
Pagi ini suasana di ruang makan tidak seceria biasanya.Semua orang kelihatan tegang.Aku sampai tak berani untuk memulai pembicaraan...
Sampai akhirnya,ayah yang biasanya selalu diam saat sedang berada dimeja makan,untuk pertama kalinya berbicara.
"Dalam waktu seminggu,ayah akan memindahkan Coro sekolah di Jepang.Ayah sendiri yang akan mengantarnya pergi ke sana dan ayah nggak mau,ada yang mempertanyakan keputusan ayah..."Kata ayah yang kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Aku kaget mendengar keputusan ayah yang mendadak.Pandanganku memutar melihat semua penghuni yang sedang duduk mengitari meja makan.
Semuanya diam,bunda tetap diam dengan wajah sedihnya,kak Ryan juga diam dengan wajah yang terlihat sedikit emosi,hanya kak Fya yang kelihatan santai dengan sedikit tersungging senyum disudut bibirnya..
Mungkin kak Fya senang dengan kepergianku ke Jepang,setidaknya aku tak bisa merebut kak Bara darinya,tapi setidaknya kak Fya tidak pernah berpura pura didepannku..
Namun bagaimana dengan bunda dan kak Ryan ?
apakah mereka tidak akan menahan ku disini ?
apakah rasa sayang yang selama ini mereka tunjukan padaku semuanya hanya kebohongan ?
apa tak ada yang akan bertanya apa keputusanku,entah aku mau atau tidak ?
apakah sekarang waktunya aku akan disingkirkan dari rumah ini?
tapi kenapa ?
apa yang mereka sembunyikan dariku ?
apa ini ada hubungannya dengan wanita yang ku lukis semalam ?
tapi siapa dia ?
kenapa dia sangat berpengaruh pada kehidupanku ?
Lamunan tentang semua pertanyaan ku di buyarkan dengan suara bunda yang sedikit terdengar lemas..
"Cepatlah sarapan dan berangkatlah ke sekolah..."Kata bunda yang berjalan meninggalkan meja makan tanpa sedikit pun menyentuh sarapannya...
Akupun jadi tak punya selera untuk menyentuh sarapanku.
Seperti pagi yang sebelumnya,kak Ryan mengantar aku dan kak Fya berangkat sekolah,dalam perjalanan kami tidak banyak bicara,seakan kami sibuk dengan pikiran masing masing.
Sesampainya disekolah,Adel sudah menungguku dengan melambaikan tangan padaku.
Aku berjalan kearahnya dengan tetap tersenyum ceria seperti biasanya karna aku nggak mau membuat orang orang yang berada di sekitarku ikut merasakan ketidak bahagiakan seperti yang kurasakan saat ini.
Dan kalau memang aku harus pindah sekolah,aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk bersenang senang dengan sahabat sahabatku supaya bisa menjadi sebuah
kenangan yang indah buatku.
"Hai Del,,sudah sarapan belom ?"tanyaku begitu sampai didepan Adel..
"Belooomm,,kamu ?"Adel balik bertanya.
"Ayo kita sarapan dulu,aku juga nggak sempat sarapan tadi dirumah..."
Kami berdua berjalan kekantin sekolah yang letaknya tak terlalu jauh dari ruangan AULA.
Tapi untuk kesana,kami harus melewati taman sekolah.
Melihat Bima yang sedang asik menggambar,aku jadi teringat kejadian saat pertama kali aku bertemu dengannya...
"Del,,,bisakah kau duluan kekantin ?ada sesuatu yang harus aku lakukan.."
"Ok,,,tapi jangan lama lama.Bentar lagi bel masuk berbunyi..."
Aku hanya mengangguk dan melihat punggung Adel yang berjalan meninggalkanku...
Aku menghampiri Bima yang sedang melukis bangunan sekolah lengkap dengan kegiatan para kakak kelas yang sedang bermain basket.
Aku duduk disampingnya tanpa bersuara,tapi Bima tetap bisa tau kalau yang datang itu aku walaupun dia tidak melihat kearahku.
"Hai Corona..."
Sapaan Bima membuatku memalingkan penglihatan ku 180 derajat,melihat kesana dan kemari kalau ada orang yang akan mendengar Bima memanggilku dengan nama Corona..
"Tenang saja,kita hanya berdua disini jadi kamu nggak perlu khawatir...!"Kata Bima seakan tau dengan ke khawatiranku.
Ketegangan ku berubah menjadi senyum dan kulihat Bima pun tersenyum.
"Gimana tanganmu,apa masih sakit ?"tanyaku sambil melirik kearah tangan Bima yang di perban.
"Udah baikan..."Jawab Bima yang tetap serius dengan lukisannya.
Untungnya yang terluka kemarin tangan Bima yang sebelah kiri jadi tidak menghalangi dirinya untuk melukis.
"Bim,,,,boleh aku bertanya satu hal padamu...??"
"Dari mana kamu mengetahui namaku padahal tak ada seorang pun yang tau selain keluargaku ?"
Bima menghentikan aktifitasnya dan berbalik melihat kearahku...
"Jawaban dari pertanyaan mu akan kamu dapatkan malam ini saat kau sudah menjawab pertanyaan ku kemarin..."
Mendengar kata kata Bima aku tertawa sambil menundukkan pandanganku.Bima pun ikut tertawa melihatku tertawa.
Aku tau,Bima hanya membalas kelakuanku yang kemarin...
Saat mengingat kalau diriku tidak akan bersama lagi dengannya,,hatiku terasa sakit,,padahal aku mulai nyaman berada disampingnya...
Saat bel masuk berbunyi,kami meninggalkan taman dan menuju ruang AULA.Ini adalah hari terakhir kami MOS.Para panitia harus memberikan kesempatan kepada kakak kakak kelas yang lain untuk ikutan mengambil alih kegiatan ini...
Kami semua berkumpul di lapangan sekolah,ku lihat Adel sedang mencari cari diriku diantara kerumunan siswa baru yang berdiri di lapangkan..
kini saatnya bagi para kandidat untuk mencari dukungan sebanyak banyaknya agar terpilih menjadi raja dan ratu cempaka kebanggaan sekolah taruna bangsa.
Aku tidak berminat sekalipun,makanya aku hanya duduk diam dipinggir lapangan sedangkan yang lainnya sedang sibuk mengejar kakak kelas untuk meminta dukungan buat para kandidat yang mereka pilih.Bima jadi tak bersemangat karena melihatku hanya duduk diam tanpa expresi.
"Li,,,,dari tadi kok kamu kelihatan sedih,,,?ada apa,,,,?"tanya Adel
"Aku nggak tau Del mau cerita dari mana.Aku saja masih bingung dengan yang aku alami.."
"Makanya kamu harus cerita ke aku,walaupun aku nggak bisa bantu,setidaknya itu bisa membuat beban mu sedikit berkurang."
Kata kata Adel sangat menyentuh hatiku,tapi aku masih terlalu berat menceritakan kejadian yang terjadi padaku.Apalagi ini menyangkut keluargaku..
"Tapi kalau kamu nggak bisa bercerita juga nggak apa apa,satu hal yang harus kamu tau,aku akan selalu ada untuk mendukungmu...!!"
"Makasih Del..."
Aku memeluk Adel,mungkin aku tak bisa untuk memeluknya lagi karna dalam Minggu ini aku akan pergi ke Jepang...
Jam istirahat berdentang,anak anak berhamburan menuju kantin tapi aku masih tetap duduk mematung dengan bunyi perut yang sudah keroncongan karena sejak pagi belum sarapan.Ku suruh Adel untuk makan dikantin tapi dia lebih memilih untuk membelikan makanan dan makan bersama denganku.
"Apa kau tidak akan menepati janjimu padaku ?"tanya Bima yang muncul di belakang kami.
Aku mencari asal suara yang memecahkan keheningan ku,begitu juga dengan Adel yang begitu mengetahui kalau suara itu berasal dari Bima langsung melihatku dengan tatapan menggoda.
"Maaf ya Bim,mungkin lain kali...."
"Tunggu dulu,,,apa aku telah melewatkan sesuatu ?sejak kapan ini ?"tanya Adel sambil melihat kearahku dan Bima secara bergantian dengan pandangan yang penasaran.
"Apaan sih Del,ini tak seperti yang kamu bayangkan..."
Aku menjawab Adel dengan mata tertunduk dan senyum mengembang dibibir ku.
Begitupun dengan Bima yang menyadari kalau Adel sedang menggoda kami saat ini.
"Terus sejak kapan kalian jadi akrab begini ?apa ada yang bisa memberitahuku apa yang sedang terjadi ?"
"Kami sekarang berteman..."Jawabku.
"Beneran hanya temen atau demeeeeennn...!!"
"Adeeeeellll"
Aku ingin mencubit lengan Adel berusaha menyembunyikan rasa malu ku,tapi Adel berlari ke belakang Bima sehingga membuatku sulit untuk menjangkaunya.
Alhasil,aku malah mendapat tatapan maut dari Bima karena posisi kami saat ini saling berhadapan...
Dengan cepat aku menunduk untuk menghindari jangan sampai Bima melihat wajahku yang sudah memerah karena malu.
Adel kembali mengejekku karena melihatku yang salting didepan Bima,namun Bima tak mau berhenti melihat kearahku.
"Untuk sekarang,mungkin kita hanya sebatas teman,tapi suatu saat nanti kita akan lebih dari teman.Aku senang bisa melihatmu tertawa saat ini karena Ku yakin ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatimu saat ini"
batin Bima didalam hatinya...
Seusai bel berbunyi menandakan waktu untuk pulang,aku mengajak sahabatku pergi ke sebuah toko baju,aku tau kalau dia tak punya baju yang bagus untuk ke acara kontes malam ini...
Bukannya aku memandangnya sebelah mata,tapi karna aku tau keluarga Adel tergolong keluarga yang kurang mampu. ibunya takkan mau membuang buang uangnya hanya untuk membelikan Adel sebuah gaun yang menurutnya tidak terlalu penting...
"Li,,,,kamu mau mengajakku ke mana ?"tanya Adel yang mengikutiku naik ke sebuah taksi yang ku setop.
"Sudah,,,,,jangan banyak tanya.Ikut aja.."
Tetap saja,namanya Adel nggak akan pernah bisa diam kalo sedang penasaran.
Untuk saat ini,aku ingin membahagiakan sahabatku yang satu ini karena ini mungkin kali terakhir kami jalan jalan bersama.