
Kali ini,Bima tak mau mengulangi kesalahan yang sama.Dia sampai tidur di samping ranjangku sambil memegang tanganku.Hanya untuk memastikan kalau aku baik baik saja.
Sudah dua hari ini Bima berada di Rumah sakit menjagaku dan tidak pernah sedetik pun menjauh setelah aku habis operasi.
Saat pertama kali aku membuka mata setelah habis dioperasi..Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku.Kulihat Bima sedang telungkup di samping tempat tidurku.Aku membelai rambutnya perlahan tapi tak membuatnya terbangun dari tidurnya.
Mungkin dia kelelahan karna menjagaku semalaman.Aku melihat kesekeliling ruangan.
Ada bundaku yang sedang tertidur berbantalkan paha ayahku yang tertidur juga sambil sandaran di sofa.
Entah kenapa,kerongkonganku terasa kering.Aku mencoba melepaskan tanganku dan meraih gelas berisi air putih yang berada diatas meja disamping ranjangku.Tapi itu membuat Bima terbangun dan membantuku untuk minum.
"Kau sudah sadar..??"Tanya Bima pelan sambil meletakan kembali gelas di atas meja.Mungkin dia tak mau sampai membangunkan orang tuaku yang belum lama memejamkan mata karena terlalu mengkhawatirkan ku.
Aku hanya mengangguk tanpa bersuara.
Bima menautkan tangannya dan tanganku sambil menatap wajahku yang masih kelihatan lemas.
"Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu."
Bima tak berauara.Dia hanya mengusap kepalaku sambil tersenyum.
Mungkin karena masih ada sisa pengaruh obat.Mataku kembali terpejam.
Keesokan harinya saat aku terbangun.Aku tak melihat Bima ada di depanku lagi.Tapi senyum manis mengembang di bibir bundaku.Aku berusaha untuk bangun dibantu bunda yang meletakkan bantal dibelakang ku agar aku bisa duduk dengan nyaman.
"Bagaimana keadaanmu sayang??Apa masih ada yang terasa sakit..??"
"Nggak bunda.Aku sudah merasa lebih baik."
Aku menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan Bima.Tapi bayangannya pun tak kutemukan.Aku berpikir,mungkin semalam aku bermimpi melihat Bima yang berada di sampingku,tersenyum padaku dan mengelus kepalaku.
"Bunda,kemana yang lain...??"
"kalau yang kamu maksud itu Bima.Tadi pagi bunda menyuruhnya pulang untuk beristirahat.karena sejak semalam dia nggak mau jauh darimu."
"Bukan Bima, bunda..!!maksud coro..-"
"sudahlah..nggak usah dibahas.Yang penting sekarang coro makan dulu biar cepat sembuh.Kan coro nggak mau lama lama disini.."
"Baiklah."
Sudah dua hari aku dirawat dirumah sakit.Tapi kak fya tidak pernah datang sekalipun untuk menjengukku.Apa sebegitu bencinya kak fya padaku sampai menjengukku yang sedang sakit saja dia nggak mau.
Menjelang sore,kak bara datang untuk menjengukku.Waktu itu aku sedang sendirian.
Aku hanya duduk bersandar di ranjang.Begitu kak bara masuk,aku menerawang kebelakang kak bara.berharap kalau dia datang bersama dengan Bima.
Entah kenapa,akhir akhir ini bayangan wajah Bima menari nari di pikiranku.
"Boleh aku masuk..??"Tanya kak bara dengan membawa sekeranjang buah di tangan kirinya dan seikat bunga mawar merah di tangan yang satunya.
''Bunga mawar lagi....??Apa kak bara akan menyatakan cintanya lagi padaku...??'Batinku dalam hati.
"Tentu kak,masuklah..!!"Kataku setengah was was.
"Aku tadi datang bersama bima.tapi dia menyuruhku untuk masuk duluan.katanya ada sesuatu yang harus dia beli di toko depan rumah sakit."Kata bara sambil meletakkan keranjang buah di meja samping ranjangku dan memberikan karangan bunga itu tepat di tanganku.
Aku terperangah saat menerima bunga dari kak bara.Tapi kak bara malah tertawa dan ikut membawaku tertawa juga.
Wajahku langsung bersemu merah.kata kata kak bara berhasil membuatku tertawa.
Beberapa saat kemudian bundaku masuk ke dalam ruangan.Aku terkejut saat kak bara minta izin pada bunda untuk mengajakku jalan jalan ditaman rumah sakit.
"Bunda,apa boleh aku mengajak Lia jalan jalan sebentar di taman??"Tanya Barata
"Jangan tanya bunda.Tanya aja sama orangnya langsung,mau apa nggak.!!"Jawab bunda sambil melihat ke arahku.
Kak bara berbalik ke arahku dan menatapku meminta jawaban.Aku hanya mengangguk setuju.Lagian,aku terlalu bosan hanya berbaring dan mencium bau obat obatan.Sesekali jalan jalan di taman juga perlu untuk memanjakan hidungku menghirup udara segar.
Kak bara mendorong kursi rodaku ke taman.Disana banyak pasien yang sedang mencari udara segar sepertiku.
Saat melewati pepohonan yang rindang.Bayangan saat aku bertemu Bima di Jepang untuk pertama kali terlintas dikepalaku.Aku jadi senyum sendiri mengingat semua itu.Kak bara yang melihatku tersenyum juga ikutan tertawa.
Akhirnya kami sama sama tertawa walaupun tidak mengetahui apa yang sebenarnya kami tertawakan.
Bima yang tadinya sangat senang karena akan membawakan ku seperangkat alat lukis untuk mengusir kebosanan ku dirumah sakit.Terlihat sangat sedih karna melihatku dan kak bara sedang tertawa bersama di taman.
Tapi dia tak menghampiri kami karena dia nggak mau menjadi pengganggu.Baginya,melihatku tertawa saja sudah merupakan suatu kebahagiaan terbesar baginya.
Saat aku kembali ke ruanganku,ponsel kak bara berdering.Bima mengabari kalau dia harus pulang duluan karna ada sesuatu yang harus dia kerjakan.Dia menyuruh kak bara untuk menyampaikan salamnya untukku.
Setelah kak bara pergi,aku berbaring di tempat tidurku.Entah kenapa,aku merindukan Bima.Merindukan senyumannya,yang selalu membuat hatiku terasa damai.
Saat melihat kearah sofa,aku melihat seperangkat alat untuk melukis.Aku turun dari ranjangku dan mengambilnya.Aku tau kalau tadi Bima datang untukku.Tapi dia tak mau menggangguku dengan kak bara.Makanya dia hanya meninggalkan ini untukku agar aku tak bosan selama berada di rumah sakit.
###
Sesampainya dirumah,Bara langsung berjalan ke arah dapur,membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.
Keadaan rumah sangat sepi.Tak ada tanda tanda kalau Bima sudah pulang.Bara mendatangi kamar Bima hanya untuk memastikan kalau Bima ada di kamarnya atau tidak.
Bara memasuki kamar bima,tapi Bima tak ada disana.Saat hendak keluar dari sana,ada sesuatu yang mendorong hatinya untuk mengintip ke salah satu ruangan yang selalu dijadikan tempat keramat bagi Bima.Rasa penasaran itu menggelitik hatinya.
Ingin sekali dia melihat isi ruangan itu.Tapi terlalu takut kalau sampai Bima tau. langkahnya terhenti ketika sampai didepan pintu.
"Kakaak.."Sapa Bima yang langsung menaruh tas nya diatas kasur kemudian membuka jaket Jeansnya di sandaran kursi.
"Kamu sudah pulang..?Kakak juga belum lama sampai.Lia kirim salam tadi untukmu.."
Kata bara yang berjalan mendekati Bima dengan pandangan sesekali melihat kearah pintu ruang keramat Bima yang masih tertutup.
"Oh ya.Gimana keadaannya sekarang.?Pasti sudah lebih baik.."Tanya Bima sambil membuka kaosnya karena sudah basah dengan keringat.
Bima pikir aku sudah merasa lebih baik karena dia tadi sempat melihatku dan kak bara bercanda di taman rumah sakit.
"Aku juga nggak tau,Bim."kata bara sambil duduk di ranjang Bima.
"Nggak tau gimana..??Bukankah kakak tadi bersamanya..??"Tanya Bima heran.
"Entahlah..!!Dia tertawa dan berbicara padaku.Tapi sorot matanya berbicara lain.Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.."
"Itu mungkin hanya perasaan kakak saja.Sudahlah,aku mau mandi."
Bima melangkah ke kamar mandi.Sedangkan Bara masih bermain main dengan pikirannya sendiri.Bara merasakan kalau sebenarnya aku sedang menunggu Bima untuk datang.Makanya,walaupun aku tertawa bersamanya,dia tetap merasakan kesedihan didalam hatiku karna seseorang yang kutunggu tidak datang.