
Tak terasa tiga tahun telah berlalu semenjak kejadian naas itu terjadi.Mereka yang mengenalku mengira kalau aku sudah meninggal,sebab semua orang yang sayang padaku telah berusaha untuk mencari keberadaan diriku dengan berbagai cara.
Tapi semua usaha mereka nihil,sampai saat ini aku tak dapat ditemukan dimana pun,bahkan selama setahun penuh,gambar wajahku terpampang hampir di semua sudut kota dan di siarkan di berita televisi dengan tema pencarian orang yang hilang.Namun tak ada satu pun kabar dari orang orang yang tahu tentang keberadaanku atau sekedar pernah melihatku.
Seiring berjalannya waktu,mereka mulai menerima kepergian ku,tapi tidak dengan Bima.Dia yakin di suatu tempat entah dimana,aku masih benafas dan baik baik saja.
Dia akan terus menanti sampai takdir membawaku kembali padanya.
🌼🌼🌼
Bima menatap pantulan dirinya di cermin yang memperlihatkan wajahnya yang dipenuhi dengan raut kesedihan.
Saat kehilangan diriku dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu,dia tak seceria dulu lagi.Tak ada lagi senyuman yang selalu menghias bibirnya,semuanya menghilang.
Seperti orang gila,Bima mencoba tersenyum dan menampakkan kembali wajah sedihnya pada cermin.Ternyata,tersenyum lagi tidak semudah yang dia bayangkan.
Kita akan tersenyum ketika kita benar benar merasakan kebahagiaan.Tidak ada senyum yang bisa di paksakan.Kalaupun ada,tetap akan terlihat berbeda dan aneh.
"Corona,ternyata sangat sulit untuk tidak bersedih ketika mengingat dirimu.Walau mungkin semua orang sudah menganggap kamu tiada.Tapi aku yakin di suatu tempat yang jauh disana,kamu akan berusaha bertahan hidup demi diriku.Cepatlah kembali,,,aku sangat merindukanmu."Ucap Bima pada pantulan dirinya di cermin dengan mata yang berkaca kaca.
Bima berusaha menutupi semua rasa yang berkecamuk di hatinya.Begitu berat rasa rindu yang telah lama tertancap dalam hatinya.Mungkin,hari ini akan menjadi hari yang cukup melelahkan baginya untuk menjadi mahasiswa baru.Mengingat dia seperti raga tak bernyawa saat melewati masa SMA tanpa diriku di sisinya.
Bima merapikan baju yang dia kenakan,menata kembali rambutnya yang masih acak acakan kemudian turun ke lantai bawah menuju meja makan.
Disana sudah ada Bara yang menyiapkan semuanya,semenjak kehilangan diriku,Bima jarang sekali keluar kamar walau hanya sekedar berbicara basa basi dengan Bara seperti dulu,sehingga Bara harus melakukan semuanya sendirian.
Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya untuk melukis.Setidaknya,hanya melukis yang bisa mengobati kesedihan di hatinya,hal itu yang membuatnya terus melukis diriku dalam kanvas putih yang dia goreskan hampir di setiap malam.
Semua hal yang pernah kami lalui bersama selalu dia abadikan di dalam lukisan agar tak satupun kenangan yang kami lewati terlupakan walau dengan seiringnya waktu berlalu.
Tak ada percakapan yang berarti saat di ruang makan,karena Bima lebih banyak diam dan fokus dengan makanan yang ada di depannya.Seperti hari hari biasanya,mereka selalu berdua saja saat duduk di meja makan,karena sang ayah sering tak berada di rumah,mengurus bisnis keluarga mereka yang mempunyai cabang di luar kota atau bahkan sampai keluar negeri.
Setelah selesai makan,Bima berangkat ke kampus menaiki sepeda motor yang sering dia gunakan saat masih SMA dulu.
Sepanjang perjalanan,matanya sedikit berkaca kaca membayangkan bagaimana masa masa kuliah nya akan begitu sepi tanpa diriku.
Banyak sekali mahasiswa baru yang berdatangan memasuki halaman tempat parkir kampus baru nya,tapi tak terbesit keinginan dalam hatinya untuk bertegur sapa dengan siapapun yang di jumpainya.
Semua mahasiswa sudah berkumpul di AULA kampus,termasuk Bima.Dalam keramaian seperti ini,dia tetap merasakan kesepian dalam hatinya.Tak sedikit dari mahasiswi yang terpana saat Bima berjalan melewati mereka,tapi tetap tak di gubris sedikitpun olehnya.
"Bima !"
Seseorang dari jarak yang lumayan jauh memanggilnya.Bima melihat ke kanan dan ke kiri mencari orang yang memanggilnya.Dalam hatinya ingin suara yang mengusik gendang telinganya adalah suaraku,mungkin dirinya akan menjadi orang yang paling bahagia saat ini.
"Bima kan ?"tanya seorang gadis begitu dia sudah berada dekat dengan Bima.
Gadis itu meyakinkan dirinya kalau memang benar orang yang sedang berada di hadapannya adalah Bimantara Indrawan yang dia kenal.
Bima menatap bingung sambil menganggukan kepalanya untuk membenarkan pertanyaan gadis itu.Tapi bagaimana dia bisa tau namanya ?sedang Bima tak pernah merasa mengenalnya.
Setahunya,tidak ada yang mengenalnya kecuali Teman sekelasnya dulu.Dan seingat Bima,perempuan ini bukanlah salah satu teman sekelasnya.
"Kamu nggak ingat sama aku ?"Tanyanya lagi.
Bima menggeleng.
"Siapa kamu ?Tanya Bima.
"Sudah aku duga kamu pasti nggak ingat sama aku !"Perempuan itu tertawa cengengesan.
Bima mulai bingung kenapa gadis ini bisa mengenal dirinya,padahal dia sama sekali tak ingat pernah bertemu dengan gadis ini.
"Aku Laras,yang kamu tabrak tempo hari di tempat kursus melukis,masih ingat ?Aku juga ikut kelas yang sama denganmu "
Senyumnya menghilang ketika yang diharapkan ternyata salah,dia langsung memalingkan pandangannya.Sekali lagi dia harus menelan kekecewaan.Dia tak merasa harus mengenal siapapun walau dia mengingat kejadian yang di ceritakan Laras padanya.
Hari pertama terasa lancar,pihak kampus hanya menyampaikan apa saja yang harus di sediakan mahasiswa baru,semua itu cukup membuat Bima sibuk dan melupakan sejenak tentang kesedihannya.
Saat ini,Bima sedang menikmati segelas jus stroberi dingin ditemani Laras teman barunya.Bisa dikatakan teman karena Laras selalu mengekor kemana Bima pergi,namun Bima tak ambil pusing.Bima meneguk pelan minumannya menikmati setiap rasa manisnya.Semanis kenangan saat sedang bersama denganku yang sepakat menjadikan jus strobery sebagai minuman favorit kami berdua.
Dengan sebuah senyuman Bima menatap ke jalanan yang ada di samping kampus sambil melamunkan wajahku yang tertawa bersamanya kala itu sambil memegang gelang kain yang bertengger di pergelangan tangan kanannya.
"Ternyata senyuman kamu manis juga "Ucap Laras terkekeh memandangi Bima.
Bima memalingkan sejenak tatapannya pada Laras dan menatap jalanan kembali,tapi kali ini tanpa sebuah senyuman melainkan wajah yang datar seperti biasa.
"Kok manyun lagi,jelek tau !"Ledek Laras sok manja.
Bima berdiri dari duduknya berusaha untuk pergi tapi di cekal oleh tangan mungil Laras.Bima merasa tak nyaman dengan orang yang terlalu banyak bicara.Bukannya apa apa,tapi Bima belum sanggup membuka dirinya lagi untuk berteman dengan siapa pun.
"Kamu mau kemana ? masa gitu aja marah !"
Ucap Laras ikut berdiri dengan tangannya masih memegang tangan Bima.
Bima menghempas tangan Laras pelan agar dia tak merasa malu karena saat ini mereka sedang ditonton oleh penghuni kantin yang lain.
"Mau pulang"Ucap Bima singkat dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Aku ikut !"Ucap Laras sembari berlari kecil mengimbangi langkah Bima yang cepat.
Langkah kakinya terhenti ketika dia melihat seseorang yang sangat dia kenal.Sosok yang sangat mirip dengan orang yang dia rindukan.
Air matanya menetes di saksikan oleh Laras yang bengong melihat Bima yang tertawa sambil mengusap dua kristal bening yang jatuh dengan sendirinya tanpa permisi.
Ketika hendak mengejar,sosok itu sudah menghilang di antara kerumunan orang.Tubuh Bima bergetar hebat,berlari sampai menabrak beberapa orang yang menjadi penghalang tujuannya.
Laras yang tak tau apa apa ikut mengejar Bima sembari sibuk meminta maaf pada orang orang yang ditabrak Bima.
Sesampainya di depan jalan raya,dengan nafas yang masih ngos ngosan,Bima melihat kesana dan kemari mencari keberadaan sosok itu yang dikiranya adalah aku.Namun sayang,dia tak menemukan apa yang dia cari.
"Aku tau kamu masih hidup,dan akan kembali padaku."Ucap Bima dengan tawa lebar walaupun dengan sedikit rasa kecewa karena tak sempat bertemu denganku.