
Hari masih terlalu pagi saat Bima melihat Laras berbincang dengan Barata dari atas balkon kamarnya.
Sedang apa gadis itu ada di rumahnya sepagi ini.Lagi pula,ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kampus.
Ternyata Laras tak menyia nyiakan kesempatan untuk mendekati Bima,setelah melihat kejadian kemarin,Laras memutuskan untuk membantu Bima menemukan orang yang sudah membuat Bima berlari seperti kesurupan karena mengejarnya.
Bima tak ambil pusing dengan keberadaan Laras,dia tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Selesai mandi,dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya dan sebuah handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya,Bima melihat Bara berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya dan bersandar pada tiang pintu.
"Bim,,apa kamu kenal sama Laras ?"Tanya Bara.
"Untuk apa aku harus mengenalnya ?"Jawab Bima jutek tanpa ekspresi.
"Jadi kamu mengenalnya,,dia tinggal didepan rumah kita.Tadi dia mampir untuk menyapa.Dan katanya,kalian satu kampus."
"Apa urusannya denganku.Sudahlah kak,aku nggak mau membahas orang yang tak penting."
"Dia hanya khawatir padamu,karena kemarin dia melihat kamu mengejar seseorang seperti orang gila "
Bima tak menghiraukan perkataan Bara,dia tetap sibuk bersiap siap ke kampus.Setelah merasa sudah sempurna,dia segera melangkahkan kakinya menuju ke luar pintu kamar tapi di tahan oleh Bara.
"Siapa dia Bim?"
"Apa maksudmu ?"
"Orang yang kamu kejar ?"
Bima menatap tajam mata Barata,dia merasa tak perlu memberitahu apapun padanya.Walaupun dia mengatakan kalau dia melihatku,Bara tak akan percaya begitu saja.
Karena bagi semua orang,aku sudah mati.Hanya Bima yang menganggap aku masih ada dan hidup bahkan sampai saat ini.
"Apa kakak akan percaya padaku kalo aku bilang aku melihat Corona ?"
Bara tertawa namun jelas sekali kalo dia sangat khawatir dengan keadaan Bima yang sudah semakin parah menurut penglihatannya.
Dia beranggapan kalau penyakit Bima setahun yang lalu kumat lagi,waktu itu Bima hampir ditabrak oleh sebuah taksi karena menyebrang jalan sembarangan.Pasalnya saat itu dia melihatku sedang berdiri di sebrang jalan bersama seorang pria sambil tertawa lepas.
Untung saja saat itu,Bara bersamanya dan sempat menariknya ke tepi jalan saat hampir tertabrak mobil.Bima bukannya berterima kasih pada Bara tapi dia malah memukulnya dan menyalahkan kakaknya itu karena gara gara Bara dia sampai kehilangan kesempatan untuk menemukanku.
Ayah mereka sampai membawa Bima ke psikiater untuk mengecek kestabilan mental anaknya.Hidup Bima benar benar kacau selama tiga tahun terakhir.
"Bim,,,sampai kapan kamu akan terus seperti ini.Dia sudah -"
"Jangan pernah katakan kalo Coronaku sudah mati,atau aku benar benar tak akan pernah memaafkan kakak di sisa hidupku."Kata Bima sembari menghempas tangan Bara yang masih berada di pundaknya.
"Suatu saat akan aku buktikan kalau dia masih hidup dengan membawa nya ke hadapan kalian semua "Ucap Bima yang langsung melangkah keluar kamar meninggalkan Bara yang masih mematung ditempatnya berdiri.
Bima memacu laju motornya meninggalkan halaman rumahnya,dia bahkan cuek bebek saat berpapasan dengan Laras yang sedang menunggu taksi di depan rumahnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Halaman kampus sangat luas dengan hamparan rumput hijaunya seperti karpet.Bima yang sedang kalut merebahkan dirinya berbantalkan lengannya tiduran menatap langit sore yang mulai berwarna kemerahan.
Setelah pertengkarannya dengan Bara tadi pagi,dia jadi tak berselera untuk cepat pulang ke rumah.Padahal mata kuliahnya sudah selesai dari siang tadi.
Seseorang datang dan menghalangi pantulan cahaya matahari yang terpancar langsung ke wajah Bima sehingga membuat Bima bangkit dari tidurnya dan duduk.
Baru saja Bima akan berdiri meninggalkan tempatnya,Laras sudah lebih dulu duduk di sampingnya.
"Kenapa ? mau melarikan diri lagi seperti kemarin."Ucap Laras sambil Memandang wajah Bima yang sudah ditekuk sedari awal Laras datang.
"Apa mau kamu?kenapa kamu selalu menggangguku ?"
"Kalo jadi orang itu jangan kepedean,siapa juga yang mau mengganggumu !"
"Kalo bukan mengganggu,terus apa namanya.Kamu selau ada di manapun aku berada."Ucap Bima ketus.
Bima tak fokus mendengarkan ocehan Laras,karena matanya menangkap bayangan diriku sedang berjalan melewati koridor kampus sambil tersenyum kepada para mahasiswa yang lain.Dengan cepat Bima bangkit berdiri menyambar tasnya yang terletak di atas rumput dan berlari mengejarku.
Laras pun berlari mengejar Bima sama seperti hari kemarin.Dengan nafas yang masih menderu hebat,Bima celingak celinguk mencari keberadaan diriku.Dia sangat yakin kalo dia tadi melihatku.
Dia percaya kalau kali ini dia tidak berhalusinasi,karna jujur waktu rasa rindunya terasa berat menggerogoti hatinya,dia sempat melihatku ada dimana mana.Tapi ini terasa begitu nyata.
Jarak yang ditempuh Bima memang lumayan jauh,sehingga begitu dia berada di koridor kampus aku sudah pergi dari sana.
Memang benar kalau Bima tidak berhalusinasi,aku mendaftar di kampus yang sama dengan Bima karena ini merupakan satu satunya kampus yang menjadi impianku sejak dulu.Mendalami tentang seni lukis yang sudah mendarah daging dalam diriku.
Dengan nafas yang masih ngos ngosan,Bima mengepalkan tangannya dan menonjok dinding ruangan berulang kali karena tak berhasil menemukanku.
"Stop Bim,apa yang kau lakukan."Teriak Laras yang menarik tangan Bima ketika dia melihat darah segar mengalir di jemari Bima.
Tanpa mempedulikan Laras yang kesakitan,Bima terus berlari mencari keberadaan diriku yang menghilang dari pandangan matanya,sedang Laras tetap mengikutinya walau dengan rasa sakit di tangannya.
Pencarian terakhir berujung di tempat parkir kampus,dimana Bima bisa mencariku di area kampus yang sebesar ini.
Kekesalan mulai menjalar dihatinya apalagi melihat Laras yang terus saja mengikutinya.
"Kenapa kamu terus mengikutiku ?"Bentak Bima tanpa mempedulikan rasa malu yang dirasakan Laras karena menjadi tontonan mahasiswa yang lain.
Laras tak perduli dengan teriakan Bima padanya,dia tetap mencoba meraih tangan Bima dan ingin mengobati tangannya yang luka.Walaupun tanpa dia sadari tangannya membiru akibat kepentok tadi.
Namun Bima tetap tak mau menerima kebaikan hati Laras ,dia menarik tangannya dan meninggalkan Laras,menuju ke motornya dan memacu motornya di depan Laras yang hanya berdiri diam begitu Bima lewat di depannya.Laras sempat terhuyung kebelakang karena Bima hampir saja menyenggolnya dengan sepeda motor.
Untung saja dengan cepat dia menghindar dan seseorang membantu Laras berdiri kembali dengan tegap karena hampir terjatuh.
"Kamu nggak apa apa ?"Tanya Abrary.
Laras menghapus air matanya,dia tak bisa menahan kesedihan akibat perlakuan Bima padanya.
"Aku baik baik saja.Terima kasih sudah menolongku."Balas Laras sambil mencoba tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
Abrary mengajak Laras duduk di bangku taman dekat parkiran.
"Mahasiswa disini ?"Tanya Laras.
Bukan Laras namanya kalau nggak cepat akrab sama orang,bahkan sama orang yang baru ditemuinya.
"Bukan,aku sudah kerja."
"Atau kamu seorang dosen ?"Tanya Laras lagi.
semakin penasaran.
"Bukan juga."Jawab Abrary sambil menggeleng kepalanya.
"Bukan mahasiswa dan bukan juga dosen.Oohh aku tau sekarang,,,,,kamu pasti satpam kampus.Aku benar kan ? Kali ini pasti nggak salah,,,iya kan ??"Ujar Laras.
Wajah Abrary mulai merona,dia menggaruk pangkal kepalanya yang tidak gatal.
Melihat perubahan wajahnya Abrary,Laras diam sejenak.
"Aku salah lagi yah ?"Tanyanya dengan suara sedikit pelan sambil cengengesan.
"Kalo bukan semuanya,terus kamu sedang apa di sini ?"
"Aku kesini menjemput pacarku yang juga kuliah disini."
"Oooohhhh,,,,,maaf.Sudah semester berapa pacarmu ?"
"Baru masuk tahun ajaran ini.Dia ngambil jurusan seni karena sangat hobi melukis."
"Sama dong,aku juga mahasiswi tahun ajaran baru dan ngambil jurusan seni.Mudah mudahan kami bisa akrab seperti aku dan kamu.Ohh ya,,,aku Laras."Ucap Laras sambil menjulurkan tangannya ke arah Abrary.
"Aku Abrary"Balas Abrary menyambut jabatan tangan Laras.
Laras meringis kesakitan saat Abrar menggenggam tangannya,dia lupa kalo tadi tangannya kepentok tong sampah.
"Aww,,,,"Ringis Laras sambil menarik tangannya yang berwarna sedikit kebiruan.
"Kenapa,,,,,terlalu erat yah genggamanku ?"
"Nggak apa apa,tanganku sedikit sakit karena tadi kepentok."
Dering ponsel Abrary menggema.Dengan sigap dia merogoh kantong sakunya,mengambil ponselnya dan menjawab panggilanku.
"Kamu dimana ?aku udah di depan pos satpam nih."Ujarku mencari keberadaan Abrary.
"Aku ada di taman samping parkiran,kamu kesini aja,entar aku kenalin sama seseorang."
"Siapa ?"
"Ada deh,,,nanti juga kamu tau."
"Ok,,aku ke sana."
Aku melangkah melewati parkiran kampus yang sudah nggak telalu ramai,mencari dimana letak taman yang dimaksudkan Abrary sampai aku melihat dia melambaikan tangan padaku untuk memberitahu keberadaannya.
Siapa wanita cantik yang sedang bersama dengan Abarary saat ini ?