihat ke arah Bima yang berdiri dibelakangnya.


"Kalo begitu jaga baik baik pacarmu ini dan jangan biarkan dia kecentilan pada orang lain.."Kata kak Fya yang meninggalkan meja kami dan langsung kembali kepada teman temannya...


Aku tau pasti yang kak Fya maksud dengan orang lain adalah kak Bara.


Untunglah keadaan kafe saat ini tidak terlalu ramai,jadi pertengkaran kami tidak sampai menjadi pusat perhatian banyak orang.


Sebelum Adel menghujani kami dengan pertanyaan yang sedari tadi dia bendung dikepalanya.Bima langsung meminta maaf padaku.


"Maaf ya ,aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman dengan menyebutmu pacarku,aku hanya-!!"


"Nggak apa apa Bim,aku ngerti maksudmu."


kataku dengan nada tak bersemangat.


Aku tak terlalu memikirkan tentang perkataan kak Fya,tapi dadaku terasa sesak mendengar Bima meminta maaf karena menyebutku pacarnya,padahal aku berharap kalau Bima sungguh ingin aku menjadi pacarnya.


"Aku pikir ucapan Bima yang tadi beneran,aku sampai kesal tadi,menganggap kalau kalian berdua sudah membohongiku !"


kata Adel yang sedang mengambil makanan yang diantar pelayan dimeja kami..


"Sama sama mbak."


Bima mengambil tempat duduk tepat berada disampingku.Sepertinya Bima mengikuti kami sejak tadi,kalau nggak,kenapa tiba tiba dia ada disini.


"Makanlah Coro,kamu kelihatan pucat.."Kata Bima sambil menyodorkan makanan yang kupesan tadi.


Seketika nafsu makanku menghilang.Padahal tadi aku sangat lapar karena sejak pagi tadi aku belum mengisi perutku.Aku memaksakan tersenyum sambil mengaduk ngaduk makananku...


"Jangan hanya diaduk,makanannya bisa pusing ,"Ucap Bima mencoba mencairkan suasana dan berhasil membuatku tersenyum.


Adel berhenti makan dan memandang kami secara bergantian.Kali ini entah apa yang ada dipikirannya.


"Sekarang apa lagi Del ?"


"Kayaknya,aku benar benar ketinggalan informasi,atau kamu sudah berteman dengan Bima lebih lama dari aku ?"tanya Adel dengan tatapan sinis padaku.


"Maksudnya ?aku nggak ngerti deh maksud kamu itu apa ?"tanyaku heran.


"Tadi,aku dengar kak Fya manggil kamu Corona.terus sekarang,Bima juga panggil kamu dengan Corona.Padahal kamu baru kenal sama Bima.Kenapa dari SD sampai sekarang aku manggil kamu dengan nama Lia tanpa sedikitpun mengetahui kalau nama panggilanmu yang lain adalah Corona !wah,kalian berdua ini memang misterius.Jujur aja deh,hubungan kalian ini apa sih ?"


kata Adel dengan menggebu gebu.


Aku dan Bima saling memandang dan itu membuat Adel Semakin sumringah untuk melemparkan banyak pertanyaan.


"Nah,,,,,sekarang saling liat liatan,makin curiga deh aku,ayo dong ngomong jangan diam aja,aku bisa mati penasaran kalo begini...!!"


"Sudahlah Del,jangan mikir yang macam macam,aku sama Bima emang beneran hanya teman,iya kan Bima..??"


Pertanyaan ku membuat Bima salah tingkah dan menjawab dengan terbata...


"Jhaaah,,,,,,i,,iya bener."


"Apa kalian sungguh ingin aku percaya dengan melihat tingkah kalian berdua yang seperti ini ?"kata Adel dengan tatapan penuh selidik.


Ternyata Adel mengamati tingkah laku aku dan Bima yang sudah seperti ketangkap basah karena sedang melakukan suatu kejahatan besar.


Selesai makan kami keluar ketempat parkir,begitu aku ingin naik taksi yang sudah ku setop,Adel melarang ku untuk naik.Dia menyuruhku untuk pulang bareng dengan Bima


.


"Kok pintunya ditutup Del,aku kan belum naik.."Kataku sambil berdiri di samping pintu taksi yang tertutup.


"Kamu pulang aja bareng Bima.Tuh,dia lagi nungguin kamu no."Kata Adel sambil menunjuk kearah Bima.


"Kalo begitu,ambil ini dan tampilkan pesona Adelia yang cantik "kataku sambil memberikan sekantong tas belanjaan yang tadi sudah kupisakan..


"Apa ini ?"


"Hadiah buat kamu karena sudah menemaniku hari ini..."


Adel keluar lagi dari taksi dan langsung memelukku,aku juga memeluknya dengan erat...


"Makasih banget Lia.Kamu memang sahabat terbaikku..."


"Sudah,,cepat pulang dan jangan lupa untuk tampil cantik malam ini.Supaya mereka semua menyesal karena tidak memilih seorang Adelia menjadi kandidat ratu cempaka..."


Kami berdua tertawa bersama,aku sekalian membayar ongkos taksi yang membawa Adel pulang.


Setelah taksi itu berlalu,aku melihat kearah Bima yang sedari tadi menungguku sambil bersandar di motornya...


"Gimana,,,kita pulang sekarang ?"tanya Bima padaku sambil menyodorkan helm yang dipegangnya.


"Kenapa kamu begitu yakin kalau aku akan pulang bersamamu ?"tanyaku menggoda Bima


"Ya sudah kalo nggak mau pulang bareng aku !"


Bima menarik lagi helm yang akan dia berikan kepadaku tapi aku langsung mengambilnya dan itu berhasil membuat Bima melihat ke arahku.


"Siapa juga yang bilang kalo aku nggak mau pulang bareng kamu "


Kami berdua tertawa bersama,untuk sesaat aku melupakan kejadian demi kejadian yang aku alami hanya dengan melihat senyuman Bima.


Tapi aku menyadari kalau tidak akan lama lagi,aku akan merindukan senyumannya,karena aku akan pergi ke Jepang dalam dua hari lagi.........