
Hari ini adalah pelajaran olahraga,aku dan Adel sudah rapi dengan pakaian olahraga lengkap dan berjalan menelusuri koridor bersama.
Jam olahraga pun dimulai dengan berlari santai mengelilingi lapangan yang bertujuan untuk pemanasan.Para siswa perempuan berlari lebih dulu sedangkan yang laki laki berlari di belakang.
Sehabis berlari dua putaran,kami langsung dikumpulkan ditengah lapangan,bapak Taufan sebagai guru olahraga memerintahkan kami membagi dua tim,yakni tim laki laki dan perempuan.
Masing masing tim harus membentuk lingkaran dengan satu orang berdiri ditengah lingkaran untuk melakukan gerakan lempar tangkap bola kepada pemain lainnya.
Untuk tim perempuan,yang menjadi pelempar adalah Tasya,sedangkan untuk tim laki laki adalah Bima,jadi keduanya harus berdiri ditengah.
Kami membentuk angka delapan saat membentuk lingkaran,aku tepat berdiri membelakangi Kenzo,bagiku itu adalah hal yang biasa,tapi tidak bagi Bima.
Matanya kelihatan sakit melihat aku dan Kenzo sering tertawa bareng,tawa kami bukan tanpa alasan,kami mengenang masa kecil kami yang pernah main lempar tangkap bola seperti ini,waktu itu kencha tak bisa menangkap bola yang kulempar karena selalu terhalang oleh perutnya yang gendut,sehingga selalu berakhir dengan saling kejar kejaran karena selalu ku ejek,ujung ujungnya kencha berhenti mengejar dengan napas yang tersengal sengal karena tak kuat berlari.
"Kalo lempar itu yang bener dong.Bisa melempar nggak sih ?"Suara cempreng Adel memekik ditelingaku.
Tampaknya Tasya sengaja melempar bola ke Adel dengan kasar karena merasa jengkel pada Adel soal kejadian kemarin di kantin sekolah.Pasalnya gara gara Adel,Tasya nggak bisa makan siang bareng Bima.
"Aaaah,,bilang aja kalo kamu nggak bisa tangkap,pake nyalahin aku lagi !"balas Tasya tak mau kalah.
"Kamu ngajak ribut ?"Ujar Adel dengan mata melotot dan ingin melabrak Tasya.
Aku dengan cepat melerai karena pak Taufan meniup peluitnya agar pertengkaran segera dihentikan.
"Sudah lah Del"Kataku sembari menahan tangan Adel yang sudah mau maju kearah Tasya.
Kekesalan Tasya ujung ujungnya berimbas padaku,dia melempar bola dengan keras kearahku,begitu aku mau menangkap lemparan bola darinya,kakiku keseleo,namun dengan cepat Kenzo menangkap ku yang hampir saja jatuh karena posisiku dan dia saling membelakangi.
"Kamu nggak apa apa ?"Tanya Kenzo yang membantuku untuk berdiri tegap kembali.
"Nggak,,,makasih ya kencha."jawabku sambil senyum.
"Bisa nggak jangan di panggil kencha lagi ?aku kan udah nggak gemuk."
"Bagiku,kamu tetap kencha.Mau gemuk ataupun enggak,Kalo dulu kencha yang artinya Kenzo chabi,namun sekarang kencha yang artinya Kenzo Chandra.Nggak akan ada yang berubah."Ucapku yang membuat kami sama sama tertawa.
Melihat kedekatan kami,Bima melempar bolanya asal dan meninggalkan lapangan,nampaknya dia nggak suka melihatku terlalu dekat dengan Kenzo.Sedangkan Adel menahan sebuah senyuman getir yang kelihatan begitu dipaksakan melihat kedekatan ku dengan Kenzo.
Nampaknya Tasya berhasil menimpuk dua burung dengan satu batu.Disatu sisi dia berhasil membuat Adel cemburu kerena dia tau kalau Adel menaruh hati pada Kenzo,pastinya dia akan cemburu melihat Kenzo dekat dengan perempuan lain,apalagi sahabatnya sendiri.Sedangkan di sisi lain,dia ingin membuat hubunganku dengan Bima renggang supaya dia bisa dengan leluasa mendekati Bima.
Seusai lempar tangkap bola,para perempuan mengambil tempat duduk di pinggiran lapangan sedangkan para lelaki akan tanding basket.Nampaknya masalah tadi akan berbuntut panjang,kini tim Bima menjadi lawan tanding tim Kenzo.
Mereka berdua saling berhadapan dengan tatapan mata yang tajam seperti elang yang akan memangsa lawannya.Begitu pak Taufan melempar bolanya ke udara,dengan cepat Kenzo melompat mengambil bola,karena postur tubuh Kenzo sedikit lebih tinggi dari Bima.
Dengan gerakan gesit dan lincah,Kenzo berhasil melewati beberapa pemain lainnya dan memasukan bola di ring lawan,Angka tercetak untuk tim Kenzo.
Dari pinggir lapangan,aku berteriak memberi semangat untuk kedua tim,tapi itu membuat Bima tidak senang karena Kenzo melihat kearahku dengan tersenyum begitu dia berhasil mencetak angka.
Bima mengepalkan tinjunya dan semakin geram melihat tingkah sok keren Kenzo,apalagi melihatku yang berseru girang untuk kedua tim.
"Li...nampaknya kamu harus memilih salah satu tim aja deh untuk bersorak ?"Kata Adel yang memperhatikan gelagat Bima di lapangan basket.
"Emangnya kenapa ?toh ini bukan sebuah pertandingan memenangkan piala,lagian aku hanya menyemarakan pertandingan aja seperti yang lainnya"Ujarku heran melihat perubahan di mimik wajah Adel.
"Emang ini bukan pertandingan buat menangin piala,tapi lebih mengarah ke masalah hati deh."Ungkap Adel dengan sedikit rasa kecewa karena merasa kalo Kenzo juga punya rasa sama aku.
"Maksud kamu apa ?aku nggak ngerti deh !"Tanyaku lagi.
"Kayaknya Bima cemburu sama Kenzo karena dekat sama kamu ?"
"Nggak mungkin Del,kencha itu sahabat aku dari kecil.Aku anggap dia cuman temen doang nggak lebih.Dan Bima tau itu."
"Andai saja kamu lebih peka,mungkin kamu anggap ken hanya sebagai teman,tapi apa Ken bisa menganggap kamu itu sebagai teman juga,dan walaupun Bima tau kamu dan Ken hanya teman,apakah dia nggak akan cemburu liat pacarnya dekat sama lelaki lain."Batin Adel dalam hati sambil terus menatapku berteriak memberi semangat kepada tim manapun yang mencetak angka.
Skor kedua tim hanya beda satu poin,tampak Bima berusaha keras untuk menang dari Kenzo.Andai Bima bermain tak menggunakan emosi,mungkin dia dan timnya bisa mengalahkan timnya Kenzo karena memang Bima jago dalam permainan basket.
Akhirnya permainan di menangkan oleh timnya kenzo,dan itu membuat Bima sangat kesal.
aku berjalan dengan memegang dua botol air mineral kearah Bima dan Kenzo yang kembali ke pinggir lapangan untuk beristirahat.
Aku memberikan botol minuman kepada Kenzo duluan karna posisi Kenzo adalah yang lebih dulu kulewati dibanding Bima.
"Nih,,,hebat "Kataku pada Kenzo sembari memberikan sebotol air mineral padanya lengkap dengan sebuah senyuman dibibirku.
"Makasih"Kenzo mengambil botol dari tanganku dengan tatapan langsung mengarah pada Bima,kayaknya dia sengaja ingin membuat Bima cemburu.
Habis memberikan botol air mineral pada kenzo,aku langsung berjalan ke arah Bima.Tapi sebelum aku sampai,Bima pergi meninggalkan aku yang diam terpaku melihatnya pergi dengan sebuah botol air mineral yang ada di tanganku.
"Bimaaaaaaa..."Aku berteriak dengan sekuat tenaga,tapi Bima tak menghiraukan ku,dia terus berjalan ke arah taman.
Aku berlari mengejarnya,sesampainya disana aku melihat Bima menonjok pohon yang tak berbuat salah padanya,aku dengan cepat menarik tangan Bima yang sudah berwarna merah karena berdarah.
"Hentikan Bim,tangan kamu berdarah.Kamu kenapa ?Kenapa kamu semarah ini,itu hanya sebuah permainan,siapa saja bisa menang dan kalah."Kataku berusaha menenangkan Bima dengan pikiran kalau Bima kecewa hanya karna kalah saat bermain basket tadi.
"Andai saja aku bisa memberitahukan padamu apa penyebab kemarahan ku ini."Batin Bima dalam hati sambil mengikuti langkahku yang menariknya pergi ke ruang UKS sekolah untuk mengobati tangannya yang terluka.
Selesai mengobati tangannya dengan mengoleskan betadin dan mengikatkan perban,aku menggenggam tangan Bima erat dan mencium tangannya yang terluka.
"Bim,aku mau kamu berjanji satu hal padaku ?"Kataku sambil menatap lekat kedalam matanya yang sedari tadi menatapku dalam diam saat aku sedang mengobati tangannya.
"Apa ?"
"Apa pun yang terjadi,jangan pernah kamu melukai dirimu sendiri seperti ini,karena hatiku juga akan terasa sakit melihatmu terluka.Walaupun kamu kalah dalam setiap hal,tapi bagiku kamu adalah satu satunya orang yang mampu memenangkan hatiku,dan itu takkan pernah berubah sampai kapan pun"
"Benarkah...Sejak kapan Corona pinter gombal ?"canda Bima sambil mengusap kepalaku dengan telapak tangannya.
"Sejak ketemu sama orang yang namanya Bimantara !"Kataku mengimbangi candaan Bima.
"Kamu juga harus janji satu hal sama aku ?"
"Apa?"
"Kamu nggak boleh pake keahlian gombal kamu sama lelaki lain,cukup sama aku aja,mengerti ?"
Aku hanya mengangguk dengan tersenyum lebar pada Bima yang menarikku dalam pelukannya dengan tawa yang mengembang di bibirnya,untuk sejenak Bima melupakan kejadian tadi di lapangan basket,sampai dia melihat bayangan seorang Kenzo yang mengawasi kami dari balik jendela ruang UKS.