My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Curhatan sahabat...



Pagi ini,aku sudah bisa pulang karena kondisi kesehatanku sudah membaik.Aku pulang bersama dengan bunda dan kak Ryan.Karna mungkin ayahku sedang sibuk di kantor dan kak fya sedang berada disekolah.


Saat tiba di parkiran rumah sakit.Aku tak sengaja melihat sosok wanita yang kulihat dulu di warteg.Wanita itu memakai kaca mata hitam dan bersandar pada sebuah mobil Ayla warna merah.


Aku berhenti sejenak dan melihat ke arah wanita itu yang sedari tadi melihat kearah kami saat keluar dari rumah sakit.


"Ada apa sayang??Kenapa kamu berhenti??"


Tanya bunda sambil menatapku.


"Nggak apa apa Bun."Kataku sambil mengalihkan pandangan menatap kearah bunda.


Sesaat kemudian kak Ryan memarkirkan mobilnya didepanku dan bunda.Kami pulang bersama.Tapi disaat akuelirik kearah wanita itu.Dia sudah nggak ada di sana.Sepanjang perjalanan,pikiranku melayang.Kenapa wanita itu melihat kearahku.Apa hubunganku dengannya.


Sesampainya dirumah.Bunda mengajakku ke kamarku.Kamar yang kosong karena ketidak hadiran ku selama beberapa hari.


Bunda meninggalkanku sendiri dikamarku agar aku bisa beristirahat.


Saat merebahkan diriku di kasurku,aku melihat gambar yang Bima lukis untukku.Entah mengapa,air mataku menetes dengan sendirinya.Aku membayangkan jika aku pindah ke jepang,aku tak akan pernah melihatnya lagi.


Aku berpikir untuk berbicara pada Ayahku.Agar aku tidak dipindahkan ke Jepang.Dan kalaupun memang ayahku bersikeras,setidaknya aku harus tau alasannya kenapa aku harus tiba tiba ke Jepang.


Untuk semua yang sudah kulalui,aku jadi rindu dengan sahabatku adelia.Hanya padanya tempatku menceritakan semua yang kurasakan.Aku rindu padanya .Aku berharap kalau saat ini Adel ada disini menemaniku.Aku terus berpikir sampai mataku terpejam karena merasa lelah dengan semuanya.


Saat menjelang sore,aku bangun dari ranjangku dan berjalan ke teras untuk menghirup udara segar.Aku duduk di kursi panjang yang ada diteras kamarku.


Langit sore yang berwarna kekuningan ditambah dengan angin yang berhembus lembut membuatku enggan untuk melewatkannya.


Aku menatap pekat langit.Melihat burung burung yang beterbangan menuju sarang yang seakan menambah keindahan sore ini.


Tok...tok...tok...Bunyi ketokan pintu kamar terdengar nyaring di telingaku.Namun tak kuhiraukan.Sampai aku mendengar suara sahabatku dari balik pintu.


"Lia ini aku,Adel"


"masuklah Del,pintunya nggak dikunci.aku ada di balkon."Kataku tanpa beranjak dari tempat dudukku.


Adel membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamarku menuju ke balkon tempatku berada.


"Duduk Del."Kataku sambil menepuk bantalan sofa disampingku.


Adel meletakkan tas selempang miliknya di atas meja kemudian duduk sambil terus melihat kearahku yang hanya memasang wajah datar kepadanya.


"Kamu kenapa...??Kok kelihatan nggak semangat.Apa kamu masih merasakan sakit.??"


Tanpa sadar air mataku menetes.Adel langsung memelukku dan ikutan menangis bersamaku.


"Del,aku nggak tau apa salahku,mereka mengusirku,mereka tak menginginkan aku tinggal disini..."


"Tenang dulu Lia...Kamu harus tenang dan menceritakan padaku semuanya...!!"


"Aku akan dikirim ke Jepang.."


"Apa..??Terus bagaimana dengan sekolahmu..?Apa Bima sudah tau tentang ini??"


"Aku akan pindah sekolah disana.Jadi hari Senin besok,aku nggak akan datang lagi kesekolah.Untunglah kamu datang,jadi aku bisa berpamitan padamu.Mengenai Bima,aku sendiri yang akan memberi tahunya nanti."


"Tapi kenapa...?Apa kalian akan pindah sekeluarga...??"


"Tidak,hanya aku saja yang akan tinggal di sana,bersama dengan nenekku.Aku juga tak tau apa alasannya,karena tak ada satupun dari mereka yang memberi tau alasannya."


"Kenapa kau tak coba tanyakan.Setidaknya kamu tidak harus memendam kesedihan dengan beranggapan kalau kamu di buang dari keluargamu."


"Aku tak mau membuat ayahku sedih dengan mempertanyakan keputusannya.Karena aku sangat menyayanginya.Dan aku tau kalau apa yang dilakukannya sekarang itu mungkin yang terbaik untukku."


"Tapi-"


"Sudahlah,Del.Jangan dibahas lagi.Karna sekarang aku sudah merasa lebih baik karena sudah berbagi bersamamu.Makasih ya udah mau mendengarkan ku."


"Sama sama.Aku kan sahabatmu,tapi kamu harus janji satu hal padaku.Jika kamu pindah ke Jepang dan dapat teman yang baru,jangan lupakan aku yah..."


"Pasti,aku nggak bakalan pernah lupain kamu.Kita kan masih bisa saling telpon.Jaman sudah modern Adel sayang."


Aku dan Adel saling pelukan lagi dan menangis bersama sama.Ternyata didalam ruangan kamarku tidak hanya ada kami.Ayahku juga sedang berdiri disana.Dibalik pintu teras kamarku.Tadinya dia datang ke kamarku untuk melihat keadaanku,mengingat dirinya tidak datang menjemputku waktu keluar dari rumah sakit tadi pagi.Tapi,dia terhenti saat melihat aku dan Adel sedang berbicara dan diam diam mendengarkan percakapan kami sambil mengusap air matanya,dia berjalan meninggalkan kamarku tanpa berusaha membuat suara agar aku tak tau kalau dia ada dikamarku.


"Del,gimana keadaan sekolah selama aku nggak ada..??"Tanyaku sambil menghapus air mata yang masih menempel di pipiku.


"Sama seperti biasa,hanya dua ekor cecunguk itu yang sering membuatku kesal.."


Kata Adel yang sedikit geram mengingat aksi sikembar.


"Siapa..??"tanyaku penasaran.


"Jangan kebanyakan benci,entar jadi cinta baru tau rasa kamu." Kataku meledek Adel.


"idiiiiihhh...amit amit deh."kata Adel sambil mengetok kepalanya sendiri


Kami berdua tertawa bersama.Kehadiran adel saat ini membawa kebahagiaan tersendiri buatku.Aku menghabiskan soreku bersamanya,bercanda bersamanya sampai kami tak menyadari kalau hari sudah mulai gelap.


"Li...aku pulang yah...Mudah mudahan kita masih bisa ketemu lagi."Kata Adel sambil memelukku lagi.


"Aku juga berharap,kita masih bisa berteman walaupun dengan jarak yang memisahkan."


Kataku membalas pelukan Adel.


Aku mengantar Adel sampai ke depan rumah.Setelah pamitan sama bunda dan ayah yang lagi duduk di ruang keluarga,Adel berlalu dari hadapanku.


Sehabis mengantar Adel pergi,aku kembali masuk kedalam rumah sambil tersenyum.Karna aku nggak mau kalau sampai orang tuaku melihat kesedihanku.


Saat melewati ruang keluarga.Ayah memanggilku untuk duduk bersama mereka karna ada yang ingin mereka sampaikan,atau lebih khususnya ayahku yang ingin berbicara denganku.


Aku menghampiri mereka dan duduk di samping ayahku.Tapi bunda segera berlalu meninggalkanku bersama ayah seakan memberi ruang tersendiri untuk kami berbicara berdua.Katanya dia akan mengatur makan malam keluarga.


"Ada apa yah..??"


"Bagaimana keadaan kamu..??"


"Aku sudah lebih baik."Kataku yang masih berusaha tersenyum dengan kesedihan yang kurasakan.


"Baguslah kalau begitu,dan mengenai keberangkatanmu ke Jepang.Apa kamu nggak akan bertanya alasannya kenapa...??"


"Enggak yah.Karna aku tau,ayah melakukannya karna ayah sayang padaku."Kataku sambil menundukkan kepalaku menahan tangisku.


Ayah memegang daguku dan mengangkat kepalaku supaya bersitatap dengannya.


"Apa kamu bahagia dengan keputusan Ayah..??Tanya ayah padaku.


"Corona akan bahagia selama bisa membahagiakan ayah dan bunda."Kataku sambil mengusap dua bulir air mata yang jatuh di pelupuk mata.


"Ayah tau kalau coro sangat sayang sama ayah,sama bunda.Tapi coro perlu tau satu hal.Kebahagiaan coro adalah yang terpenting buat ayah.Jadi,kalau coro nggak mau pindah sekolah di Jepang.Ayah nggak bakalan maksa."


"Beneran yah...Coro masih boleh sekolah disini...??"Tanyaku setengah bersemangat dengan sebuah senyuman mengembang di bibirku.


"Boleh..Tapi kasih ayah satu alasan, kenapa coro nggak mau pindah ke Jepang..?Bukankah coro suka disana.Padahal dulu,coro bilang kalau coro lebih suka sekolah disana."Tanya ayah sambil tersenyum padaku seakan merasa senang melihatku bisa tersenyum lebar setelah berhari hari melihatku memalsukan senyumanku.


"Kok minta alasannya hanya satu....!!Padahal alasan coro banyak,yah.Yang pertama,coro nggak mau jauh dari ayah sama bunda.Karena bagi coro,kalian itu segalannya.


Terus yang kedua,coro nggak mau ninggalin temen temen coro yang ada disini."


"Atau lebih tepatnya lagi.....Nggak mau ninggalin Bima, kaaan..?"kata ayah setengah menggodaku.


"iiiihhh apaan sih ayah...Bima itu cuma temen yah."kataku dengan mata melotot dan wajah yang sudah berubah warna seperti bunglon kepanasan.


"Tapi,sebagai teman perhatiannya sangat berlebihan loh..Iya kan Bun..??"tanya ayah sambil melirik kearah bunda yang datang menghampiri dari arah dapur.


" Ayaaaahhh..."kataku manja.


"Sudah ayah,jangan godain coro.Mending kita makan malam."kata bunda.


Sebelum kami berjalan ke meja makan.Terdengar suara ketokan pintu depan rumah.Bi Nana yang datang dari dapur segera berlarian kecil untuk mebuka pintu.


Sesaaat kemudian bi Nana masuk bersama dengan seseorang yang sejak kemarin sangat kurindukan senyumannya.


"Maaf,non.Ada den Bima di depan nyariin non."kata bibi.


Aku langsung melirik ke ayah dan bunda yang saling memandang seakan mereka sedang menggodaku.Wajahku langsung memerah lagi,karena Bima tiba tiba muncul diruang keluarga.


"Selamat malam,om..Tante.."Kata Bima sambil memegang tangan ayah dan bundaku secara bergantian untuk memberi salam.


'ngapain masuk kesini sih...kenapa nggak duduk aja diruang tamu...'Batinku didalam hati.


"Panjang umur kamu bim.baru aja tadi di omong-"


kata kata ayah tidak sempat diteruskan karena bunda mencubit pinggang ayahku supaya ayahku berhenti menggodaku.


"Jangan malu maluin coro,ayah."Bisik bunda ditelinga ayah.


Bima menatap ayah dengan pandangan tak mengerti karna ayah langsung mengisyaratkan tangannya kebibir untuk diam karena mulutnya dikunci.Dan langsung ganti menatapku yang berusaha tersenyum walau kelihatan seperti sedang nyengir kuda karena menahan rasa malu dengan wajah yang sudah sama merah seperti kepiting rebus.


Apalagi saat diajak makan malem bersama sama bunda dan Bima malah mengiyakan...Bisa habis aku malam ini karna pasti akan terus di godain sama ayah..Apalagi ada kak Ryan juga yang nggak kalah usil nya sama ayah...