
Langit malam mulai menampakan kepekatannya,aku dan Bima menikmati kebersamaan dengan memandang bintang yang bertaburan di langit,udara malam ini pun terasa sejuk menyentuh kulit,hembusan angin menemani kami yang masih terlihat asik dengan candaan masalah kecemburuan.Aku tak henti hentinya menggoda Bima karena hal itu.
Tapi aku juga tak bisa menyembunyikan dilema yang bersarang di hatiku,dibalik tawaku saat ini,aku tak tau apa yang harus aku lakukan pada kencha.Haruskah aku menjaga jarak daarinya,tapi dia adalah sahabatku,aku sayang padanya dan tak mau melukainya dengan menjaga jarak bahkan menjauhinya.
Namun bagaimana jika yang dikatakan Bima benar,bagaimana kalo ternyata selama ini Kencha memang suka padaku dan menganggapku lebih dari sekedar seorang sahabat.Bukankah itu juga akan melukainya karena aku tak'an pernah bisa membalas perasaannya padaku.Kali ini aku benar benar pusing memikirkan hal ini.
"Coro,,,kita pulang yuuk.Tapi sebelum itu kita cari makan dulu,perutku sudah keroncongan."
Ajak Bima yang seketika membuyarkan lamunanku.
Sebelum pulang,aku makan malam bersama dengan Bima di warteg tempat biasa,kali ini suasananya agak sunyi,jadi tak perlu menunggu terlalu lama untuk makanan kami tersaji di atas meja.
Setelah makan,kami pulang.Bima menurunkanku di depan pintu gerbang rumahku,melihatku masuk sampai ke dalam pintu depan rumah kemudian memacu mobilnya menuju rumahnya yang berada di sebelah rumahku.
Aku melangkahkan kakiku dengan sedikit berat memasuki rumahku sendiri,bagaimana cara aku menjaga jarak dari Ken,sedang dia tinggal serumah denganku,dan entah sampai kapan aku pun tak tau.
"Kok pulangnya sendiri sendiri,tadi kan perginya barengan."Tanya kak Ryan begitu aku nongol dari pintu depan.
"Kakaaaak !"Aku terkejut melihat kak Ryan dan Kenzo yang duduk bersebelahan sambil menatapku yang berdiri didepan mereka.
"Kalian berantem yah ?"tanya kak Ryan penuh selidik menatapku.
"Kalo kakak begitu penasaran,kenapa nggak tanya kencha,dia kan sedari tadi bareng sama kakak "
Aku langsung berjalan meninggalkan mereka berdua yang sibuk saling pandang satu sama lain merasa heran dengan tingkahku.Biasanya aku akan mengimbangi lelucon yang kak Ryan lakukan,tapi kali ini aku seperti tak bersemangat.
Begitu sampai di lantai atas,aku tak langsung ke kamarku,aku menemui bundaku di kamarnya.Untuk kali ini,aku butuh saran bunda untuk mengambil keputusan.
TOK......TOK.....TOK....
Kuketok pintu kamar bunda perlahan,begitu mendengar suara lembut bunda yang mengijinkan aku masuk,aku membuka pintu kamar bunda dan langsung nyosor kedalam kamar.
"Corona,,,,,,baru pulang sayang ?"tanya bunda yang bangun dari duduknya sambil meletakkan foto ayah ketempatnya semula,di atas meja disamping tempat tidurnya.
Rupanya tadi bunda tertidur di kursi sambil memeluk foto ayah.
"Bunda,,,,,Coro ganggu ya ?"Tanyaku dengan nada sedih,begitu melihat ada dua butir air mata yang masih melekat di sudut mata bundaku,kayaknya dia habis menangis karena merindukan ayahku.
"Tentu saja enggak sayang,,,,,sini,duduk dekat bunda."Ajak bunda sambil menepuk sisian ranjang dengan tangannya agar aku duduk di sampingnya.
"Bunda kangen ya sama ayah ?sama Bun,coro juga kangen."Aku berlari memeluk bunda dan mencium pipinya,kemudian rebahan diatas paha bunda.
"Ada apa Coro,apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu ?"Tanya bunda sambil mengelus kepalaku.
"Kok bunda bisa tau ?"
"Kamu itu anaknya bunda,jadi mana mungkin bunda nggak bisa merasakan kalo anaknya sedang punya masalah."
"Bunda,Coro lagi dilema Bun."
"Coba ceritakan sama bunda,siapa tau bunda bisa bantu kasih saran "
"Gini Bun,,,,,,,tapi nggak jadi ah....Corona malu..!"
"Loh,,,,,sama bunda sendiri kok malu sih.Ini pasti masalah Bima.Iya kaaaaaannn,,,,,?"Ledek bunda sambil mencubit hidungku.
"Kok bunda tau sih,,,,?"
Aku bangkit dari tidurku dan duduk menghadap bunda dengan kedua kaki menyilang.
"Ada apa sama Bima ?apa dia punya pacar lain selain kamu ?atau kamu yang punya pacar lain ?"
"Iiiiiiihh,,,,,,apaan sih Bun.Bukan seperti itu."
"Makanya cepetan ngomong biar bunda nggak asal nebak yang macam macam."
"Corona dilema antara Bima sama Kencha,Bun."
Tanpa mereka sadari,Kenzo yang tadinya hanya lewat didepan kamar bunda untuk menuju ke kamarnya tiba tiba berhenti ketika mendengar namanya disebutkan.Ken berdiri di balik pintu kamar bunda yang sedikit terbuka,dia ingin tau apa yang membuatku dilema antara dirinya dan Bima.
"Ada apa ? Apa kamu menyukai mereka berdua ?"
"Tuh kan,,,bunda asal nebak lagi.Makanya diam dan dengerin dulu Coro ngomong sampai selesai.Baru bunda ngasih saran apa yang harus Coro lakuin."
Bunda terkekeh,karena saat ini dia seperti anak ABG yang sedang dengerin curhatan sahabat masalah cinta.Tapi mau gimana lagi,memang begini resiko kalo punya anak perempuan yang sudah mulai mengenal cinta.Kudu di awasin dan di jadikan temen,biar dengan muda kita sebagai orang tua buat tau masalah yang dihadapi sang anak dan bisa ngasih saran yang mendidik biar nggak salah jalan.
Saat mau mulai bercerita,tiba tiba ponselnya bunda berdering,bunda mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Hallo,,,selamat malam."
"....."
"Iya benar,,,saya istrinya."
"...."
ponsel bunda terlepas dari tangannya dan terjatuh kelantai,air matanya mulai mengalir dipipinya,aku yang melihat bunda menangis tanpa sadar air mataku juga ikutan menetes.
Aku berusaha bertanya pada bunda siapa yang menelpon,tapi bunda tetap diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya,karena bunda tak menjawab,aku meraih ponsel bunda yang tergeletak di lantai untuk bertanya langsung pada si penelpon.Tapi panggilan itu sudah berakhir.
Ketika menyadari bunda pingsan,aku berteriak sekuat tenaga memanggil kak Ryan.Tapi yang datang Kenzo karena dia sedang berada diluar pintu.
"Kencha,,,,,,,tolongin bunda aku !"kataku begitu melihatnya masuk.
Kenzo mengambil kotak P3k yang ada di lemari atas instruksi dariku,mencari minyak kayu putih dan memberikan padaku,aku mencoba menyadarkan bundaku dengan menggosok minyak kayu putih pada panggal hidungnya.
Saat kak Ryan dan kak fya muncul di dalam kamar,bunda sudah mulai sadar,dan perlahan membuka matanya yang masih sembab karena sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Aku membantu bunda untuk duduk,bunda melihat kami bertiga secara bergantian,air mataku semakin menetes namun cepat ku hapus dengan punggung tanganku.
"Ryan,malam ini kita semua akan berangkat ke Jepang,bunda baru mendapat kabar kalo ayah kalian dan ayahnya Kenzo mengalami kecelakaan waktu pulang sehabis menghadiri rapat.
Rupanya yang menghubungi bunda tadi adalah pihak rumah sakit di jepang.Dia tau nomor ponsel bunda karena mencarinya di ponsel ayah.
Kenzo tercengang,langkah kakinya terhuyung kebelakang,aku menggenggam tangan kenzo untuk saling menguatkan.
"Terus bagaimana keadaan mereka ?"Tanya Ryan.
"Bunda juga belum tau pasti,yang pasti kita harus cepat sampai disana,kalo bisa kita harus berangkat sekarang juga."
Kami semua kembali kekamar untuk beres beres,begitu sampai di kamarku,aku duduk ditepi ranjang dan menangis sejadi jadinya,karena rasa sesak ini sudah ku tahan semenjak tadi masih di kamar bunda.
Aku tak mungkin menangis didepan bunda,karena saat ini bunda membutuhkan kekuatan dari ketiga anaknya.
Kenzo yang tanpa ku sadari sedang berdiri di belakangku mendekatiku dan memelukku,aku membalas pelukannya dan menangis tanpa henti.
Dia berusaha membuatku tenang,walaupun dia sendiri sekarang sama sedihnya denganku.
"Tenanglah Corona,,,semuanya akan baik baik saja."Kata Kenzo sambil mengusap punggungku.
Malam ini kami semua berangkat ke bandara.Untunglah masih tersisa penerbangan yang terakhir jadi kami bisa berangkat ke Jepang sekarang.Saat di perjalanan menuju bandara,aku mencoba menghubungi Bima untuk memberi tahu soal keberangkatan ku yang mendadak,tapi Bima tak menjawab panggilanku.
Begitu sampai di bandara,kami langsung menuju ke bagian keberangkatan karena sebentar lagi pesawat akan tinggal landas.
"Ken,aku percayakan keluargaku padamu."Kata kak Ryan sambil menepuk pundak Kenzo.
Kenzo mengangguk dan membalas tepukan kak Ryan.
"Kakak nggak ikut ?"Tanyaku yang sedari tadi tidak menyadari kalo kak Ryan tak membawa barangnya.
"Besok,,,kakak akan berangkat besok.Kakak harus mengurus surat izin dulu.Tenang saja,ada kencha yang akan menjagamu di sana."
Aku mengajak kak Ryan sedikit menjauh.
"Kak,tolong beritahu Bima semua yang terjadi,aku tak bisa menghubunginya,aku takut dia akan khawatir begitu tak melihatku besok tanpa kabar ataupun berita."
"Tenang aja,nanti kakak bilangin.Jagain bunda,karena saat ini bunda sedang rapuh."
"Pasti kak."
Aku memeluk kak Ryan dan mengikuti Kenzo yang sedari tadi berjalan perlahan menungguku,sedangkan kak fya dan bunda sudah masuk duluan ke dalam pesawat.
Didalam pesawat,aku duduk berdampingan dengan Kenzo,karena mengantuk dan lelah,aku tertidur dengan kepala yang bersandar di pundak Kenzo.Sedangkan Kenzo menyandarkan pipinya di pucuk kepalaku dan tertidur bersamaku.