
Aku mengejar Bima yang terus berjalan sampai ke taman sekolah,kayaknya dia sengaja menuju kesana karena dia tau aku akan mengikutinya.
Seketika aku berhenti saat Bima berhenti,dia menoleh kearahku,menatapku sebentar lalu berpaling menatap bunga yang bermekaran ditaman sekolah.
"Bima,kamu dari mana aja,kenapa nggak masuk kelas ?"aku menatapnya dengan penuh tanya.
Bima tak menjawab,dia hanya terus diam seribu bahasa.Raut wajah Bima tak bisa kutebak.
"Sebenarnya kamu kenapa ? apa kamu marah sama aku ?"tanyaku sembari menatapnya dari samping.
Bima memegang kedua bahuku,memutar tubuhku untuk menghadap kearahnya.Aku hanya terdiam menunggu perkataan yang keluar dari mulutnya.
Walaupun saat ini aku sangat penasaran dengan perubahan tingkah Bima padaku,tapi aku tak dapat membohongi diriku sendiri kalau saat ini aku merasa seperti akan terbang ke angkasa.Tatapan Bima menusuk sampai kedalam dadaku,jantungku berdebar dengan kencang,aku merasakan aliran darahku mengalir dengan cepat,tapi ku tepis semua rasa itu dengan terus beradu tatap dengannya karena rasa penasaran.
"Kalo kamu lakukan ini lagi padaku,aku akan benar benar marah padamu,Corona "
Bima memelukku dengan erat,seakan tak peduli kalau kami sedang berada di lingkungan sekolah.Aku sampai kehabisan nafas karena didekap begitu erat olehnya.
"Kenapa dia seperti ini,apa yang sudah kulakukan padanya,bukankah semalam kami berdua baik baik saja."Batinku didalam hati.
"Bima,lepasin aku.Aku nggak bisa napas !"
"Nggak mau ! ini balasan karena kamu sudah membuatku seperti orang gila kemarin,aku sampai nggak bisa bernafas begitu tau kamu udah ninggalin aku."
"Tapi ini di sekolah Bima.Entar kita di panggil keruang BP karena berbuat mesum."
Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan bima,kepalaku tertunduk karena malu,Bima menggenggam tanganku dan mengajakku duduk ditaman.
"Kamu kok tega ngerjain aku ?"
"ngerjain gimana ?"
"Kamu sekongkol ya sama kakak kamu itu...?"
"Siapa ?"
"Siapa lagi kalau bukan kak Ryan.Dia tega banget ngerjain aku dibandara.Sialan !"
"Kamu ke bandara ? Buat apa ?"
"Buat apa lagi,yaa ngejar kamu lah...!Habisnya Adel bilang kalo kamu bakalan pergi ke Jepang,tapi pas sampe sana,petugasnya bilang kalo pesawatnya udah berangkat,dan sialnya lagi aku dikerjain sama kakak kamu itu."
Aku tertawa mendengar penjelasan Bima,sekarang aku ngerti kenapa Bima bersikap seperti itu.Tapi tunggu dulu....Apa sekarang ini yang Bima maksud,dia nggak mau kehilangan aku,dan dia sedih karena tau kalau aku akan meninggalkannya.Apa itu artinya Bima suka padaku ?semua pertanyaan ini sekarang menari nari di otakku,apa yang harus aku lakukan sekarang ?bagaimana sekarang aku bersikap.
Ya ampun Corona.
"Hey..Kok melamun sih.Lagi mikirin apaan ?"
Bima membuyarkan lamunanku dengan melambaikan tangannya didepan wajahku.
"Hah...Nggak ada."Kataku dengan wajah yang bersemu merah.
"Mulai sekarang,apapun yang kamu lakuin harus bilang sama aku "
"Kenapa ?"
"Karna kamu adalah pacar aku,jadi sudah jadi suatu keharusan mengetahui apapun yang dilakukan pacarnya."
"Sejak kapan aku jadi pacar kamu ?"tanyaku dengan harapan apa yang aku dengar itu nggak salah.
"Sejak hari ini,dan untuk selamanya,kita Remi jadian"Kata Bima dengan penuh semangat.
"Kamu kok begitu yakin kalo aku mau jadi pacar kamu."
Bima terdiam,tawanya yang mengembang seketika menghilang.
"Emangnya kamu nggak mau jadi pacar aku ?atau kamu udah punya pacar ?"
"kamu kok sensi amat,siapa juga yang bilang kalo aku nggak mau."
"Jadi kamu mau ?"
***
Jam di dinding kamarku sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima menit,tapi aku belum bisa memejamkan mataku.Kejadian yang terjadi tadi siang membuatku tak bisa tidur.
Aku meraih handphone yang berdering di atas meja samping ranjangku.Kulihat nama Bima muncul di layar ponsel yang berukuran kecil itu.
Ini pertama kalinya aku berbicara dengan Bima di telpon,jantungku berdebar tak karuan.
"Kenapa ?tumben banget nelpon jam segini."Tanyaku sembari menahan senyum yang akhirnya tetap merekah di bibirku.Padahal senyum juga nggak apa apa,toh Bima juga nggak bakalan bisa melihatnya.
"Sebentar,aku seperti merasakan sesuatu yang aneh.Apa sekarang kamu sedang tersenyum ?"tanya Bima seakan dia bisa tau kalau aku sekarang sedang tersenyum padanya.
'Bagaimana dia bisa tau kalau aku tersenyum ?"Batinku sambil melirik seluruh ruangan kamarku dengan wajah penuh selidik,mencurigai kalau Bima sedang bersembunyi di salah satu sudut kamarku untuk memata matai.
"Apaan sih.Ngapain kamu nelpon aku malam malam gini ?"
"Aku hanya pengen denger suara kamu."
"Ini kan udah,kalo gitu aku tutup ya !"
"Tunggu,tega amat sih,masa rindu aja nggak boleh."
"Tapi ini kan udah malem,besok sekolah tau,entar bangunnya kesiangan,udah tidur aja,kan besok masih bisa ketemuan di sekolah."
"Kalo gitu,besok kita jalan sehabis pulang sekolah,mau nggak ?"
"Nggak bisa,besok aku udah janjian Ama Adel pengen ke toko buku,mau nyari bahan buat tugas."
"Ya udah,gimana kalo besok malam ?"
"Nggak tau ah,liat besok aja,aku udah ngantuk mau tidur."
"Jangan lupa mimpiin aku yah.Selamat malam Corona."
"Ngarep...Selamat malam juga Bima."
Aku mengakhiri percakapanku dengan Bima,kuletakan ponselku dalam dekapanku sambil senyum senyum sendiri sampai aku tertidur lelap.
***
Pagi ini matahari bersinar cerah secerah hatiku yang tidak sabaran untuk cepat berangkat ke sekolah, aku yang tidak terlalu mementingkan penampilanku,untuk pertama kalinya mondar mandir di depan cermin dan entah sudah berapa kali hanya untuk memastikan kalau penampilanku sudah sempurna.
Setelah merasa sudah cantik,aku melangkah keluar kamar menuju meja makan dengan senyum yang mengembang,aku tak ambil pusing saat kulihat bunda dan kak Ryan saling pandang kerena melihatku yang senyum senyum sendiri.
"Bahagia amat ?"Ledek kak Ryan saat menyadari ada yang aneh dengan diriku pagi ini.
"Harus doooong,bukankah baik kalo mengawali hari dengan kebahagiaan,bener nggak Bun ?"Tanyaku melirik bunda yang sedang sarapan,dan menjawabku dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
"Bener itu,tapi kalo bahagianya karena seseorang,itu lain lagi ceritanya."Ucap kak Ryan lagi.
"Seseorang siapa ?"tanyaku sambil mendengus kesal.
"Tuh,udah datang."Jawab kak Ryan setelah mendengar bunyi ketokan pintu dari arah depan rumah.
Semuanya terdiam dan memandang kearah bi Nana yang berlari kecil untuk membuka pintu.
Aku terkejut saat Bima masuk ke ruang makan dengan pakaian seragam sekolah lengkap.
"Tuh bener kan ?"ledek kak Ryan melirikku dengan tatapan menggoda.
"Eh Bima,kemari nak,ayo sarapan dulu."Panggil bunda begitu melihat Bima masuk.
"Nggak usah tan,Bima udah sarapan tadi,Bima ke sini mau jemput Corona untuk berangkat bareng ke sekolah."Kata Bima tanpa malu sedikitpun.
Aku terperangah mendengar maksud kedatangannya,aku langsung mengunyah makanan yang ada di mulutku dengan cepat disusul seteguk minum air putih kemudian menyambar tas ku dan lari kearah bima sambil mensorong pundaknya untuk keluar dari sana sebelum diledek sama kak Ryan lagi.
Semua penghuni yang ada di meja makan saling pandang heran dengan tingkahku,namun mereka tetap tersenyum kecuali kak fya.