
Kenzo mengantarku pulang dengan mobilnya.Selama di perjalanan,kami tak banyak berbicara.
"Li,,,,maaf sebelumnya.Bukan maksud untuk mencampuri urusan pribadimu.Tapi aku dengar dari Abrary,kalian akan bertunangan dalam waktu dekat."
"Iya benar."
"Bukankah ini adalah hal paling membahagiakan buat kalian ?"tanya Kenzo memastikan.
"Tentu saja."jawabku lantang.
"Tapi kenapa wajahmu kelihatan murung.Nampaknya ada sesuatu yang kau pikirkan ?"Ucap Kenzo lagi sambil mengalihkan pandangannya sekilas menatapku kemudian kembali ke arah jalanan.
"Benarkah ?Mungkin aku begini karena terlalu tegang memikirkan nya"Ucapku dengan sedikit kegugupan.
"Walau kau menyangkal dengan mengatakan kau baik baik saja,aku tau kalau ada sesuatu yang sudah mengganggu pikiranmu."batin Kenzo dalam hatinya.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah ku.Aku turun dari mobil Ken, mengucapkan terima kasih kemudian berlalu memasuki pekarangan rumahku yang tidak terlalu besar.
Aku duduk sebentar diteras rumahku,setelah Ken pergi dari hadapan ku,aku berpikir sejenak bagaimana aku harus menyampaikan kabar tentang diriku yang ditunjuk sebagai perwakilan kampus.
Terus terang,aku sangat menginginkan hal ini karena sudah merupakan cita citaku dari dulu.Tapi aku tak bisa mengabaikan Abrary selama itu,apalagi aku akan bersama dengan Bima dalam jangka waktu yang lama.
Lamunanku di buyarkan oleh bunyi dering ponselku,ternyata yang menelpon ku adalah Laras.
Rupanya dia sudah di beri tahu oleh kak Bara tentang pesta kejutan untuk Bima.
Aku dan Laras memutuskan membantu persiapan pesta kejutan tanpa memberi tahu kepada Bima.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hari ini adalah hari spesial buat Bima,tapi tak ada seorang pun yang menunjukan tanda tanda kalau ada yang mengingat ulang tahunnya,termasuk kakaknya sendiri.
Semenjak datang ke kampus pun dia hanya biasa saja,karna kalau dipikir di usia yang menginjak dewasa begini tak pantas jika merengek ingin agar ulang tahunnya dirayakan.Apalagi dia adalah seorang lelaki.
Untuk kali ini,aku yang bertugas mengajak Bima jalan jalan seharian.Itupun atas sepengetahuan Abrary.
Tujuannya,agar dia tak curiga kalau sebenarnya kami menyiapkan kejutan untuknya.
Sebenarnya Laras ingin berada di posisiku,tapi karena dia ingin memberikan kejutan yang spesial buat Bima,makanya dia mengalah dan merelakan aku yang bersama Bima seharian.
"Bim,setelah ini kamu ada acara nggak ?"Tanyaku yang baru saja memulai skenario.
"Enggak,emangnya kenapa ?"
"Kamu mau nggak temani aku ke suatu tempat?"
"Kemana ?"
"Ada deh,,,,kamu juga boleh ikutan kok,Ras.kalo kamu nya mau !"kataku sengaja agar Bima tak menaruh curiga.
"Enggak ah,aku mau pulang cepet,ada acara keluarga."Ucap Laras menahan tawa.
"Ya udah kalo kamu nya nggak mau ikutan."Aku pasang tampang cuek bebek.
"Kamu gimana Bim ?mau nggak temenin aku ?"tanyaku dengan nada sedikit memaksa.
"Aku ? tentu saja aku mau."Ucap Bima dengan seulas senyuman.
Bima masih tidak percaya dengan yang terjadi saat ini.Aku yang selama ini mencoba menghindarinya,sekarang malah mengajaknya jalan,bahkan berdua tanpa Abrary.
Aku dan Bima meninggalkan Laras yang sedang duduk manyun menatap kepergian kami.
Sepanjang perjalanan,tak henti hentinya Bima tersenyum.Baginya suatu keajaiban bisa bersamaku saat ini,apalagi aku yang sudah mengajaknya.
Bahagia yang Bima rasakan saat ini,baginya adalah hadiah terindah dalam hidupnya di hari ulang tahunnya.
Sepeda motor Bima berhenti di pinggiran pantai.Begitu turun dari motor,aku berlari ke arah bibir pantai tanpa mempedulikan Bima yang tertinggal di belakang.
Berhadapan dengan lautan luas dan mendengar deru ombaknya yang bergemuruh membuat hatiku serasa damai.Semua masalah yang menimpaku,untuk sesaat ingin ku lupakan dengan memanfaatkan moment ini.
Semilir angin yang kencang membuat rambut panjang ku yang tergerai menari bebas di udara.Dengan tawa yang tak pernah lepas dari bibirku membuat Bima tak henti hentinya memandangiku dan ikutan tersenyum.
"Bim ayo ke sini."teriakku begitu melihat Bima berjalan mendekat ke arah ku.
Aku melihat sekumpulan anak kecil sedang membuat istana pasir.Aku dan Bima bergabung bersama mereka dan membantu mereka untuk membuatnya.
Tanpa sadar,waktu sehari itu berjalan begitu singkat,aku dan Bima duduk berdampingan di samping istana pasir yang telah kami buat,menikmati pemandangan langit senja yang mulai kemerahan.
"Lia,,,makasih yah "
"Makasih untuk apa ?"
"Untuk semuanya."
Aku tersenyum menatap Bima sejenak lalu memalingkan arah pandanganku menghadap langit sore yang begitu indah.
"Kalo boleh jujur,sebenarnya aku yang harusnya mengucapkan terima kasih padamu untuk waktumu yang ku pinjam sehari ini bersamaku.Dan aku mohon,jangan bertanya apapun padaku,karena aku tau kamu akan menanyakan alasannya kenapa ?"
Bima pun mengurungkan niatnya walau tadi sempat ingin menanyakan alasan dari rasa terima kasihku untuk waktunya.
Jadi untuk sesaat,kami hanya duduk diam sambil menikmati cahaya kemerahan di langit sore hingga cahaya itu menghilang dengan sendirinya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Dalam perjalanan kembali pulang,Bima singgah ke Pom bensin.Aku menggunakan kesempatan itu pergi ke toilet sebentar untuk menelpon Laras menanyakan bagaimana keadaan disana.
"Kenapa lama ?"tanya Bima ketika aku kembali dari toilet dan berdiri di depannya yang telah selesai mengisi bahan bakar motornya.
"Kenalan ama cowok cakep tadi pas lagi ngantri."Ucapku cengengesan sambil memakai helm yang Bima berikan padaku.
"Haah,,,,!"Bima terhenyak menatapku.
"Apaan ?"tanyaku begitu melihat Bima menatapku heran."Becanda kali,Bim.Udah ah,buruan."Aku naik di motor Bima sembari menepuk pundaknya.
"Kalo emang kamu mau selingkuh dari Abrary,harus sama aku dan bukan dengan yang lain."Ucap Bima dalam hati.
Tapi kenapa juga aku harus membuat Bima percaya kalo ucapan ku barusan hanya becanda,emangnya apa urusannya dengan Bima kalo aku selingkuh,toh Bima juga bukan siapa siapanya aku.
"Kenapa berhenti ?"
"Aku mau traktir kamu makan,aku pengen ngerayain sesuatu sama kamu."
"Ngerayain apa ?"tanya ku pura pura nggak tau dengan apa yang dimaksudkan Bima.
"Akan aku beritahu nanti,tapi kamu mau apa enggak ?"
"Gimana ya?"Aku pura pura berpikir agar Bima nggak curiga.
"Please,untuk kali ini aja."Ucap Bima memohon.
Melihat wajah Bima yang seperti itu membuatku hampir saja tertawa.
"Baiklah,tapi aku yang akan pilih tempatnya.Gimana ?"
"Terserah kamu.Yang penting sama kamu."
Bima mengikuti kemanapun arah yang aku tunjukan padanya.Namun setelah berhenti di depan restoran milik Kenzo,Bima menatapku sambil menerima helm yang ku berikan padanya.
"Kenapa ?apa ada yang salah ?kok liatin aku kayak gitu ?"tanyaku heran.
"Ini kan ---"
"Iya.Ini restoran Kenzo.Apa ada masalah ?"
Bima menggeleng.
"Aku pengen makan disini.Karena kamu,aku nggak bisa makan disini waktu itu,jadi karena kamu juga aku ingin mencoba makanan disini."
Bima tertawa mendengar penjelasan ku yang menurutnya masuk diakal juga.Memang waktu itu aku nggak sempat menikmati acara pembukaan restoran Kenzo karena terjadi hal diluar dugaan.
Bima berjalan di depan ku.Tapi begitu menyadari aku tak mengikutinya membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.
"Duluan aja Bim,aku lagi terima telpon dari Abrary.Nanti aku nyusul kamu."Kataku dengan sebuah senyum.
Walaupun sedikit kecewa,Bima mendengarkan perkataanku dan melangkah masuk duluan ke dalam restoran.
Bima memilih duduk di sudut ruangan dan menunggu kedatanganku dengan resah.
Tak berapa lama aku masuk kedalam menyusul Bima setelah memberitahukan pada Laras kalo kami sudah berada dalam restoran.
"Apa semuanya baik baik saja ?"tanya Bima begitu aku duduk di hadapannya.
"Iya,semuanya baik baik saja.Udah pesan makanan ?"
"Belum,aku nunggu kamu."
"Kalo gitu kamu pesan aja,aku mau permisi sebentar ke toilet."
Aku meninggalkan Bima yang sedang duduk melihat menu makanan pada selembar kertas.
Saat berjalan ke arah toilet,seseorang menarik lenganku hingga membuat aku terpental kearahnya.
"Laras ?"
"Ayo cepat,sudah waktunya."Ucap Laras.
Aku mengangguk dan mengikuti Laras memasuki sebuah ruangan yang berada tak jauh dari toilet.
Didalam ruangan,semuanya sudah ditata dengan sempurna.Itu semua hasil kerja sama antara kak Bara,Kenzo,Laras dan bantuan dari beberapa karyawan Kenzo.
"Semuanya sudah beres.Tinggal sentuhan akhir agar lebih mengejutkan."Ucap Kenzo.
"Baiklah.Aku akan menghubungi Bima agar dia datang kesini."Ucapku sambil mengambil ponselku dari saku celana.
"Tunggu,dimana Abrary ?"tanya Kenzo.
"Iya.Dimana Abrary ?bukankah dia bilang kalau dia akan datang ke sini ?"sambung Barata.
"Dia akan datang terlambat,tapi pasti akan datang karena dia sudah menghubungiku tadi."Jawabku.
"Kalo gitu cepatlah,nanti Bima akan curiga kalau kamu kelamaan di toiletnya."Ujar Laras nggak sabaran.
Memang benar,Bima yang sedari tadi menanti kembalinya diriku dari toilet mulai merasa khawatir karena aku terlalu lama.
Belum sempat aku menghubungi Bima,dia sudah meneleponku duluan.Aku mengangkat panggilannya tapi tak bersuara apapun hingga membuat Bima sangat khawatir dan berjalan setengah berlari ke arah toilet.
"Liaaa jawablah.Kamu nggak apa apa ?halooo Lia,,,,,,?"
"Bima,,,"
Mendengarku menyebut namanya menghentikan sejenak langkah kaki Bima untuk lebih fokus mendengarkan.
"Lia,kamu--"
"Bim,tolong aku !"
Tanpa menunggu lagi,Bima berlari seperti orang gila.Bayangan saat berada di dalam pesawat waktu itu membuat dirinya merasakan penyesalan karena tak bisa menolongku saat itu.
Namun kini dia ingin berusaha menolongku dan tak mau kehilanganku untuk kedua kalinya.Padahal dia sendiri tak tau apa yang terjadi padaku saat ini.
"Lia,kamu dimana ?"Teriakan Bima menggema di sepanjang koridor.
"Aku disini Bima."
Bima berbalik arah karena dia sudah melewati pintu ruangan tempat pesta kejutan untuknya.
Suaraku terdengar dari balik pintu ruangan yang Bima lewati tadi.
Dengan keras dia mendobrak pintu dan mendapati suasana di dalam ruangan itu sangat gelap.
"Lia,apa kamu disini ?"tanya Bima sambil terus berjalan masuk ditengah ruangan gelap dengan cahaya yang minim.