
Ternyata hari pertunangan ku dan Abrary akan dilaksanakan kurang dari seminggu.Atas desakan orang tuanya yang ingin segera melihat hubungan kami diresmikan membuatku tak bisa untuk menolak.
Lagian untuk apa aku harus menolak,aku dan Abrar sudah pacaran lebih dari dua tahun.Jadi sudah sepantasnya hubungan kami segera diresmikan.
🍁🍁🍁
Hari ini Abrary sengaja tidak masuk kantor.Dia bertekad ingin lebih menghabiskan banyak waktu bersama denganku.
Makanya pagi pagi sekali dia sudah berada di rumahku,katanya ingin menemaniku joging pagi sekalian sarapan bareng.
"Kamu ngantor jam berapa?"tanyaku sambil melakukan pemanasan sebelum melakukan joging di seputaran kompleks perumahan tempat tinggalku.
"Hari ini aku lagi malas ke kantor,aku pengen ngajak kamu jalan jalan seharian ini.Mau nggak ?"Ucap Abrar balik bertanya.
"Aku nggak bisa kalo pagi ini,aku mesti ke kampus,aku ada janji sama bapak Andi.Maaf ya,,,!"
Wajah Abrar seketika cemberut tak bersemangat.Padahal dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama denganku.
"Tapi,,,,"
"Tapi apa,,,?"
"Kalo pulang kampus gimana ?"Tawarku yang merasa lucu dengan wajah Abrar yang seperti itu.
"Baiklah,tapi aku ngantar kamu ke kampus ya pagi ini ?"Pinta Abrar.
Aku mengangguk sambil tersenyum.Kami berdua memulai joging dan sarapan bubur ayam di taman dekat rumahku.
🍁🍁🍁
"Tadi pagi di antarin calon suami ?"tanya Bima yang sudah duduk di sampingku.
"Iya.Kenapa ?"Jawabku santai.
"Enak banget yah punya calon suami kayak Abrary.Udah cakep,pengertian,keren,mau nganter -"
"Kamu homo,ya ?"Ucapku.
Aku mengalihkan pandanganku yang tadinya mengarah ke depan berbalik kearah Bima.
"Hah ?"
"Itu,,,,,muji muji pacar aku.Jangan ganggu dia ya !"Aku cekikikan.
"Kamu kok tega banget ngatain aku homo.Kalau aku homo,semua wanita nggak bakalan naksir Ama aku "
"Emang banyak yang naksir kamu,tapi karena kamunya homo,jadi nggak selera deh sama mereka.Iya kan ?'tawa ku pecah seketika.
"Loh,,,belum pernah ketemu sama fans fans aku yah ?"Bima mendengus.
Entah kenapa aku merasa nyaman berada dekat dengan Bima.Candaan seperti ini serasa membuat hatiku hidup.
Ponselku berdering,dan ternyata dari Abrary.
"Hallo ?"
"Pulang jam berapa ?"tanya Abrar.
"Hmmm,,,,belum tau nih."
Abrary diam sejenak."Ini kan udah hampir sore,Lia."
"Iya.Tapi aku lagi ada kelas,dosennya tiba tiba aja bilang akan ada kelas siang ini.Jadi aku harus -"
"Ya terserahlah !"potong Abrar.
"Kamu marah ya ?habis gimana dong ?"ratapku pelan tapi masih kedengaran oleh Abrary.
"Udah ya ?aku pulang aja !"
KLIK.
Hubungan telepon tiba tiba diputuskan sepihak oleh Abrar.
Aku langsung berdiri dan berlari keluar kelas.
"Mau kemana ?"Bima kaget melihatku yang berlari meninggalkan ruangan kelas,padahal dosen kami baru saja masuk.
Aku mendatangi kantin yang tidak begitu ramai.Kucoba menghubungi Abrar berulang kali,tapi hasilnya nihil.
Kayaknya Abrar mematikan ponselnya karena ngambek.Aku sendiri pun heran dengan perubahan tingkah laku Abrar yang sekarang.
Padahal waktu dulu dia adalah orang paling pengertian yang aku kenal.Tapi kenapa sekarang dia terlalu egois,dia tau kalau aku sedang ada mata kuliah.Masa hanya gara gara hal sepele dia sampe ngambek segala.
Beberapa saat kemudian aku kembali ke dalam kelas dan meminta maaf pada dosen karena keterlambatan masuk kelas.
Bima tak bertanya apapun padaku,dia hanya sibuk memandangiku semenjak aku masuk dan duduk kembali disampingnya.
Kebetulan hari ini Laras tidak masuk kuliah karena izin ada urusan keluarga.Jadi teman satu satunya yang aku miliki buat di ajak bicara ya cuma Bima.
Tapi kali ini aku tak mood untuk berbicara apalagi untuk bercanda seperti biasanya.
Jam udah menunjukan pukul lima sore,aku duduk sendirian di sudut kantin sambil Memandang ke arah jendela menatap rintik hujan yang mulai turun.Pandangan mataku kosong menerawang jauh.
Sedangkan Bima sedang pergi memesan makanan karena tau kalau dari siang aku belum makan apapun.
Bima nggak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali.Aku sampai masuk rumah sakit karena lupa makan sebab terlalu banyak memikirkan masalah.
"Jangan kebanyakan mikir,ini makan aja dulu.Entar kamu sakit lagi !"Ucap Bima yang datang dengan sepiring nasi goreng dan segelas jus stobery di tangannya.
"Siapa juga yang mikir,aku nggak mau makan,nggak lapar."
"Ya udah,kalo kamu nggak makan.Aku juga nggak deh.Tapi kalo aku pingsan disini kamu harus tanggung jawab ya !"
"Kok gitu,kenapa kamu jadi ikut ikutan nggak mau makan ?"
"Habisnya kamu nggak mau makan."
"Bodoh,,,,,kalo aku mati apa kamu juga bakalan ikutan mati bareng aku ?"
"Iya."
Aku tercengang dengan jawaban Bima,aku pikir dia hanya bercanda denganku.Tapi aku menangkap keseriusan di wajahnya saat ini.
Seketika ada gelenyar aneh yang kurasakan dalam diriku.
Ditatap seperti itu oleh Bima aku jadi salting,jadi untuk menghilangkan rasa gugupku,aku mengambil sendok dan mulai memakan makanan yang ada di depanku.
"Kenapa pesannya hanya satu ?Dan kamu tau dari mana kalo aku suka sama jus stobery ?"Tanyaku tanpa berani menatap Bima.
"Melihat kamu makan aja,aku udah kenyang"
"Mana ada orang kenyang melihat orang lain makan.Bilang aja kalo kamu nggak punya modal buat traktirin aku."Bisikku pelan namun bisa sampai ketelinga Bima dengan jelas.
Bima hanya tertawa mendengar ucapanku.Aku menghentikan makanku dan membuka tasku untuk mengambil dompetku.
Aku berniat ingin memberikan Bima uang agar dia membeli sepaket lagi makanan untuk dirinya.Tapi kenyataannya,aku tak bisa menemukan dompetku dimana pun.
"Kamu lagi nyari apaan ?"
"Dompet aku,,,tapi kayaknya nggak ada."Aku mencoba berpikir dimana terakhir aku meletakkan dompetku.
"Kamu kenapa lagi ?"Tanya Bima begitu melihat aku menepuk dahiku sambil tertawa kecil.
"Aku lupa bawa dompet.Maaf ya Bim,aku nggak bisa beliin kamu makanan."Kataku dengan nada menyesal.
"Udah,,,,nggak apa apa.Yang penting kamu makan aja,jadi aku nggak khawatir kamu bakalan sakit."
Perhatian Bima kayak gini seharusnya aku dapatkan dari Abrar.
Kenyataannya,Abrar terlalu sibuk sama kerjaannya,dan di tambah dengan sekarang,cuma gara gara hal sepele dia ngambek nggak jelas.
"Gini aja,,,,gimana kalo makanan ini kita bagi jadi dua,biar adil.Gimana ?"
Tanpa menunggu aba aba,Bima langsung melahap sesendok penuh nasi goreng menggunakan sendok yang sama denganku.
"Apa harus aku berbagi sendok dengan Bima ?"batinku dalam hati.
Aku hanya mampu menatap kelakuan Bima yang menurutku sangat menggemaskan.
🍁🍁🍁
Untuk meredam emosi nggak jelas Abary,aku berinisiatif mengajaknya jalan seharian tapi tak bilang mau kemana .Itung itung buat Nebus kesalahan yang memang bukan sepenuhnya salahku.
Aku mulai siap siap dan menunggu jemputan Abrar.
Tiba tiba ponselku berdering.
Ternyata itu dari Laras yang ingin mengajakku nonton bioskop bareng.
Tapi begitu mendengar alasan kenapa aku tak bisa ikut,dia langsung mengerti dan tidak lagi memaksa.
Begitu Abrar datang,kami langsung berangkat menuju Dufan.Senyum Abrary sangat manis saat ini.Gaya berpakaian yang in formal membuatnya tampak keren dan tampan.
"Kita mau kemana ?"Tanya Abrar yang langsung menjalankan mobilnya perlahan begitu aku sudah duduk manis di sampingnya.
"Jangan banyak nanya,rahasia !"Ucapku dengan tawa kecil.
Tanpa banyak bertanya,Abrar menjalankan mobilnya sesuai perintahku.Kulihat senyumnya mengembang sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan.Dia terlihat sangat bahagia saat ini.
Nggak peduli kemana aku membawanya,asalkan bersama denganku nampaknya itu sudah sangat berarti buat Abrary saat ini.
"DUFAN ?!"Pekik Abrar saat memasuki pintu masuk Taman Impian Jaya Ancol.
"Jarang jarang kan kamu kesini.Ini dia kencan ala aku ! Aku pengen banget kesini dari dulu,tapi nggak punya teman.Nggak asik kalo ke sini sendirian.Lagian kamu selalu sibuk dan nggak pernah punya waktu buat aku."Ucapku dengan nada memelas.
"Iya deh,maaf.Mulai sekarang aku akan selalu ada buat kamu kapan pun kamu butuh.Aku berjanji."Ucap Abrar dengan mengacungkan dua jarinya di depan mataku.
Entah mengapa aku nggak merasakan bahagia saat mendengar ucapan Abar barusan.Padahal sejak dulu aku ingin Abrar bersikap seperti ini sama aku.Tapi kenapa justru sekarang hal ini tak membuatku bahagia sama sekali.
Tiba tiba saja bayangan wajah Bima lewat depan mataku. K Napa juga aku harus kepikiran tentang dia ?