My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Nonton bioskop sama Bima.....



Selama dua hari aku tak masuk kuliah.Abrar mengajakku ke luar kota untuk berkunjung kerumah orang tuannya.


Ponselku sengaja ku matikan karena tak mau dihubungi oleh siapa pun,apalagi sama Bima.


Berangkat ke kampus saat ini serasa akan berangkat ke neraka saja.Aku bingung bagaimana harus bersikap ketika bertemu dengan Bima.kejadian yang terjadi antara aku dan Bima bukanlah kejadian yang bisa dilupakan begitu saja dengan enteng.


"Liaaa,,,,,!"panggil Bima yang baru saja tiba di parkiran kampus dengan sepeda motornya.


Aku tercekat,dengan cepat aku berjalan menjauhi suara yang sempat membuat jantungku hampir loncat karena kaget


Bima berhasil mengejar ku dan menghadang jalanku.


"Bima ?"


"Aku harus ngomong sama kamu "


"Harus ?emangnya aku harus mau ?"kataku jutek.


Bima meremas rambutnya pusing.Terus terang saja Bima nggak mau merusak hubungan yang satu satunya adalah jembatan agar dia bisa bersama denganku lagi.Yakni hubungan persahabatan.


"Kamu masih marah sama aku,Lia ?"


"Marah soal apa ?"Aku dengan cepat mengatur irama jantungku.Tapi wajahku serasa panas.


Tangan Bima memegang bahuku,membuatku rasanya mau pingsan.


"Lia,,,,please,,,"


Aku menatap mata Bima kemudian menepis tangannya.


"Awas tangannya,Bim.Nanti dilihat orang nggak enak"desisku.


Bima mundur selangkah.Alisnya yang tebal bertaut karena berpikir keras.


"Soal waktu itu,,,,"Kalimat Bima tertahan sejenak,membuat jantungku serasa berhenti berdetak.


"Aku nggak bermaksud kurang ajar sama kamu,aku benar benar,,,"


"Stop Bim !"potongku cepat.


"Aku nggak mau ngomongin itu !kita lupain aja,oke?Anggap aja nggak ada apa apa.Aku ngerti kenapa kamu lakuin itu padaku.Tapi jangan sampe kejadian ini ke ulang lagi di kemudian hari."


"Tapi,,,,,"


"Udahlah,,,,aku nggak mau membahas ini lebih jauh.Kalo kamu masih mau temenan ama aku,jangan pernah lagi mengungkit masalah ini."


Aku melangkah meninggalkan Bima yang masih menatap kepergian ku .Aku tau,Bima melakukan itu tanpa sadar.Dia mengira aku adalah kekasihnya dulu.


Namun mengetahui kalau aku hanya sebagai bayangan,entah kenapa hal itu yang membuatku sesak dari pada kenyataan kalau Bima mencium ku yang saat ini berstatus pacar orang lain.


Seharian ini kami tak banyak bicara seperti sebelumnya,hingga akhirnya Laras menyinggung soal lukisan yang ku janjikan sama kak Bara.


Kalau saja Laras tak mengingatkanku,mungkin aku akan mengingkari janjiku karena lupa.


Sepulang kampus,sedan hitam berhenti di depanku yang berdiri menunggu jemputan di samping pos satpam. Abrary turun dengan kaca mata hitam masih bertengger di hidung bangir nya.


"Udah lama nunggu ya ?"Abrar mengecup pipi kanan kiri ku.


"Sepuluh menit dan aku bete,Lapar "Aku cemberut manja depan Abrary.


"Kita makan dulu "


"Brar,di kantin kampus ada yang jualan gado gado,enak banget.Kamu pasti suka.Kita makan di kantin aja ya ?"


Abrary mengangguk sambil tersenyum kocak.Tangan kekar Abrary menggantung di pundak ku,sedangkan tangan yang satunya mengacak rambutku mesra.


ponselku berdering ketika kami baru saja duduk.Aku meraih ponsel yang berada di dalam saku tas ku.


"Hallo,,,,Iya Ras,ada apa ?"


"Kamu dimana ?udah pulang ato masih di kampus ?"


"Emangnya kenapa ?"


"Bapak Andi pengen ketemu kamu sekarang,soalnya,dia akan berangkat ke Singapura besok,aku harus bilang apa ?"


"Kamu dimana ?"


"Aku ada di depan gedung perpustakaan.Kamu bisa apa nggak ?"


"Tunggu bentar,"


Aku merasa nggak enak sama Abrar,tapi ini keharusan yang tak bisa aku tunda.


Pasalnya,aku sangat sulit menemui dosen yang satu ini karena jam terbangnya di luar batas.


Jadi ini adalah kesempatan satu satunya untukku bertemu dengannya,mumpung dia punya waktu.


Untung saja Abrary bisa mengerti dengan kondisiku saat ini.Jadi aku segera menemui Laras untuk bertemu dengan bapak Andi Santoso.


Sejam berlalu,aku tersentak kaget begitu kembali ke kantin.Langkah ku terhenti hingga membuat Laras yang sedari tadi berjalan bersamaku juga ikutan berhenti.


"Kenapa berhenti ?"tanya Laras menatapku heran.


"Sedang apa Bima disana ?"


Laras mengalihkan pandangannya melihat dua sosok pria tampan yang sedang duduk di salah satu deretan meja kantin sambil mengobrol.


"Kalo orang ke kantin itu mau ngapain ?ya sudah pasti makan lah,emangnya Bima mau ngapain lagi ?"Ujar Laras bingung.


Laras menarik tanganku untuk berjalan mendekat,aku yang begitu takut kalau sampe Bima menceritakan kejadian yang terjadi antara kami pada Abrary.Entah apa yang bakalan terjadi.


"Liaaaa,,,,,,"teriak Bima yang melihat ke arah kami sambil tersenyum.


"Maaf ya Bim,kamu udah lama nunggu."Ucap Laras yang mengambil tempat duduk samping Bima.


"Duduk sini Li,,,"pinta Bima yang menepuk kursi di samping nya.


Aku ragu ragu untuk duduk karena tegang sendiri.


"Bim,kayaknya kita duluan aja deh,takutnya telat nonton bioskopnya,ini kan udah sore."pinta Laras.


Untuk menenangkan perasaan semua orang,Bima harus pura pura mendekati Laras.Tujuannya,agar Abrary tidak perlu merasa khawatir kalau Bima dekat denganku,dan aku tak perlu merasa canggung ketika bertemu dengan Bima.


Walaupun sebenarnya,Bima nggak mau mempermainkan perasaan Laras yang sudah mulai menyimpan rasa padanya sejak dulu.


Bima mengatakan pada Abrar kalau dia akan merelakan ku bersama siapa saja asalkan aku bahagia,walau tak bersamanya.


"Kami juga rencananya mau nonton.Gimana kalo kita nonton bareng.Pasti lebih seru."Ucap Abrar sumringah,apalagi setelah Bima mengatakan hal itu padanya.


Abrar ingin membuktikan pada Bima kalau dia tidak perlu khawatir melepaskan ku bersamanya,karena Abrar akan membuat aku bahagia jika bersamanya.


Aku dan Bima hanya diam mendengar obrolan seru antara Abrary dan Laras.


🍁🍁🍁🍁🍁


Bioskop udah mulai penuh.Rata rata pengunjung datang berpasangan.


"Aku beli tiket dulu."Abrary masuk ke antrian panjang.


"Aku mau mesan pop corn dulu."Ucap Laras yang meninggalkan aku sama Bima berdua.


Sepeninggal mereka,hening tercipta diantara kami.


"Kamu udah jadian ?"tiba tiba aku bersuara karena penasaran.


Bima menoleh kaget."Sama siapa ?"


Aku memutar bola mata karena kesal.


"Sama Doraemon !ya sama Laras lah,,,!"


Bima melipat tangannya di dada."Nggak tuh !"


Aku melotot kesal."Terus,kamu ngapain ngajak dia nonton berdua ?"


Bima cengengesan."kenapa ?emang kalo nonton berdua harus orang yang pacaran ?"


"Nggak juga sih,aku serius nih nanya nya ?"


"Enggak,,aku sama Laras cuman temenan.Sama kayak aku sama kamu !"Mata Bima mencari bola mataku yang mulai tertunduk.


"Kalo nggak niat macarin dia,awas kamu ngapa ngapain Laras di dalam bioskop"kataku jutek.


"Idiiih ,marah.Cemburu ya ?"


Aku menonjok bahu Bima.Aku nggak mau nantinya Bima mempermainkan perasaan Laras yang aku tau suka pada Bima.


Padahal ada rasa nggak suka dalam hatiku ketika melihat Bima mendekati orang lain,meskipun dia adalah Laras sahabatku.Padahal aku pun sudah punya Abrary yang sangat mencintaiku.


"Pada ngomongin apa sih ?serius banget ?"


Aku dan Bima mematung ketika Abrary tiba tiba muncul.


"Bima nih.Mau nembak Laras katanya."Celoteh ku asal.


Bima langsung batuk batuk.


"Aku mendukung kalo kamunya serius.Laras itu anaknya baik kok."Ucap Abrary memberi dukungan.


Sedang Bima hanya nyengir nggak jelas sambil menatap kearahku yang tak berani melihat kearahnya.


Sepanjang pemutaran film,aku susah berkonsentrasi.Dorongan hatiku untuk mengintip Bima dan Laras di kursi depan setengah mati ku tahan.


Jantungku nyaris copot waktu ada dua kepala berciuman,,,,aku mengelus dada ketika ternyata yang sedang berciuman adalah dua orang yang duduk di sebelah mereka.


Lagian,kenapa juga aku harus merasa lega ?memangnya separah itu pengaruh ciuman kami saat itu ?sampai sampai,aku sendiri tak tau apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini.......