
Sudah dua kali aku berada ditempat ini.Bahkan hanya dalam jangka waktu yang kurang dari seminggu.Dimana lagi kalau bukan di ruang UKS sekolah.
Hampir setengah jam aku terbaring karena pingsan.Dan itu cukup membuat Bima tidak tenang.Saat aku membuka mataku, wajah yang terpampang di depanku adalah wajah Bima yang kelihatan sangat khawatir padaku.
Aku tak bisa menggerakkan badanku karena aku begitu lemas. Aku mencoba untuk bangun,tapi aku langsung jatuh tepat di pelukan Bima.Sudah seharian penuh tubuhku tidak mendapatkan nutrisi karena tidak diisi makanan. Ditambah lagi,akhir akhir ini aku banyak pikiran.Jadi, aku tak menyadari kalau aku belum makan dari pagi.
Aku merasakan kalau aku sedang berada diperlukan seseorang.Suara Bima terdengar jelas ditelingaku.Tapi aku tak bisa membuka mataku...
Bima membuka jaketnya dan memakaikannya padaku karena aku memakai baju tak berlengan.Kemudian dia menggendongku untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat karena melihat raut wajahku yang telah memucat seperti kertas.
Dia meminta Adel yang sedari tadi bersamanya menungguku sadar,untuk memberitahu kak Bara kalau dia akan membawaku kerumah sakit.
Kak Bara sebenarnya ingin tetap disampingku,tapi dia harus bertanggung jawab penuh dengan acara yang sedang berlangsung karena dia adalah panitia sekaligus penanggung jawab yang telah diberikan kepercayaan oleh pihak sekolah.Jadi dia menyerahkan tanggung jawab kepada Bima untuk menjagaku.
"Bertahanlah Corona...Tak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu..."
Bima memacu mobilnya dengan cepat sambil sesekali melirik kearahku yang sedang tertidur disampingnya.Satu tangannya menggenggam tanganku dan tangan yang satunya memegang stir mobil.
Begitu sampai di rumah sakit.Bima berteriak kepada suster agar membawaku masuk untuk segera diperiksa.Aku di bawa menyusuri koridor rumah sakit menuju IGD.Tidak pernah sedetik pun Bima jauh dariku.Sampai akhirnya,dokter melarang Bima untuk menemaniku ke dalam ruangan.
Bima mondar mandir tak karuan.air mata mulai menetes tanpa dia sadari.Bima trauma dengan kejadian tiga tahun lalu saat dirinya harus kehilangan ibunya.Saat itu kondisi ibunya sama sepertiku.
Tapi kalau aku pingsannya karna nggak makan seharian.Kalau mamanya Bima over dosis karna kebanyakan menelan pil tidur.Dan sampai saat ini Bima masih menyalahkan papanya atas kejadian yang terjadi pada mamanya.
"Gimana keadaannya ,Dok..??"Tanya Bima kepada dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD.
"Nggak apa apa,dia hanya butuh istirahat.
Apa kamu keluarganya ?"
"Bukan dok,saya temannya. Keluarganya sedang dalam perjalanan..!"
"Ya sudah,,kalau begitu saya permisi dulu.Nanti kalau keluarganya datang,suruh temui saya diruangan saya."
"Baik dok.Terima kasih"
Karena terlalu khawatir,Bima tidak sempat menghubungi keluargaku.Mungkin saja kak Fya sudah menghubungi keluarganya karna dia ada disana ketika Corona pingsan.setidaknya itu yang ada dipikiran Bima saat ini.
Saat Bima sedang menemaniku.kak Ryan dan bunda masuk kedalam ruangan tempatku dirawat.Melihat aku terkapar di tempat tidur dengan tangan yang sudah dipasang oleh selang infus.Bunda tak kuasa menahan tangisnya dan berjalan menghampiriku, mengusap kepalaku.
Aku membuka mataku perlahan karena mendengar suara tangisan bundaku.
"Jangan nangis bunda.Coro nggak apa apa"kataku mencoba menenangkan bundaku.
"Apa yang terjadi padamu sayang..?Kenapa kamu bisa seperti ini.."
Aku mencari ke sekeliling ruangan.Kulihat Bima sedang berdiri di belakang kak Ryan karena dia sengaja memberi ruang untuk mereka.Karena dia tau kalau mereka lebih khawatir dari dirinya.
"kak Ryan.Coro mau pulang kak.Coro nggak mau lama lama disini.."
"Baiklah.Biar kak Ryan urus administrasinya."Kata kak Ryan sambil melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan ku.
"Kalau gitu,bunda ikut. Bunda mau menemui dokter untuk bertanya keadaan Coro.!!"Kata bunda yang langsung ikut meninggalkan ruangan bersama dengan kak Ryan.
Kak Ryan memberi isyarat pada Bima untuk menjagaku sementara mereka menemui dokter.Mereka meninggalkanku dengan Bima dalam ruangan.Bima menghampiriku dan duduk di kursi yang berada disamping ranjangku.Dia mengenggam tanganku
Aku merasakan kehangatan yang menjalar keseluruh tubuhku hanya dengan satu sentuhan tangannya.Aku menatap kedalam matanya yang memandangku seakan akan aku akan meninggal saat ini.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi...Kamu hampir membuatku kena serangan jantung..."
"Maaf...kalau aku sudah membuatmu takut.Aku juga nggak tau kalau bakalan pingsan..."
"Aku sayang padamu ,Corona...Aku nggak mau terjadi sesuatu padamu..."
Tangan Bima mengusap pipiku.Aku hampir saja pingsan lagi karena perlakuan Bima.
Wajahku yang tadinya pucat menjadi merah merona.jantungku berdegup kencang.Mungkin kali ini,aku yang akan kena serangan jantung.Kata katanya barusan membuat hatiku merasa melayang ke angkasa.
Bima melepaskan genggaman tangannya ketika menyadari ada yang bergerak masuk dari balik pintu.
Kak Bara dan Adel datang bersamaan.Entah mereka mendengar perkataan Bima tadi atau tidak, bagiku tak masalah.
Adel berlarian dan memelukku.Air matanya mengalir melihatku yang sedang terbaring lemas.
"Liaaaa,,,,kamu membuatku takut..."
"Maafin aku yah karna sudah membuat kalian khawatir.Aku janji,hal ini nggak bakalan terjadi lagi."
"Gimana keadaanmu Lia ?"tanya kak Bara sambil senyum padaku.
"Aku sudah agak baikan kak..Makasih yah udah datang menjengukku.."
"Sama sama.."
Tak lama kemudian,bunda dan kak Ryan masuk bersama seorang dokter wanita yang memeriksaku tadi.
"Gimana keadaanmu Lia...?"
"Aku merasa lebih baik dok.Bisakah aku pulang...??"Kataku memohon.
"Begini sayang,untuk malam ini saya sarankan kamu untuk menginap dirumah sakit.Karena hasil pemeriksaanmu baru keluar besok pagi."Kata dokter Mira dengan sebuah senyuman sambil menatap ke arahku.
Aku memandang wajah bundaku yang sangat berharap agar aku menerima saran dokter Mira.Tapi aku tak suka berlama lama di rumah sakit dan bundaku sangat tau akan hal itu.Bau khas rumah sakit sering kali membuatku ingin muntah.
"Tapi Dok-"
"Sebaiknya kamu disini dulu untuk malam ini..Aku akan menemanimu....!!"Kata Bima sambil menatap mataku.
Aku tidak membantah lagi.Dan entah kenapa,aku mengiyakan kata kata bima.padahal bunda dan kak Ryan sudah membujukku agar aku mau dirawat semalam di rumah sakit.
Aku seakan tak percaya kalau Bima mau menemaniku bermalam dirumah sakit.
"Baiklah, kalau gitu saya permisi ya,,lebih baik kalau kalian keluar sekarang.Karena pasien membutuhkan banyak istirahat..."
Kata dokter Mira kemudian berlalu meninggalkan kami.
"Dimana Fya ?Kenapa dia tak bersama kalian ?"Tanya kak Ryan sambil menatap bergantian kearah Adel,kak Bara ,dan Bima.
"kak,,,,,jangan marahi kak Fya,,,aku mohon...!!"
Kataku sambil memohon karna aku melihat raut wajah kak Ryan yang berubah.
"Kali ini,dia sudah benar benar keterlaluan...!!Adiknya sampe dilarikan dirumah sakit,dan dia sebagai seorang kakak tidak tau...!!Bener bener tu anak...!!"
"Kalau kakak sayang sama aku.Jangan lakukan apapun sama kak Fya..."Ucapku memelas.
Kalau sampai kak Ryan memarahi kak Fya gara gara aku,aku tak tau lagi akan seberapa bencinya kak Fya padaku.Cukuplah aku saja yang menerima kebencian kak Fya.Aku tak mau kalau kak Fya membenci kak Ryan juga.
Akhirnya kak Ryan berusaha meredahkan emosinya..Mengingat apa yang dikatakan dokter tadi agar tidak terlalu banyak orang yang berada di dalam ruangan.
Semuanya pamit untuk pulang.Kak Ryan akan mengantar bunda pulang terus balik lagi kerumah sakit.Sedangkan aku meminta tolong kepada kak Bara untuk mengantar Adel pulang.
Karena sepertinya kak Bara bisa mengerti kalau tak baik membiarkan Adel pulang sendiri selarut ini.Dia mengalah dan membiarkan Bima yang menemaniku.
"Bim,,kakak nitip Lia.Tolong jagain,,nanti kakak kasih tau papa kalau kamu nggak pulang malam ini..!!"
"Ok kak.Hati hati dijalan."
Bima dan Bara saling berpelukan.Tapi Adel datang menghampiriku untuk berpamitan padaku tapi sempat membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa...
"kamu hutang penjelasan padaku...!?Aku bisa nggak tidur semalaman kali ini karena penasaran."
Sebelum keluar kamar,kak Bara melihat ke arahku dengan sebuah senyuman yang hangat,itu membuatku merasa tidak enak karna kejadian tadi di acara sekolah.
Setelah mereka semua pergi,perasaanku mendadak jadi tak karuan,karna untuk pertama kalinya aku akan bermalam bersama dengan seseorang yang bukan keluargaku.Ya walaupun sebentar lagi kak Ryan akan kembali sehabis mengantar bunda pulang.Tapi untuk sekarang hanya ada aku dan Bima di ruangan ini.
Apalagi saat Bima menghampiriku.Jantungku berdegup kencang dan seluruh tubuhku terasa panas dingin.
"Kamu nggak apa apa Corona ?"tanya Bima sambil menatapku seakan tau kalau aku sedang gelisah karna hanya ada aku dan dia didalam ruangan ini.
"a,,,,,,aku mengantuk."
"Kalau begitu,istirahatlah.Aku akan tidur di sofa.Kalau butuh sesuatu,panggil saja aku.."Kata Bima sambil memperbaiki selimutku yang terbuka.
Aku hanya mengangguk dan kemudian memejamkan mataku.Aku merasakan kalau Bima membelai rambutku.Tapi aku terlalu malu untuk membuka mataku.Setelah Bima menjauh dan tiduran di sofa.Aku membuka mataku dan tersenyum sendiri.