
Tiga hari setelah acara pertunangan,aku tak pernah masuk kuliah.Berkali kali Bima mencoba menghubungiku,tapi selalu tak aktif.Sayangnya cuma nomor itu yang Bima tau.
Sebenarnya, Bima bisa saja datang ke rumahku,tapi rasanya kurang etis nyamperin tunangan orang lain kerumahnya.
Lagi pula,Bima takut nanti dengan kedatangannya malah bikin keributan yang nggak jelas.
"Lia kemana sih,Ras ?sakit ya ?" Bima yang penasaran bertanya pada Laras yang sedang duduk manis sambil mengikir kukunya.
"Nggak tahu.Ngapain nanya nanya ? Kangen ?" ledek Laras sambil nyengir kuda.
"Ya nanya aja.Tiga hari nggak masuk kan harus di pertanyakan."
Laras mencibir."Alaaaah,,,,bilang aja kalo kangen.Aku ngerti kok !"
Laras kembali asik dengan kukunya.Bukannya Laras cuek dengan ketidak hadiran ku,tapi dia juga beberapa kali coba menghubungiku,tapi hasilnya nihil.Dia pun berpikir mungkin aku tak ingin di ganggu
"Denger denger dia pernah datang ke kampus dua hari yang lalu.Tapi cuma ke ruang rektor, terus pulang."Laras memberi tahu Bima.
Bima semakin penasaran.
Kantin lumayan penuh.Padahal jam makan siang sudah lewat. Beberapa meja diisi anak anak dari fakultas seni tari dan nyanyi yang sedang sibuk rapat untuk mengisi acara pelepasan para mahasiswa utusan yang akan mewakili kampus mereka tercinta.
Dan salah satunya adalah aku dan Bima yang menjadi perwakilan dari fakultas seni lukis.
Ditengah kerumunan begini,tetap gampang bagiku untuk mencari Laras dan Bima.Karena kami bertiga selalu mengambil tempat duduk di sudut kantin yang kebetulan dipasang kipas angin di sudut dindingnya.
Jadi akan tetap terasa adem walaupun ruangan kantin dipenuhi sesak seperti ini.
Dari kejauhan Laras dan Bima tampak sibuk mengobrol.Sesekali mereka tertawa bersama.
Sebenarnya aku merasa nggak enak mengganggu kemesraan mereka berdua.Tapi apa boleh buat,meski harus menelan kepahitan yang aku ciptakan sendiri,aku harus menghampiri mereka berdua.
Selain di kampus ini hanya mereka berdua teman yang aku punya,juga ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada Laras.Jadi mau tak mau aku harus merusak moment kebersamaan mereka saat ini.
Keseruan obrolan antara Laras dan Bima tak membuat mereka menyadari kedatanganku.
"Hei,,,"Aku menyentuh halus pundak Bima yang terlihat sangat keren hari ini.
"Liaaaa,,,,,,kamu kemana aja ?aku kira kamu bakalan berhenti kuliah."Ucap Laras sambil cipika cipiki sama aku.
"Ya enggaklah.Tapi maaf,,,,aku nggak ganggu kan ?"
Aku menatap wajah Bima dan Laras secara bergantian.Namun Bima masih diam memandangiku.
"Ganggu apaan ?sini deh,duduk."Ajak Laras yang menarik kursi dan menepuknya, menyuruhku duduk.
"Katanya kamu keruangan bapak rektor dua hari yang lalu ?"Suara Bima terdengar serak.
Aku hanya tersenyum sekilas namun terlihat kaku.
"Iya.Kamu udah tau soal rolling peserta ?" tanyaku dengan tampang serius.
"Rolling peserta ? maksudnya ?"tanya Laras bingung.Begitupun dengan Bima.
"Jadi gini,dua hari yang lalu aku menemui bapak rektor untuk membahas masalah terpilihnya aku sebagai perwakilan kampus."
Wajah Bima dan Laras kelihatan tegang.Aku sampai nggak tau harus ngomong atau nggak sama mereka.Atau aku nunggu aja sampai Laras dipanggil sendiri sama bapak rektor.
"Terus ?"Desak Laras.
"Aku mengajukan surat pengunduran diri sebagai perwakilan kampus.Dan mengajukan kamu sebagai kandidat penggantinya.Dan untuk itu aku mau minta maaf sama kamu Laras."
"Maaf ?untuk apa ?aku malah senang kalo bisa bareng Bima ke sana."Ucap Laras dengan luapan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Tadinya aku berpikir kamu bakalan tersinggung dengan tindakanku yang tanpa bertanya dulu sama kamu malah mengusulkan kamu sebagai pengganti ku."
"Kenapa harus tersinggung ?Terus,apa kata bapak rektor ?apa dia setuju dengan usulan mu itu ?"
Aku hanya mengangguk dengan seulas senyum.
Laras langsung memelukku karena senang dengan berita yang baru saja di dengarnya.Sedang Bima hanya diam seribu bahasa.
Bima langsung beranjak dari duduknya meninggalkan aku dan Laras berdua.
Aku tau saat ini Bima sangat kecewa dengan keputusanku,tapi apa boleh buat,hanya ini satu satunya cara agar aku bisa menjauhinya dan memantapkan hati dengan pilihanku sendiri.
"Bima."panggil Laras.
Tapi tak membuat Bima berhenti bahkan untuk menengok sekalipun.
"Mau kemana sih dia.Tadi aja dia pusing nyariin kamu.Eeee,,,,setelah kamu nya ada disini malah di tinggal.Dasar orang aneh."Laras memonyongkan bibirnya karena sewot.
"Bima nyariin aku ?kenapa ?"gumam ku didalam hati.
Tak lama setelah Bima pergi,aku sama Laras menyusulnya untuk masuk kelas.Bima tak ada disana,dia tak hadir untuk mata kuliah yang paling di senangi nya,yaitu menggambar.
Ternyata rasa senang yang laras tunjukan sebenarnya bohong belaka.Dia tau apa yang dirasakan Bima saat ini.Dia juga dilema dengan sikapnya saat itu.
Disatu pihak Laras sangat senang bisa bersama Bima.Namun disisi lain,dia tau kalau kebahagiaan Bima terletak pada keikutsertaan ku sebagai perwakilan kampus.
🌾🌾🌾🌾🌾
Wangi parfum semerbak yang diberikan oleh calon ibu mertua sebagai oleh oleh dari Singapura baru saja ku semprotkan ke pergelangan tanganku.
"Aduuuuh,wanginya.Mau kemana,sayang ?"Bundanya Abrary mencium pipiku lembut hingga dadaku serasa berdesir pelan.Semua keluarga Abrary sangat sayang padaku.
Kenapa juga aku harus punya perasaan yang aneh buat Bima ?Laki laki yang baru kukenal belum sampe setengah tahun itu.Hanya gara gara dia selalu perhatian padaku.
"Mau diajak jalan jalan,Bunda...Sama Abrar."
"Waduuuh,bunda nggak diajak nih ?"godanya.
"Nggak ah.Nanti bunda jadi obat nyamuk lagi !"
Aku cekikikan."Udah siap ,sayang.Kami pergi dulu ya,Bunda."Abrary mencium tangan Bundanya,begitupun denganku.
Sepanjang perjalanan,aku sama Abrar ngobrol panjang lebar.Dari masalah kantor hingga masalah kuliah dan apapun yang bisa dijadikan pokok bahasan agar aku bisa melupakan sejenak tentang kegelisahan yang aku rasakan saat ini.
"Li,,,aku mau ajak kamu ke suatu tempat.Tapi..."Abrar menjeda ucapannya hingga membuat ku mengerutkan kedua alisku menatapnya.
"Tapi,,,,,,"
"Kamu pasti nggak bakalan suka tempatnya."Lanjutnya lagi.
"Emang kemana ?"
Tiba tiba mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan sebuah club' malam.Abrary mengisyaratkan padaku dengan mengalihkan pandangannya menatap papan spanduk yang berada tepat di belakang ku yang saat ini tengah duduk menghadap padanya.
Aku memalingkan kepalaku mengikuti arah pandang Abrary kemudian berbalik lagi menatapnya.
"Tapi kamu jangan salah sangka dulu.Aku ke sini karena di undang sama rekan Bisnisku yang kebetulan adalah pemilik club' ini.Tapi jika kamu tak mau,aku juga nggak akan masuk ke dalam."
Aku langsung tertawa ketika melihat wajah Abrary yang kelihatan tegang karena tak mau kalau sampai aku punya pikiran yang ang macam macam tentangnya.Padahal,untuk masuk ke tempat ini,diusia kami yang sekarang,bagiku tak masalah.
"Kenapa kamu tertawa ?"
"Coba deh,kamu lihat wajah kamu di cermin.Mana mungkin aku nggak ketawa melihat raut wajahmu yang seperti itu."Kataku sambil tertawa sejadi jadinya.
Abrary ikutan tersenyum melihatku tertawa.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan beriringan bersama Abrary memasuki club' itu.
Di depan club' berdiri dua orang pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam.Menurutku sih itu adalah bodyguard yang menjaga tempat itu kalau kalau terjadi keributan dalam club'.
Meskipun bertampang sangar,namun keduanya tetap sopan pada kami yang statusnya adalah pengunjung club'.
Begitu masuk kedalam,ruangan itu tampak gelap dengan penerangan yang minim cahaya.
Bola kristal yang berada ditengah ruangan berputar putar dengan indah memancarkan warna warni lampu seperti pelangi.
Ruangan belum terlalu penuh.Cuma segelintir orang yang turun ke lantai dansa untuk bergoyang.Yang lainnya sibuk cekakak cekikik mengitari beberapa meja bersama kawanannya.
Aku mengamati seantero ruang club',dari semua para pengunjung yang duduk beramai ramai,aku menangkap sosok seseorang yang sangat familiar di mataku.Tapi karena ruangannya gelap dan tempatnya agak jauh,ditambah lagi begitu sibuknya orang orang lalu lalang kesana kemari sempat membuat mataku pusing,jadi aku tak begitu jelas melihat wajah orang itu.
Awalnya aku mengikuti Abrary menemui rekannya,tapi karena merasa bosan berada ditengah percakapan yang sama sekali tidak membuatku tertarik,aku pamit sebentar pada Abrary untuk ke toilet.
Begitu kembali dari toilet,aku tanpa sengaja melihat Bima melenggang ke arah bar.
Aku berjalan ke arahnya tanpa memperhatikan sekitar.
Semakin malam,suasana club' semakin ramai.Lantai dansa makin heboh.Malah ada yang baru datang langsung mabuk.Lagu lagu yang asyik buat bergoyang bergantian dimainkan DJ.
Aku tersentak ketika seseorang mencekal tanganku.Begitu menoleh,aku merasa emosi.
Seorang laki laki berperawakan tinggi besar tersenyum padaku,aku berusaha melepaskan tanganku,namun cengkeramannya semakin kuat hingga lenganku terasa sedikit nyeri.
"Hai cantik,,,buru buru amat.Kenalan dulu..."
Bau alkohol menyeruap masuk ke dalam Indra penciumanku hingga aku langsung menutup hidungku menggunakan punggung tanganku.
"Lepaskan aku."
"Apa Lo pikir,gue akan lepasin lo semudah itu."
Aku semakin berusaha melapaskan diri dari cengkraman nya.Namun sayang tenagaku kalah dengannya.
Aku tak punya pilihan lain selain berteriak meminta tolong karena laki laki itu mulai berusaha untuk berbuat kurang ajar padaku.
Mungkin karena suara musik yang keras dan orang orang hanya sibuk dengan dunianya masing masing.Tak ada satu pun yang menggubris teriakanku.
Air mataku mulai menetes karena ketakutan ketika ada dua pria lagi yang datang,mungkin itu adalah teman lelaki itu.
Aku di seret ke sudut ruangan yang tidak terlalu banyak orang.Tubuhku semakin bergetar karena menahan rasa takut yang menjadi jadi.
"Aku mohon lepaskan aku."Ratapku yang hanya dibalas dengan gelak tawa yang semakin kencang oleh ketiganya.
"Bimaaaaa "
Dengan entengnya teriakan memanggil nama Bima meluncur dari bibirku ketika salah seorang dari mereka mulai berusaha untuk menciumiku.
Aku memalingkan wajahku dengan mata terpejam untuk menghindari perbuatan mesum mereka.
Bahkan aku sempat histeris ketika tubuhku serasa didekap oleh seseorang.Aku meronta dan menangis terisak berusah melepaskan diri.Namun pelukan itu semakin erat.
"Tenanglah Corona,Ini aku.Maafkan aku karena datang terlambat."
Mendengar suara yang tak asing ditelingaku,aku berhenti meronta dan membuka mataku.
Kudapati Bima sedang memelukku.Aku membalas pelukannya dan menenggelamkan wajahku di dadanya sambil menangis tersedu-sedu.
Bima membuka jaketnya dan memakaikannya padaku karena aku masih gemetar ketakutan dengan keringat yang membasahi tubuhku.
Perkelahian pun tak dapat di hindarkan.Walaupun terdapat luka di sudut bibir Bima karena pukulan,namun ketiga orang itu juga babak belur dihajarnya,dan mungkin kalau saja para bodyguard tidak cepat mengamankan mereka,mungkin saat ini aku akan berada di kantor polisi karena menjadi saksi pembunuhan yang Bima lakukan.
Aku duduk di sofa dengan menggenggam sebotol air mineral yang diberikan Bima padaku.
Dia tak berbicara apapun.Bahkan untuk sekedar bertanya kenapa aku bisa sampai ada di tempat seperti ini.Dia hanya diam menatapku yang tertunduk di depannya.
"Kalau kau sudah merasa tenang,aku akan mengantar mu pulang."
Tanpa menunggu jawaban dariku,dia langsung berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar tagihan.