My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Ketenangan diri...



Sekarang aku tak tau harus melakukan apa,aku seperti orang bodoh yang berdiri mematung sambil bersandar pada dinding rumah sakit dengan genangan air mata yang mengalir tanpa henti dari kedua mataku.


Harus kemana aku menceritakan beban yang ada di pikiranku.Sedang Bima, satu satunya orang yang bisa aku andalkan malahan menjadi masalah terbesarku sekarang.


Aku tak bisa membayangkan gimana reaksi Bima saat tau kalo aku adalah anak dari orang yang sudah menyebabkan ibunya tiada.Lantas jika Bima memang saudara tiriku,apa aku sanggup melepaskannya ?


Untuk sekarang aku tak bisa berpikir dengan jernih,karena separuh kebenaran yang ku dengar adalah sebuah kebohongan yang nyata.


"Coro,,disini kamu rupanya,aku sudah mencarimu kemana mana.Tadi aku ke kam,,,mar-"


Kenzo tak bisa meneruskan kata katanya karena terkejut ketika aku berhambur masuk dalam pelukannya dengan isakan tangis yang menjadi perhatian orang yang berlalu lalang di depan kami berdiri.


"Hey,,,kamu kenapa ?"Tanya Kenzo yang memaksakan tersenyum memandang wajah orang orang yg lewat sambil menyeretku duduk di bangku rumah sakit yang berjejer dengan rapi di sepanjang koridor rumah sakit.


"Ken,bisakah kau membawaku pergi dari sini ?"


"Kemana ?"


"Terserah,,,yang penting menjauh dari sini."


Sekarang hanya Kenzo yang bisa aku andalkan.Aku tak mungkin pulang kerumah nenek tanpa adanya ayah dan kak Ryan,karena hanya mereka berdua yang selalu membelaku ketika nenek bertindak seolah membeda bedakan antara aku dan kak Fya dengan satu alasan yang baru ku ketahui saat ini.Pantas saja nenek tak menyukaiku,karna aku bukan cucunya.


Sedangkan untuk ketemu Bima,aku masih belum sanggup bertingkah seolah aku tidak mengetahui apapun di depannya.Rasa rinduku berubah menjadi rasa sakit hanya dengan membayangkan kalo seandainya Bima adalah saudaraku.


"Tapi kenapa ?Bima baru sampai,dan dia sedang mencarimu ?"Ucap Ken heran dengan permintaanku.


"Aku nggak mau bertemu siapa pun saat ini,aku akan menceritakan padamu nanti.Tapi tolong,untuk saat ini bawa aku pergi dari sini dan jangan beritahu siapa pun kalo aku bersamamu."Sorot mataku memohon agar Ken mau memenuhi permintaanku.


Melihatku yang sudah seperti orang yang tertekan membuat Ken menuruti permintaanku.Kami menuju halaman parkir rumah sakit,dengan menggunakan sepeda motornya kami meninggalkan rumah sakit membelah jalan raya yang ramai.Tanpa ragu,aku menyandarkan pipiku di punggung Kenzo dan memeluknya.


Kenzo memalingkan sebentar pandangannya dari arah jalanan ke rangkulan tanganku yang mengatup erat di pinggangnya.Seharusnya dia merasa senang dengan tingkahku yang sekarang,tapi entah mengapa rasa khawatir justru menyelimuti hatinya.


Kenzo menghentikan motornya dipinggiran pantai.Dia tau kalau dari kecil aku suka bila melihat keindahan pantai,dan mungkin suasana pantai yang tidak terlalu ramai saat ini bisa sedikit membuat hatiku menjadi tenang.


Tak ada reaksiku untuk turun dari motornya karena aku masih awet dengan posisiku saat ini sambil menangis.Ken tetap diam di tempatnya,meminjamkan bahunya yang kokoh sebagai tempatku bersandar.


Tak ada pertanyaan atau satu kata pun yang terucap darinya.Setelah merasa cukup tenang,aku melepaskan rangkulanku dan turun dari motor.Berjalan ke arah pantai,memandangi ombak yang datang dan pergi,aku duduk ditepi pantai,diatas pasir putih yang terbentang luas sejauh mata memandang,melipat kedua kakiku dan mendekapnya di dadaku.


Ken mengikutiku dari belakang dan menemaniku duduk dalam diam, menatapku yang sedang duduk dengan tatapan mata kosong seperti sedang menerawang sesuatu yang belum pasti.


Aku menyandarkan kepalaku dibahu Ken begitu dia duduk disampingku,air mataku menetes membasahi kaos putih polos yang dipakai Ken saat ini.


"Menangis lah Corona,,,jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.Walaupun aku tak tau apa yang sedang kau tangisi.Karena satu hal yang pasti,aku tak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi.Bahkan aku sangat senang hari ini karna kamu mau menjadikanku satu satunya orang yang bisa menjadi tempat bersandar disaat kamu sedang rapuh."Batin Kenzo dalam hatinya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


"Ken,,,,,"


"Hhmmmm"


"Aku ingin pulang bersamamu.Tapi bukan ke rumahmu,karna mereka akan menemukanku disana.Aku ingin menyendiri untuk saat ini.Bisakah kau membantuku ?"


"Bagaimana dengan bunda mu,bukankah dia akan khawatir jika kau tiba tiba menghilang tanpa kabar ?!"


"Jangan khawatir,,aku akan bilang sama bunda kalo aku baik baik saja.Tapi tak akan memberi tahu kalau aku ada di mana."


"Terus Bima ? Apa kau juga akan merahasiakan keberadaanmu darinya ?Dia datang jauh jauh kesini hanya untuk dirimu dan kau tak mau bertemu dengannya ?"


"Aku tak bisa bertemu dengannya saat ini karena hatiku akan sangat sakit jika mengingat kembali apa yang sudah keluar dari mulutnya tadi."Batinku dalam hati.


"Aku tak tau"


Tiga kata singkat yang ku ucapkan membuat Ken menyadari kalo sekarang aku sedang bermasalah dengan Bima.


Kutipan kalimat yang diucapkan Kenzo barusan adalah kata kata yang pernah ku ucapkan padanya dulu,saat dia dirundung oleh teman teman kami karena berat badannya yang berlebihan.Disaat itu dia tak mau keluar rumah dan memilih untuk mengurung diri dan menjauh dari orang orang.


Namun karena semangat dan dorongan dariku,serta kata kata yang ku ucapkan padanya seperti kata katanya barusan,membuatnya menyadari kalo masalah itu harus dihadapi dan bukannya kita lari untuk bersembunyi.


Tapi kenyataannya,mengatakan dan melakukan adalah dua hal yang berbeda.Sekarang ini aku tak tau apa yang harus aku lakukan.


"Aku juga berharap kalo aku sanggup menghadapinya,tapi ini semua begitu mendadak buatku.Aku tak tau apa yang harus aku lakukan."Jawabku lirih.


"Aku tau kamu adalah orang yang kuat,kamu pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik tanpa harus menyakiti siapa pun.Aku akan selalu ada buatmu kapan pun kamu butuh seseorang untuk mendukungmu."Ucap Ken dengan penuh keyakinan yang terpancar dari sorot matanya.


"Makasih Kencha,kamu memang sahabat terbaik buatku."Kataku dengan sebuah senyum yang dipaksakan terbentuk dari bibirku.


"Aku akan tetap bersamamu Coro,walaupun kamu hanya menganngapku sebagai seorang sahabat buatmu."Ucap Ken dalam hatinya.


***


Sepeninggalnya Bima,Kania menatap wajah Boby dengan tatapan kesedihan.Selama ini dirinya tak mengetahui kalau Naoki sudah meninggal.Mengenai kebenaran yang didengar dari mulutnya Bima kalau dirinyalah penyebab kematian Naoki membuat hati Kania sedikit tersayat rasa penyesalan.


"Maafkan aku,Bob.Aku tak tau kalo Naoki sudah nggak ada lagi.Aku turut berduka yang sedalam dalamnya."Ucap Kania sembari menggenggam tangan Boby.


"Sudahlah,nggak perlu merasa bersalah.Itu bukan kesalahan kamu.Jangan masukin ke dalam hati kata kata Bima barusan.Oki meninggal karena over dosis obat tidur.Dan Bima menyalahkan aku karena sudah membuat mamanya tertekan makanya sampai mengakhiri hidupnya."


"Tapi kenapa Bima bisa menyalahkanku,apa Naoki masih berpikiran kalo aku akan merebutmu darinya,bukankah selama ini kalian bahagia ?"


"Aku juga tak tau penyebab Oki melakukan itu.Tapi sudahlah itu semua sudah berlalu.Sekarang apa yang akan kamu lakukan ?apa kau akan mengambil kembali anakmu ?"


"Aku tak akan melakukan itu,aku tak mau membuatnya terluka demi keegoisan diriku.Aku hanya ingin dia menyayangiku dan dekat denganku walau sebagai orang lain."


"Apa Onaka dan Nayara akan mengizinkan kamu dekat dengan Corona.Waktu itu saja,Corona hampir dikirim ke Jepang karena kamu mengancam akan datang kerumah mereka untuk memberitahukan hal yang sebenarnya pada Corona."


"Keterlaluan mereka.Sampai segitunya mereka ingin memisahkan ku dengan anakku."Kata Kania tampak geram.


"Bersabarlah,Corona pasti akan menyayangimu dan menerimamu sebagai ibunya suatu saat nanti.Karena kata anak anakku,Corona itu anak yang baik dan penyayang.Dan nampaknya dia sama seperti ibunya."


"Apanya yang sama ?"Tanya Kania penasaran.


"Sama cantiknya dan mampu membuat semua orang menyukainya."


"Kamu ada ada saja."Kania menahan malu dengan wajah yang sudah mulai merona.


"Beneran Nia,Bara sama Bima saja sempat bertengkar karena memperebutkan anakmu.Tapi untungnya,Bara berbesar hati mau mengalah karena tau kalo Bima dan Corona saling menyukai."


"Berarti anakmu Bara sama kayak papanya yang rela mengalah demi cinta kedua sahabatnya,walaupun cinta itu tak pernah bersatu.."Kata Kania dengan sorot mata memancarkan kesedihan bercampur kekecewaan.


"Itulah yang membuatku menyesal sampai saat ini.Aku melepaskan dirimu demi orang yang tak pantas kau cintai.Kalo aku tau kamu akan menderita seperti ini,aku tak akan pernah membiarkanmu pergi dariku."Ucap Boby dengan penuh amarah sambil mengepalkan tangannya.


"Itu semua bukan kesalahan Onaka,dia juga hanya mencoba menjadi anak yang berbakti pada ibunya dengan menerima perjodohannya dengan Nayara."


"Dan meninggalkan dirimu dengan terus menerus memberikan luka yang tak berkesudahan."


"Aku tak pernah membenci mereka,karena biar bagaimanapun mereka sudah menjaga dan merawat anakku Corona dengan penuh kasih sayang."


"Tapi tetap saja-"


"Bob,kita sudah pernah membuat janji persahabatan saat masih duduk di bangku kuliah dulu.Apapun yang terjadi,kita akan tetap menjadi sahabat selamanya baik dalam suka maupun duka.Tidak akan ada dendam ataupun amarah yang bisa merusak persahabatan kita walaupun kita terjebak dalam masalah yang besar sekalipun.SAHABAT SELAMANYA DAN AKAN TETAP SALING MENJAGA DALAM KEADAAN APAPUN."


Kata kata terakhir diucapkan Boby dan Kania secara bersamaan,karena itu adalah sepenggal kalimat yang diikrarkan oleh enam orang sahabat tepat di awal pertama mereka menjadi mahasiswa di kampus yang sama.