My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Kenangan masa lalu...



"Aku nggak apa apa Bim,aku hanya sedang lelah saja."


"Beneran ??"Tanya Bima seakan tak percaya.


"Iyaaaaa,,,,,bahkan aku merasa lebih baik semenjak kamu disini."Kataku setengah meyakinkan walaupun sebenarnya hatiku sedang linglung.


"kenapa aku merasa kalau saat ini kamu sedang berbohong padaku ?Baiklah,,jika kamu tak mau memberitahuku,aku akan mencari tau sendiri kenapa sikapmu jadi aneh begini."Batin Bima dalam hati.


***


Sudah lima hari kami berada diJepang.Tinggal dua hari lagi kami atau lebih khususnya aku Kenzo dan Bima harus segera kembali ke Indonesia karena masa izin kami hanya seminggu.


Untung saja keadaan ayahku dan ayahnya Kenzo sudah membaik.Tapi dokter belum mengizinkan mereka pulang karena masih harus melakukan beberapa tes lagi untuk memastikan kalau mereka benar benar sehat.


Bima meminta izin sama bunda dan ayah untuk mengajakku jalan jalan,beberapa hari ini suasana terlalu tegang karena kami semua mengkhawatirkan kesehatan ayah.


Mereka sih mengizinkan,tapi aku yang merasa ganjil jika harus pergi berduaan saja dengan Bima.Biar bagaimana pun,aku masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Bagaimana kalau Bima beneran saudaraku.


Bukankah aku tak boleh mencintainya ?.


Walaupun sebenarnya aku berharap kalau itu semua tak benar,karena kenyataan ini masih mengambang buatku.Apakah ini benar atau hanya terkaanku saja.


Makanya disaat Bima mengajakku jalan,aku juga mengajak Kenzo ikutan walaupun Kenzo sebenarnya menolak karena mendapat tatapan tidak suka dari Bima,karena dianggap sebagai pengganggu.


Habis mau gimana lagi,dari pada aku akan canggung nanti.Mending aku abaikan rasa kesal Bima.


Kami bertiga pergi naik mobil Sport milik Kenzo.Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah coffeshop yang pernah aku dan Kenzo kunjungi,karena ini adalah milik keluarga Ken.


"Wow...semuanya masih sama.Nggak ada yang berubah."Kataku dengan wajah takjub begitu melangkahkan kaki memasuki ruangan .


Aku berlari ke sudut ruangan yang pernah menjadi markas persembunyian aku dan Ken waktu kami masih kecil.Kami selalu sembunyi disana sambil menghabiskan beberapa panggal kue coklat yang dibuatkan pak Sugi.


"Masih ada."Kataku dengan tersenyum lebar sambil menatap ke arah Kenzo yang juga tertawa kecil memamerkan sederetan gigi putihnya yang berjejer rapi yang menambah indah senyumannya.


Aku sungguh tak percaya,semuanya masih tertata dengan rapi.Bahkan cetakan nama yang kami pahat di kaki meja masih tetap awet meski sudah bertahun tahun."


Ken tampak senang melihatku tertawa dan masih mengingat kenangan masa kecil kami.Sedangkan Bima hanya diam dengan wajah yang terlihat kusut sejak awal aku mengajak Ken untuk ikutan bersama kami.


Beberapa saat kemudian,pak Sugi keluar dari arah dapur dan menyapaku.


"Selamat datang nona"Ucap pak Sugi sambil menatapku dari atas kebawah dengan wajah sumringah.


"Pak Sugi,bapak masih ingat sama saya ?"


"Tentu saja nona.Den Kenzo sering membicarakan anda setiap dia datang berkunjung ke sini."


Mendengar perkataan pak Sugi,aku melihat ke arah Kenzo yang menunduk dengan wajah yang bersemu merah kayak udang rebus.


"Apaan sih pak.Bapak bisa aja."Ucap Ken malu malu.


Lama lama Bima merasa jengah berada diantara kami yang bernostalgia dengan masa lalu.Apalagi tak ada satu pun dari kami yang menggubris keberadaannya.


Aku mengajak Bima mencari meja yang kosong,sedang pak Sugi dan Ken masuk ke dapur untuk membuat minuman serta cemilan yang biasa kami makan waktu kecil.


Itung itung mengenang masa lalu.


"Bim,mau minum apa ?"Teriak Kenzo dari balik meja dapur.


"Apa saja."Jawab Bima setengah berteriak dari tempat duduknya.


Kenzo tak perlu menanyakan apapun padaku,karena dia tau betul apa makanan dan minuman kesukaanku.


"Sampai segitunya menatap,,,apa dia setampan itu sampai kau tak berhenti menatapnya."Kata Bima yang sudah tak bisa menahan lagi kekesalan dihatinya karena rasa cemburu yang sudah mulai meledak.


Senyumku menghilang,aku terperangah dan menatap Bima yang sedang menatap tajam kearahku seakan ingin melahapku.


Ditatap seperti itu membuat jantungku berdetak maraton,kakiku terasa lemas,tatapan tajam Bima terasa menembus jantungku.


Aku berharap Ken segera datang menghampiri untuk memecah ketegangan yang kurasakan.


"Ini pesanannya,satu es krim coklat buat Bima dan dua es krim stobery buat coro dan aku."


"Ternyata,kalian berdua punya minuman favorit bersama."Ucap Bima dengan senyuman lebar yang dipaksakan.


"Benar Bim,aku sama Coro suka banget sama stobery."Kata Ken dengan cengengesan tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Bima yang menjadi sangar.


Tanpa sepatah kata lagi,Bima berdiri dan meninggalkan aku dan Ken yang saling menatap heran dengan kelakuan Bima.


"Bim,kamu mau kemana ?"Tanya Ken sambil bergantian menatapku dan Bima.


"Bima kenapa ? kenapa dia-"


"Ken,maafin aku yah.Biar aku menyusul Bima."


Kataku sambil berlari mengejar Bima yang berada sedikit jauh dari penglihatan ku.


Aku mengikuti Bima dari belakang sampai dia berhenti di sebuah taman dimana aku pernah bertemu dengannya untuk pertama kali.


Dia duduk di bangku yang sama,memandang sekumpulan orang yang sedang duduk dibangku taman.


Aku tersenyum mengingat kejadian waktu pertama kali aku bertemu dengan Bima.


"Apa kamu ingat,,ditempat ini kamu melukis diriku tanpa seizin ku."Kataku yang duduk di samping Bima.


"Bagiku,itu adalah sebuah kenangan yang manis.Dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan pria bernama Bima Indrawan.Seorang pria pertama yang mengusik hidupku karena menjadi sosok yang sangat misterius untukku.Seorang pria pertama yang sudah mencuri hatiku,hingga aku tak bisa mengendalikan hatiku ketika sedang bersamanya."Kataku dengan menerawang kembali ke masa dimana aku sedang memegang sebuah kertas putih dengan gambar wajahku diatasnya.


"Kamu masih ingat ?"Ucap Bima dengan wajah berbinar sambil memandangku yang sedang memejamkan mata.


"Tentu saja ingat.Itu adalah sebuah kenangan terindah bagiku.Aku tau,saat ini kamu sedang kesal karena aku dan Ken terlalu dekat karena mengingat kenangan kami waktu dulu.Kesenangan yang kami rasakan tadi sama seperti kesenangan yang kita berdua rasakan saat ini.Mengingat kembali masa lalu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seseorang yang mengalaminya.Namun itu semua hanyalah masa lalu,dan tak akan mengubah apapun yang terjadi dimasa kini.Sama seperti kita saat ini,kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan.Entah kita tetap bersama atau tidak,tapi semua yang kita alami saat ini adalah sebuah kenangan dimasa yang akan datang yang nantinya akan kita kenang dan ceritakan bila waktu telah berlalu."


"Maafkan aku,tak seharusnya aku tak bersikap seperti tadi melihatmu dengan Ken.Aku hanya tak ingin kehilangan kamu.Aku akan mati jika-"


"Huuuussss"


Bima tak bisa meneruskan kata katanya karena aku membekap mulutnya dengan tangan.


Pandangan mata kami bertaut.Aku tak bisa membohongi diriku,sekuat apapun aku menolak Bima demi sebuah kebenaran yang belum jelas.Aku semakin ingin bersamanya dan menutup telinga soal apa yang aku dengan beberapa hari yang lalu.


Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kami sampai semuanya terbongkar nanti.Aku tak mau memikirkan apa yang akan terjadi nanti,yang penting sekarang yang ku mau adalah tetap bersama Bima walaupun nantinya aku akan merasa lebih hancur apabila terbukti Bima adalah saudaraku.


Biarlah itu akan menjadi kejutan dihari kemudian bagaimana kami akan bersikap.


"Kamu tau Bim,aku tak akan pernah membiarkan dirimu terluka hanya gara gara aku.Satu hal yang harus kamu ingat,apapun yang terjadi nanti.Aku akan tetap mencintaimu meskipun kamu tak lagi cinta padaku."Ucapku dengan mata berkaca kaca karena merasa kalau aku akan terpisah darinya.


Bima menarikku ke arahnya dan memelukku.


Disaksikan Kenzo yang berdiri di balik pohon sambil mengepalkan tangannya.Karena tak lama setelah aku keluar mengejar Bima,Ken menyusul kami ke taman dan disinilah dia berada.


Tak bisa mendekat walaupun dia ingin,nampaknya dia sudah kalah sebelum berperang karena mendengar perkataanku barusan yang akan tetap mencintai Bima selamanya walaupun Bima berhenti untuk mencintaiku.


"Apakah aku tak akan pernah bisa punya kesempatan untuk mengenalkan orang yang ku cintai padamu ? "Batin Ken dalam hatinya sambil menatap kami di kejauhan.