
Rasa penasaran dikesampingkan oleh Bima jauh di dalam hatinya,saat ini dia harus bersiap dengan tampilan gaya yang tidak boleh kalah dari Kenzo dalam merebut perhatian sang kekasih.
Padahal kalo dari segi penilaian ku,mau penampilan Bima kayak apapun aku akan tetap cinta sama dia,bahkan perubahan kencha tidak sedikit pun berpengaruh padaku,walaupun aku akui di memang terlihat tampan dengan penampilannya sekarang.
Aku segera bergegas,seperti biasa aku bergaya casual dengan gaya andalanku.
Aku memakai kaos hitam dengan bawahan jeans yang sobek di bagian lutut,tak lupa sneaker putih sebagai alas kaki.Aku mengepang rambutku dengan membiarkan sedikit poni yang berjatuhan di dahi dan pipiku.
Ku sambar tas ransel yang tergeletak di atas meja dan bergegas turun kebawah.
Kenzo ternyata sudah menungguku di bawah,matanya sedikit terpana saat melihatku menuruni anak tangga satu persatu.
"Ken,tunggu bentar lagi yah,aku nelpon Bima dulu buat kasih tau kalo kita udah siap."Kataku sambil mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Bima.
"Coro,maafin soal yang tadi yah."
"Maaf soal apa ?
"Maaf karna sudah lancang menjawab panggilan telepon kamu.Apalagi itu dari Bima,pastinya dia akan berpikiran yang macam macam."
"Sudahlah,santai saja,kayaknya Bima nggak permasalahin kok.Buktinya dia mau nganterin kita ke rumah Dinda."
Pembicaraanku dengan Kenzo terputus saat Bima menjawab panggilanku.Kenzo menatapku sambil tertawa,dia tak habis pikir bagaimana aku bisa sepolos ini ,sudah jelas sekali Bima sangat terusik dengan kejadian tadi makanya dia ingin mengantar kami karena tak rela kalau aku jalan berdua dengan Kenzo.
Penyesalan hadir didalam hati seorang kencha,kalau saja dia datang menghampiriku dari awal,mungkin sekarang dia yang akan berada diposisi Bima saat ini dan menjadi orang yang paling bahagia dengan berada di sampingku dan setiap hari menikmati momen seperti yang terjadi di hadapannya.
"Ken,,,,kenca,,hey.Lagi mikirin apaan ?"Ujarku membuyarkan lamunan Kenzo begitu aku selesai berbicara dengan Bima di telpon.
Kenzo nampak tersadar dari rasa
penyesalannya,namun dia tetap memiliki harapan yang penuh kalo suatu hari nanti aku akan bisa menjadi miliknya.
Dia ingin bersaing dengan Bima untuk mendapatkanku,tapi dia tidak berniat merusak hubunganku dengan Bima,hanya saja dia ingin tetap berada disampingku walau hanya aku anggap sebagai seorang teman.
Bukankah awal terbentuknya sebuah cinta harus melalui proses pertemanan dahulu,setidaknya itu yang ada dipikiran Kenzo sekarang.Jadi untuk saat ini dia hanya puas dengan menjadi sahabatku,entah itu sampai kapan,dia juga akan tetap menjalaninya dengan sabar selama bisa bersamaku.
"Hey,,,lamunin apaan sih,serius amat ?"
"Lamunin kamu !"Jawab Ken jujur.
"Haah "Aku terhenyak.
"Aku pengen punya pacar semanis kamu."Ucap Kenzo dengan lirikan menggoda.
"Ada kok yang manis kayak aku,bahkan lebih cantik,cuman kamu aja yang belum menyadarinya."Jelasku mengarahkan pikiran Kenzo pada Adelia yang sudah jatuh hati pada Kenzo sejak pertama dia melihatnya.
"Tapi aku maunya kamu,Corona "Batin Ken dalam hatinya.
Bima yang sudah berdiri di depan pintu rumahku tertegun mendengar perkataan Kenzo yang mencoba menggodaku.
Bima juga memakai kaos hitam polos dengan celana jeans abu abu ,juga sneaker putih di kakinya.Tampilan kami berdua sudah seperti pasangan couple yang akan ngedate.
"Sudah siap ?"Tanya Bima begitu kami menyadari kedatangannya.
"Kok bisa kembaran yah ?"Kataku pada diri sendiri dengan senyum tipis begitu melihat kearah Bima.
"Aku juga nggak nyangka bisa sama,aku hanya mengikuti kata hati."Kata Bima karena dia bisa mendengar perkataan ku.
"Jangan terlalu percaya dengan kata hati,karna tidak selamanya kata hati itu benar."
Ucap Kenzo yang entah mengapa membuat Bima tidak merasa nyaman mendengarnya.
Kalimat Kenzo menusuk ke dalam relung hatiku.
Suara ponsel berdering memecahkan kesunyian sesaat,aku merogoh kantong celana mengambil benda mungil berwarna hitam.Nama Dinda tertera di layar ponselku.
"Li,,,kamu dan Kenzo jadi datang kan ?"Tanya Dinda dari sebrang sana.
"I,,,,iya.Ini baru mau jalan,soalnya disini hujan Din.Tunggu aja."
Setelah meyakinkan Dinda bahwa kami akan datang,aku menghampiri Bima dan Kenzo yang saling menatap tajam seperti akan saling menerkam.
"Ayo kita jalan,Dinda udah nunggu."Ajakku sambil bergelantungan manja di lengan Bima seperti anak kecil.
***
Mobil Bima sudah memasuki halaman rumah Dinda,begitu keluar dari mobil,Dinda dan Raka saling pandang karena terkejut melihat Bima yang ikutan nongol bersama denganku dan kenzo.
"Din,apa kita ketambahan anggota di kelompok kita ?"Tanya Raka yang langsung mendapat cubitan dari Dinda di pinggangnya.
"Aw,,,,,,,sakit Din."Ringis Raka sambil memegang pinggangnya.
"Makanya kalo punya mulut dijaga."
Dinda takut kalo Bima mendengar terus tersinggung,karena dia bukan bagian dari kelompok kami.
"Anggota kelompok kita tetap berempat kok.Bima cuman menemani pacarnya aja,takut kalo diambil sama orang lain."Ujar Kenzo sambil melirik ke arahku yang memasang wajah merona karena merasa malu dengan candaan Kenzo.
Bima tak terlalu pusing dengan perkataan Kenzo,dia tau kalo saat ini Kenzo sangat ingin berada di posisinya.Makanya dengan sengaja dia menggenggam jemari tanganku dan berjalan di depan Kenzo.
"cieee,,,yang lagi pacaran,bikin iri para jomblo aja."Ledek Dinda.
"Kamu kok tega banget sih Bim,sakitt hatiku,,,"Kata Raka lirih,karena sejak awal masuk sekolah dia dan saudara kembarnya Reno menyukaiku.
Namun kata kata Raka seperti mewakili perasaan yang dirasakan Kenzo saat ini yang tak mampu dia ungkapkan.
Dinda mengajak kami duduk melantai didepan teras rumahnya sambil menikmati angin sepoi Sepoi di sore hari.Mendengarkan burung burung yang berkicau di dahan pohon dan menikmati semilir angin sejuk.
Tampaknya hujan hanya turun dibagian tempat tinggal kami,nyatanya di bagian tempat tinggal Dinda tak ada tanda tanda kalau habis turun hujan,malahan di sini cuacanya sangat bagus,terasa nyaman dengan banyak pohon pohon rindang yang menghasilkan banyak oksigen segar.
Bima duduk agak menjauh dari tempat kami berdiskusi,dia tak mau kalo sampe dituding menguntit hasil kerja kelompok lain.Walaupun dia harus rela melihat aku dan Kenzo sering bertatapan saat sedang berdiskusi dalam mengambil keputusan.
Nampaknya Kenzo menggunakan kesempatan ini untuk membuat Bima jengah.
Kenzo sering membuat lelucon yang membuatku tertawa sampai sakit perut,dan sesekali aku menonjok lengannya karena tak tahan dengan leluconnya yang membuatku tertawa sampai mengeluarkan air mata.Sampai aku melupakan Bima yang sedari tadi menatap kami dengan raut wajah menahan marah karena cemburu.
Sementara diskusi berlangsung,ibunya Dinda keluar dari dalam rumah dan menghampiri kami.
"Lagi diskusi apaan,kayaknya seru nih."Tanya Bu Dita.
"Sore Tante,kami berisik yah ?"Tanyaku merasa tak enak.
"Nggak apa apa,Tante malah senang kalo liat kalian pada ngumpul rame rame gini.Jadi ingat masa lalu waktu Tante masih seumuran kalian "Kata Bu Dita sambil menerawang masa mudanya yang sudah terlewatkan.
"Tapi Tante masih kelihatan awet cantiknya kok.Aku malah mengira kalo Tante adalah kakaknya Dinda."Ucap Kenzo memuji Bu Dita.
"Aaaahhh,,,,,kamu bisa aja.Pasti kamu sering ya digombalin sama pacar kamu ?"Tanya Bu Dita sambil melihat ke arahku.
Bu Dita berpikir kalo aku adalah pacar Ken,karena sedari tadi dia memperhatikan kalo aku dan kenzo sangat akrab.
"Ibu jangan so tau deh,Lia bukan pacarnya Kenzo.No pacarnya ada disana "Dinda menunjuk ke arah Bima yang menatap ke arah kami dengan tatapan kurang bersahabat.
"Maap,,,,Tante nggak tau.Habis kalian kelihatan seperti orang pacaran.Kalo gitu Tante masuk dulu deh,mau masak buat makan malam."Kata Bu Dita sembari berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Begitu mendengar perkataan Bu Dita,aku tak bersemangat lagi melanjutkan diskusi,apalagi saat melihat raut wajah Bima yang terlihat sangat marah.Berbeda dengan raut wajah Kenzo yang terlihat baik baik saja,bahkan sesekali aku bisa melihat Ken tersenyum karena mendengar omongan Bu Dita tadi.
Kami memutuskan mengakhiri diskusi hari ini dengan hasil kalo aku yang akan mencari sumbernya,Ken yang akan menyusunnya menjadi sebuah makalah,Dinda yang akan mempersentasikan nya di depan kelas dan Raka yang akan mencatatnya.
Setelah berpamitan,kami langsung permisi pulang.Didalam mobil kami hanya diam tanpa suara,sampai Bima menyuruh Ken turun untuk naik taksi pulang ke rumah.Karena dia akan mengajakku ke suatu tempat.
Tampaknya Bima sudah tak sabaran untuk mengkonfirmasi sebuah pertanyaan yang hampir membuat kepalanya meledak menahan rasa penasaran.Dia harus meluruskan beberapa hal denganku,karena tak kuat jika harus menyimpannya seorang diri.
Awalnya aku merasa tak enak hati pada Ken,tapi begitu Ken mengisyaratkan kalo dia baik baik saja dengan perlakuan Bima saat ini,aku jadi sedikit merasa lega sekaligus was was,kemana dia akan mengajakku dengan raut wajah yang menakutkan seperti itu.
Setelah Ken turun dari mobil,Bima memacu laju mobilnya,aku tak berani bertanya ataupun bersuara,ketegangan yang terjadi saat ini membuatku panas dingin.Belum pernah aku melihat Bima semarah ini.
Tapi masa iya dia marah hanya karena perkataan Bu Dita tadi.
Mobil Bima berhenti ditepi tebing yang curam,dia keluar dari mobilnya meninggalkan aku yang masih duduk terpaku di dalam mobilnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaagghhhh...."Suara teriakan Bima yang kencang membuatku bergindik ngeri,aku tak bisa memprediksi apapun dari sikap Bima saat ini.
Ketakutan ku semakin membuncah saat Bima membuka pintu mobil dan menyuruhku keluar.
"Oh Tuhan,apa yang harus aku lakukan,apakah Bima akan mendorongku dari tebing ini ?tapi kenapa ? apa kesalahan yang sudah aku lakukan padanya ? Kalaupun dia akan melakukannya,setidaknya aku harus mengetahui alasannya supaya aku tak mati penasaran."Batinku dalam hati.