
Bima datang menghampiriku bersama dengan Adel dari arah belakang,tatapan Bima sangat tajam menatap ke arah Kenzo yang selalu saja mencuri pandang melihat kearahku.
"Lia,kita jadi kan ke toko buku bareng ?"tanya Adel begitu sampai didepan ku.
Aku hanya mengangguk sambil merapikan tasku.
"Ken,kamu juga jadi pergi kan ? "tanya Adel bergantian menatap ke arah Kenzo.
Begitu nama Kenzo disebutkan,Bima menatap ke arahku seakan meminta penjelasan,masalahnya Bima tau kalo aku akan pergi sama Adel ke toko buku hari ini,tapi untuk pergi bersama dengan Kenzo,kayaknya Bima kelihatan nggak suka.
Aku menangkap raut wajah tak suka dari Bima,otakku berpikir dengan keras gimana caranya supaya aku nggak jadi pergi,tapi aku juga bukan tipe orang yang suka ingkar janji.
Untuk sesaat aku menjadi dilema sampai akhirnya Bima memutuskan untuk ikut bersama kami ke toko buku.
"Kalo gitu,kita pergi ber empat aja,biar lebih seru."Ujar Bima sambil menatap kearah Kenzo,karna biar bagaimanapun Bima tau maksud Kenzo yang sebenarnya itu apa.
Kami berjalan bersama keluar dari kelas menuju ke tempat parkir.
"Kita naik apa ke toko buku ?"Tanya Adel.
"Kita naik taksi aja"Jawab Kenzo.
"Terus motor kamu gimana Bim ?"Tanyaku.
"Ditinggal dulu disini,entar aku ambil habis dari toko buku."Jawab Bima.
Kami berjalan keluar gerbang dan menunggu taksi yang lewat.
"Pak,titip motor saya yah."Ucap Bima begitu melewati pos satpam.
"Beres."Kata pak satpam sambil mengacungkan dua jempolnya sembari tersenyum ke arah Bima.
Didalam taksi,Kenzo duduk didepan sedangkan Adel, Bima sama aku duduk di belakang.Kenzo sering melirikku lewat kaca spion,dan itu membuat Bima tak senang,dengan sengaja Bima menggenggam tanganku dan meletakkan di depan dadanya.
"Woy,kalian berdua jangan kebangetan dong,bikin iri para jomblo tau !"Ujar Adel yang menatap kami dengan tatapan mematikan.
Bima hanya tersenyum sambil menikmati perubahan wajah kenzo yang kesal.
"Siapa suruh jadi jomblo."Ledek Bima.
"Tenang aja,bentar lagi aku akan mengakhiri status jomblo ku."Kata Adel sambil melirik Kenzo yang duduk di depan.
Sesampainya di toko buku,kami berpencar.Aku sama Adel mencari buku untuk tugas sedangkan Bima dan Kenzo menghilang entah kemana.
"Lagi cari apaan ?"tanya Bima yang sedari tadi melihat Kenzo mondar mandir di depan rak buku musik.
"Buku tutorial gitar"Kata Kenzo sambil mengambil salah satu buku kemudian membacanya sekilas.
"Kamu pindahan dari mana ?"Tanya Bima lagi.
"Dari Jepang."Jawaban Kenzo membuat Bima terdiam sejenak.
"Kenapa pindah ?"Tanya Bima lagi semakin penasaran.
Senyuman Kenzo mengembang disudut bibirnya,tampaknya dia menyadari kalo Bima mulai nggak senang dengan tatapannya padaku.
"Kalian masih lama nggak ? kami udah selesai nyari bukunya."Kata Adel.
"Karena seseorang "Kata Kenzo menjawab pertanyaan Bima yang tadi,dan langsung melangkah lewat di depanku sambil melirik ke arahku menuju ke kasir dengan membawa buku yang akan dia beli.
"Apa sih maksudnya ?kerena seseorang ? seseorang siapa ? aneh deh."Kata Adel yang bingung dengan jawaban kenzo,karena yang ditanya lain dan dijawab lain.
Adel langsung mengikuti Kenzo ke arah kasir,sedang aku masih menatap Bima yang berdiri mematung melihat ke arah Kenzo yang berjalan ke kasir.
"Bim,kamu kenapa ?"tanyaku membuyarkan pandangan Bima yang kosong,seakan dia terpengaruh dengan kata kata Kenzo tadi.
"Hah..nggak apa apa.Kamu udah selesai ?"Tanya Bima dengan tersenyum menatap ke arahku.
Aku hanya mengangguk dengan terus memperhatikan perubahan wajah Bima yang kelihatan tegang setelah tersenyum.
Setelah membayar di kasir,aku memutuskan untuk pulang bersama dengan Bima,karena ini adalah kesempatan agar Adel bisa berduaan sama Kenzo.
Tapi sebelum itu,kami mampir dulu ke sekolah buat ngambil motornya Bima.
Suasana didalam taksi sangat sepi,sesekali aku menatap wajah Bima yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Taksi yang kami tumpangi berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang sudah sunyi,tampak pak satpam melihat kearah kami dengan sebuah senyuman.
"Sama sama."
Aku menunggu didepan gerbang,sementara Bima masuk ke parkiran untuk mengambil motornya.Dia langsung menyodorkan helm kepadaku begitu sampai di sampingku.
"Kami pergi dulu pak,sekali lagi makasih ya "Ucap Bima begitu aku sudah naik di atas motornya.
"Sama sama,hati hati di jalan,jangan ngebut "
Kata pak satpam sambil mengangkat tangan kanannya ke arah kami.
Bima memacu motornya membelah jalanan,aku memegang pinggang Bima dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Coro,kita makan dulu yah,aku lapar banget."
Kata Bima yang kemudian berhenti di warteg tempat kami makan malam itu.
Begitu turun dari motor,Bima mnggenggam tanganku dan masuk kedalam warteg,kami duduk dan memesan makanan.
"Bim,aku boleh tanya sesuatu nggak ?"
"Boleh,tanya apa"
"Sebenarnya kamu dan Kenzo lagi bahas soal apa sih tadi ?kayaknya kamu terpengaruh banget dengan kata kata Kenzo waktu kita lagi ada di toko buku tadi "
"Masa sih ?Nggak penting,cuman masalah antar sesama lelaki."
"Beneran nggak ada apa apa ?"Tanyaku lagi sambil mengambil pesanan yang sudah datang di meja kami.
"Makasih ya mas"
"Sama sama neng."
Bima mulai memakan makanan yang ada didepannya karna memang saat ini dia kelihatan sedang kelaparan.
"Kamu nggak mau makan ?"tanya Bima dengan tersenyum seakan dirinya baik baik saja.
Aku mengikuti perintah Bima dengan memakan makananku tanpa bertanya apapun lagi.
Selesai makan kami pulang,begitu sampai depan rumahku,Bima turun dan membantuku membuka helm yang kupakai.
"Makasih ya Bim "
Bima hanya mengangguk sambil mengusap kepalaku dengan tangannya,aku sangat senang dengan perlakuan Bima padaku.Sementara banyak pasang mata yang sedang mengawasi kami dari kejauhan.
Ada Barata yang melihat kami dari halaman rumahnya,karena saat ini dia sedang main basket,namun ada juga sepasang mata lagi yang sedang mengintip dari salah satu jendela kamar yang berada di rumahku.
"Masuklah"Kata Bima sambil melambaikan tangannya.
Begitu aku masuk kedalam rumah,Bima menyalakan motornya lagi dan masuk ke pekarangan rumahnya.
Sudah berhari hari dia tak berbicara dengan Barata kakaknya.Begitu dia memarkirkan motornya,dia menangkap bola yang kebetulan terlempar ke arahnya.
Kedua kakak beradik itu sekarang bermain basket bersama,tapi permainan Barata tidak seperti biasanya,kali ini dia begitu kasar,sampai Bima beberapa kali jatuh karena disenggol olehnya.Tapi Bima tak marah ataupun kesal,dia sangat tau kalo saat ini kakaknya sedang marah padanya gara gara masalah hati,jadi Bima tetap melayani kekasaran Barata dengan terus berusaha untuk menang darinya bagaimanapun caranya.Sampai akhirnya kedua kakak beradik itu berbaring dilantai lapangan karena sama sama lelah dengan permainan itu.
"Maafin aku ya Bim "Kata Barata dengan napas yang tersengal sengal.
"Maaf untuk apa ?seharusnya aku yang minta maaf sama kak Bara."Jawab Bima sambil memalingkan wajahnya menatap kakaknya.
"Kamu nggak salah Bim.Cinta emang nggak bisa dipaksakan.Nyatanya dia lebih memilih kamu,jadi aku akan mundur."Kata Barata sambil bangun duduk dan membuka telapak tangannya untuk membantu Bima bangun.
"Tapi kamu harus ingat satu hal dengan pasti,bahagiakan dia karena jika dia menderita selama bersamamu,aku akan merebutnya kembali."Kata bara yang entah berkata serius atau hanya candaan,tapi mampu membuat Bima terhenyak seketika.
"Aku nggak bakalan kasih kakak kesempatan untuk mencurinya dariku,karna aku bisa pastikan dia nggak bakalan pernah kehilangan senyumannya saat bersamaku."
Kata Bima dengan bangganya.
"Sejak kapan kamu jadi puitis gini ?"
"Sejak mengenal cinta,mau aku ajarin ?"Canda Bima.
Bara merangkul leher Bima,mereka tertawa bersama,satu beban yang ada di hati Bima terselesaikan dengan sikap kakaknya yang bisa dengan lapang menerima kekalahan.
Namun saat ini,masalah yang mengganggu pikirannya adalah Kenzo Chandra.Si murid pindahan yang kelihatannya sedang berusaha mendekatiku,setidaknya itu yang dilihat dari kaca mata seorang Bimantara Indrawan.