My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
KEJUTAN YANG MENGEJUTKAN PART 2



Bima berjalan perlahan sambil sesekali memanggil namaku.


Langkahnya terhenti begitu ruangan itu tiba tiba menjadi terang benderang.Bima mengedipkan matanya karena silau.


Lantunan lagu selamat ulang tahun menggema ditelinganya.


Kami semua sedang berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar.


Bima menghampiri Barata dan Kenzo,mereka saling berpelukan sambil menepuk bahu dan mengucapkan selamat ulang tahun tahun pada Bima.


Laras pun terlihat sangat bahagia melihat Bima tertawa saat ini.


"Awas kamu ya !"Ucap Bima sambil menatapku dengan senyuman hangat.


"Selamat ulang tahun Bim,semoga apa yang kamu inginkan segera tercapai."Ucapku sambil berjabat tangan dengan Bima.


"Selamat ulang tahun Bima.Apa kamu nggak mau tiup lilinnya."Ucap Laras.


"Matikan dulu lampunya sebentar,biar lebih asik momennya."Ucap Kenzo.


"Biar aku saja yang mematikan lampunya."Ucapku sambil berjalan ke arah saklar lampu.


Betapa terkejutnya aku,begitu lampu dimatikan,seseorang memelukku dari belakang hingga membuatku hampir saja berteriak karena kaget.


"Ini aku.Maaf sudah menunggu terlalu lama."


Ucap Abrary sambil berbisik di telingaku.


Aku hanya bisa tersenyum datar,jujur aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatiku setelah Abrary datang.


Karena suasananya gelap,mereka belum menyadari kedatangan Abrary yang sedang berdiri di belakangku.


Setelah Bima meniup lilin,salah seorang karyawan menyalakan lampu kembali atas perintah Kenzo hingga kehadiran Abrary mendapat sorotan dari semua pasang mata yang ada disana.


Bagaimana tidak,saat ini Abrary sedang memelukku dari belakang.Senyuman Bima yang tadinya merekah perlahan menghilang.


Begitu juga dengan Kenzo dan Barata.Keduanya saling pandang dan mengalihkan tatapan mereka melihat ke arahku dan Bima bergantian.


Memang benar mereka ingin agar Abrary datang,tapi bukan dengan cara yang seperti ini.Hanya Laras yang kelihatan bahagia melihat tingkah Abrary saat ini,karena sampai saat ini Laras tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Lihatlah pasangan kekasih ini.Bukankah mereka sangat romantis?Aku juga mau dong punya pacar kayak kamu,romantis abis.Kamu beruntung sekali Lia."Ucap Laras dengan sesekali melihat ke arah Bima dengan malu malu.


Aku hanya bisa tersenyum getir menanggapi ocehan Laras saat ini.


Tanpa sengaja aku melihat kearah Bima yang sedang menatap tajam kearahku seakan dia ingin menerkam ku saat ini juga


Aku langsung menundukkan pandanganku karena tak kuat ditatap seperti itu.Jantungku berdegup kencang,nafasku serasa sesak.Tatapan Bima padaku saat ini membuat hatiku seperti disayat sebilah pisau.


Kenapa juga aku harus peduli dengan perasaan Bima ? Siapa dia bagiku ?Kalau dia bukan siapa siapa bagiku,kenapa aku merasakan sakit ketika melihatnya memandangku dengan tatapan seperti itu ?Ada kesedihan di sorot matanya yang terasa begitu menyakitkan hatiku saat memandangnya sesaat.


"Kenapa semuanya diam ?Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua."Ucap Abrar yang melepas pelukannya kemudian menggenggam jemariku.


"Aku tau ini adalah hari spesialnya Bima,dan untuk itu aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu Bim.Semoga apa yang kau inginkan segera kau dapatkan di tahun ini."


"Andai saja kau tau apa yang aku inginkan, apakah kau akan rela melepasnya untukku ?"Batin Bima didalam hatinya tanpa memalingkan pandangannya dariku.


"Berhubung kalian semua ada disini.Dan kalian sudah kami anggap sebagai keluarga,kami ingin membagi kebahagiaan kami bersama kalian."


Begitu mendengar kata kami,mataku membelalak menatap Abrary.


"Kami berdua akan segera meresmikan pertunangan kami besok malam."Ucap Abrary sambil menarik tanganku yang sebelumnya digenggam olehnya dan mengecupnya.


Sama halnya dengan mereka yang terkejut,aku juga tak kalah terkejutnya seperti mereka.Aku tak tau kalau Abrary akan mengumumkan pertunangan kami di saat ini,di saat yang menurut ku tidak tepat.


"Dan untuk itu,aku mau menyewa tempat ini untuk acara pertunangan kami besok malam.Gimana Ken,kamu akan memberikanku diskon kan ?"Ucap Abrary dengan senyum merekah.


"Haaaa,,,,i,,iya tentu saja.Kamu kan sahabatku."Ucap Ken terbata dengan senyum paksaan yang tersungging di bibirnya.


Aku masih syok dengan kata kata Abrary barusan,apalagi ketika Bima berjalan menghampiriku dan mengucapkan selamat padaku.Untuk sejenak,duniaku serasa berhenti berputar.


Bergantian dengan Bima,Laras juga mengucapkan selamat padaku.


Beberapa saat berlalu,entah mengapa aku tak bisa bahagia,bahkan untuk tersenyum saja rasanya sangat sulit ku lakukan.


Pesta perayaan ulang tahunnya Bima emang tak begitu mewah,namun tidak sedikit juga teman teman kami yang hadir.


Di kejauhan Bima tak henti hentinya menatap diriku yang mencoba berbaur bersama Kak Bara dan Kenzo.


"Bima,kamu mau kemana ?"tanya Laras begitu Bima berdiri dari duduknya dan akan siap siap untuk pergi dari ruangan itu.


Bima hanya menatap Laras dan berlalu dari sana.Laras tercengang melihat air mata yang menetes di pipi Bima.


Laras berlari mengikuti kemana Bima pergi,hingga dia melihat Bima duduk di sebuah bangku taman dengan kedua sikunya bertumpu pada lutut dan kedua tangannya menopang kepalanya.


"Bim,kamu kenapa ?"tanya Laras perlahan.


"Kamu ngapain kesini ?pergi saja dari sini,aku ingin sendiri."Ucap Bima yang ingin pergi meninggalkan Laras ditempatnya berdiri.


"Pergilah,larilah terus.Sampai kapan kamu akan berlari ?Aku mohon berhentilah menghindari ku.Ijinkan aku menjadi orang yang bisa kau jadikan tempat untuk berbagi deritamu.Bukankah kita teman ?"


Langkah Bima terhenti.Dengan segera dia menghapus air matanya yang mulai menetes lagi di pipinya,lalu berbalik menatap Laras.


"Apa yang kamu mau Laras ?kamu nggak akan bisa membantuku"


"Walau aku tak bisa membantumu,setidaknya aku bisa meringankan beban di hatimu dengan menjadi pendengar yang baik."


Laras mengikuti Bima yang duduk di bangku taman memandangi rembulan malam yang bersinar redup seredup hatinya saat ini.


Bima mulai menceritakan semuanya pada Laras,bagaimana kami bertemu hingga kami dipertemukan kembali saat ini.


Tanpa sadar air mata Laras menetes dengan sendirinya,entah itu karena terharu dengan cerita yang Bima uraikan atau merasa kecewa karena dia mengetahui Bima hanya mencintaiku dari dulu sekarang dan mungkin selamanya.


"Makasih laras,kamu sudah mau mendengarkan ceritaku "


Tak merasakan adanya respon dari Laras,Bima berbalik menatapnya karena posisi Bima saat ini dengan berdiri memandangi langit malam.


"Kamu kenapa Ras ?"tanya Bima.


"Nggak apa apa."Laras menggelengkan kepalanya."Aku akan membantumu mendapatkan kembali cintamu."Batin Laras dalam hatinya.


"Ayo kita masuk kedalam,sebelum semuanya mencari kita."Ajak Laras yang mencoba berdiri namun seketika kakinya keseleo dan hampir saja jatuh kalau saja Bima tak cepat menahannya.


Pemandangan yang tak seharusnya mempengaruhiku malah membuat hatiku sakit seperti ditusuk dengan ribuan jarum.


Bima menatap Laras dalam pelukannya.


Begitu menyadari kehadiranku,Bima langsung melepaskan pelukannya dan membantu Laras berdiri tegap.


"Maaf."Aku langsung berpaling dan ingin pergi dari sana namu tanganku di cekal oleh Bima hingga membuatku terhenti.


"Apa yang kamu lihat bukan yang sebenarnya.Aku sama Laras -"


Seketika aku berbalik dengan mata yang berkaca kaca,berusaha untuk menahan air mata yang akan mengalir tanpa ku suruh.


"Aku tak ingin tau apa yang kalian berdua lakukan.Aku kesini hanya ingin mencari Laras.Tapi maafkan aku jika sudah mengganggu."Ucapku berusaha menatap langsung ke mata Bima .


Laras hanya terdiam membisu melihat kami berdua yang saling tatap satu sama lain.


"Lepaskan aku !"Ucapku lagi kepada Bima yang tak juga melepaskan tanganku.


Bima mengikuti perintahku dengan melepaskan tanganku perlahan.Begitu tanganku terlepas,aku langsung berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua yang hanya diam melihat kepergian ku.


"Aku tau kalian berdua saling mencintai,entah kamu hilang ingatan atau enggak,aku tau kalau kamu juga sangat mencintai Bima,Lia"Batin Laras dalam hatinya.


Aku masuk kembali ke dalam ruangan.


"Abrary,aku ingin pulang sekarang."Ucapku begitu berada didepan Abrar,Kenzo dan Barata.


Mereka bertiga heran tingkahku saat ini.


"Tapi pestanya kan belum usai.Kenapa kamu ingin cepat pulang ?"tanya Kenzo.


"Biarkan saja kalau Lia ingin pulang.Mungkin dia lelah dengan aktifitasnya seharian ini."Ucap Bima yang tiba tiba saja muncul di belakangku bersama dengan Laras disampingnya.